109 Tahun Perguruan Thawalib dalam Mencetak Tafaquh Fiddin


Rabu, 17 Juni 2020 - 07:58:32 WIB
109 Tahun Perguruan Thawalib dalam Mencetak Tafaquh Fiddin

Mulanya adalah pengajian tradisional di Surau Jembatan Besi Padang Panjang di akhir abad 19. Pengajian surau yang sekarang dikenal sebagai Masjid Jembes, Masjid Jembatan Besi, para murid berkumpul mengelilingi guru nya. Tidak ada kelas, tidak ada pembatasan umur juga tidak ada kurikulum. Semua murid, semua umur berkumpul bersama mengkaji satu kitab dibawah bimbingan seorang guru. 


Oleh : Delianur
(Alumni Perguruan Thawalib)


Pola tradisionil ini sepertinya menjadi bahan pemikiran beberapa tokoh. Abdul Karim Amarullah, Abdullah Ahmad, dan Zaenuddin Labay El Yunisi mempunyai ide untuk mereformasinya. Memasuki abad 20, tahun 1911, ketiganya lalu memperkenalkan sistem pendidikan terbaru. Dalam sistem baru, diperkenalkan sistem kelas, ranking, juga kurikulum dibawah nama Perguruan Thawalib Padang Panjang.

Meski mungkin tidak akurat dan terkesan berlebih-lebihan, Sunil Soraya dalam film Tenggelamnya Kapal van der Wijk, menggambarkan kemodernan Thawalib Padang Panjang dalam bentuk santrinya yang sedang menerima raport dan berpakaian Jas. Tenggelamnya Kapal van der Wijk sendiri adalah adaptasi dari Novel berjudul sama karangan Buya Hamka, anak dari Abdul Karim Amarullah pendiri Thawalib. Dalam Novel itu, Buya Hamka menyematkan Zainudin sebagai pemuda ahli Agama lulusan Pesantren Thawalib.

Pastinya akan ada banyak tafsir spekulatif kenapa sistem ini menjadi landasan utama. Karena pendirinya adalah para agamawan, bisa jadi pendekatan sistem ini adalah manifestasi pemahaman pendirinya pada Quran Surat As-Shaf ayat 4 yang mengingatkan bahwa: “Innallāha yuḥibbullażīna yuqātilụna fī sabīlihī ṣaffang ka`annahum bun-yānum marṣụṣ”, Bahwa Allah itu menyukai hambanya yang berperang di jalan-Nya dengan cara berbaris rapi seperti bangunan kokoh yang saling menguatkan satu dengan lainnya. 

Bisa juga ada tafsir spekulatif lainnya. Bahwa pendekatan sistem ini diambil dari sejarah perjuangan umat Islam masa Nabi dan masa-masa awal pasca Nabi meninggal. Dimana menurut banyak sejarawan, karakter dasar perjuangan Islam pada waktu itu adalah adanya pengorganisasian yang tertata dengan rapi dan sistematis. 

Lepas dari ragam tafsir yang muncul, berpuluh tahun kemudian pentingnya pendekatan sistem ini mendapat rujukan secara teoritik. Ada banyak riset dari universitas di Barat tentang pentingnya pendekatan sistem dalam mencetak manusia unggul. Misalnya seperti ketika Beatrice G. Schultz dalam bukunya Communicating in The Small Group mengurai teori-teori Leadership. 

Menurut Schultz, awalnya para akademisi mencoba meneliti para pemimpin dunia seperti Napoleon Bonaparte, Hitler untuk melihat seperti apakah pemimpin itu. Akhir dari penelitian ini menyimpulkan bahwa seorang pemimpin itu tidak mempunyai ciri dasar yang menjadi pegangan. Berperawakan tinggi dan gagah memang akan melahirkan penghargaan bagi khalayak banyak. Sesuatu yang dibutuhkan seorang pemimpin. Namun Napoleon justru berbadan pendek tapi diantara pemimpin yang diperhitungkan. Karenanya menurut para peneliti, seorang pemimpin itu sudah lahir dari sananya. Kepemimpinan itu bawaan. 

Dalam sepakbola misalnya. Maradona adalah seorang pemimpin. Dia bukan hanya berhasil membawa negaranya juara dunia dan setiap klub yang dia bela berprestasi, tapi juga bisa membawa Sepakbola menjadi lebih atraktif. Namun postur Maradona itu pendek, perutnya cenderung buncit, dan perilakunya ugal-ugalan. Bikan tipikal olahragawan. Hal yang bisa menjelaskan fenomena Maradona adalah karena dia memang terlahir untuk Sepakbola. Darisananya dan sudah bawaan. Trait approach, pendekatan bawaan. Begitu para peneliti menyebutnya. 

Pasti ada banyak pertanyaan terhadap Trait Approach. Seperti, kalau pemimpin dilahirkan, berarti kita hanya pasif menunggu perubahan sosial. Karena perubahan sosial selalu membutuhkan pemimpin. Pertanyaan ini koheren dengan penelitian berikutnya. Bahwa dilihat dari situasi maupun fungsi, teridentifikasi karakter-karakter seorang pemimpin yang pada dasarnya bisa dibentuk. Seperti pemimpin itu pengayom, visioner, dan komunikatif. Train approach, begitu orang menyebut temuan ini. Karena menurut perspektif ini pemimpin itu bisa dibentuk melalui proses training dan pendidikan.

Atas dasar itulah lahir modul-modul pendidikan dan pelatihan untuk membentuk seseorang menjadi pemimpin. Semuanya disusun secara terstruktur dan sistematis. Skema pelatihan dan pendidikan untuk menjadi pemimpin perusahaan berbeda dengan pemimpin birokrasi. Begitu juga rancangan pendidikan pelatihan untuk pelajar berbeda dengan mahasiswa. 

Dalam perspektif sistem, orang Argentina tidak perlu menungu waktu lama ketika era kepemimpinan Maradona habis. Mereka menemukan figur baru pada Riquelme atau  Messi. Namun tidak seperti Maradona, Messi adalah pemimpin Sepakbola yang lahir melalui proses pelatihan dan pendidikan yang terstruktur dan sistematis. Messi mengikuti pendidikan sepakbola mulai dari kelas anak-anak sampai kelas dewasa. Setiap jenjang ada kejelasan apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Kapan waktu dan cara tepat mempelajari dribbling, passing atau heading. Lengkap dengan panduan nutrisi yang mesti dia konsumsi. 

Pastinya menyusun sebuah sistem tidaklah mudah. Sistem kelas, kurikulum, bangku, raport mungkin termutaakhir pada 1900an. Namun ketika sosiolog menemukan birokrasi dan ekonom memperkenalkan manajemen sebagai cara mengelola organisasi, sistem yang diperkenalkan para pendiri Thawalib menghendaki pembaharuan. Sekolah tidak hanya harus mempunyai manajemen kepegawaian yang membuat mereka bisa menguras seluruh kemampuannya, tetapi juga sistem keuangan yang menghindarkan gangguan syak wasangka yang merusak kerja.

Di era cloud computing dengan hegemoni negara yang makin menguat, Thawalib menghadapi masalah yang lebih rumit. Di satu sisi para pengelola mesti familiar dengan teknologi infomrasi yang menuntut kecepatan dan ketepatan. Namun disisi lain harus familiar juga dengan logika birokrasi yang rumit dan lambat. Malah kebijakan terbaru negara yang melahirkan UU No 18 tahun 2019 tentang Pesantren, bukan hanya memaksa pengelola familiar dengan pemerintah daerah, tetapi juga familiar dengan lembaga pengawasan seperti BPK. 

Itu baru dari sisi manajemen pengelolaan lembaga. Kita belum berbicara tentang metodologi pendidikan dan pengasuhan di era konvergen. 

Di era divergen, matematika itu belajar berhitung, mantiq belajar logika, balaghah belajar mencerna keindahan bahasa, dan coding belajar program komputer. Semuanya dibuat terpisah tidak berkaitan. 

Namun di era konvergensi semuanya adalah kesatuan. Bukan hanya serial film fiksi Numb3rs saja yang mengatakan bahwa dalam Matematika ada keindahan angka, tapi filsuf dan matematikawan seperti Bertrand Russel pun mengatakan“Mathematics, rightly viewed, possesses not only truth, but supreme beauty”. Senada dengan Archimedes yang mengatakan “Mathematics reveals its secrets only to those who approach it with pure love, for its own beuty”. Coding memang belajar program komputer. Namun Steve Jobs mengingatkan “Everyone should know how to program computer, because it teachs you how to think” 

Karenanya Matematika semestinya tidak lagi diposisikan belajar berhitung, tapi gerbang mempelajari keindahan dalam Balaghah. Coding bukan hanya belajar menyusun program komputer, tapi mendekatkan murid mempelajari Mantiq yang mengajarkan sistematika berpikir. Bila dalam bahasa terkandung budaya dan struktur sosial, maka belajar bahasa Arab bukan lagi belajar bahasa Asing, tapi belajar budaya dan struktur sosial.

Dalam Biologi disebut tentang adanya DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) atau Asam Deoksiribonuklea. Sejenis biomolekul yang menyimpan dan menyandi instruksi-instruksi genetika setiap organisme dan virus. Asam ini berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan fungsi organisme dan virus. Maka bila Thawalib itu sebuah organisme, mungkin itulah DNA Thawalib; sistem. Lembaga ini mesti mempunyai sistem yang terstruktur, terukur dan sistematis baik dalam manajemen kelembagaan maupun pengajaran. 

Hanya harus diingat bahwa ketika perspektif sistem ini dipakai pendiri, dan terbukti efektif pada masa-masa awal, sistem ini tidak dibangun begitu saja. Ada faktor sosial budaya yang mengirinya sehingga pendekatan sistem ini menjadi efektif. Perihal faktor sosial budaya inilah yang menarik untuk ditelisik lebih jauh. 

Bila sebuah organisasi terdapat pengikut, pelaksana dan pemimpin, adalah hal menarik bila kita melihat konsepsi kepemimpinan bagi masyarakat Sumatra umumnya dan Minangkabau khususnya. Tempat dimana Perguruan Thawalib Padang Panjang berdiri, dan Gerakan Sumatra Thawalib digaungkan. 

Untuk melihat konsepsi kepemimpinan masyarakat Sumatra, Almarhum Kuntowijoyo, cendikiawan muslim dan Guru Besar Ilmu Sejarah di UGM, mengkontraskannya dengan konsepsi kepemimpinan Jawa. Dalam bukunya yang sudah menjadi klasik, Paradigma Islam; Interpretasi Untuk Aksi, Almarhum mengatakan bahwa konsepsi kepemimpinan masyarakat Jawa adalah kemutlakan. Dalam babad jawa, pemimpin digambarkan sebagai penerima wahyu sehingga dia dianggap sebagai wakil tuhan dimuka bumi. Karenanya ucapan pemimpin adalah “Sabda Pandita” yang harus dituruti. Pemimpin adalah orang yang mesti dipatuhi. 

Konsepsi ini berbeda dengan masyarakat Sumatra. Orang Aceh menyebut pemimpin sebagai almalikul adli pemimpin adalah keadilan. Sementara orang Minangkabau mengatakan bahwa pemimpin itu adalah orang yang didulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Karenanya dalam konsepsi masyarakat Sumatra muncul istilah “Raji adil raja disembah, raja lalim raja disanggah”. Menurut Almahurm, konsepsi kepemimpinan seperti ini lebih demokratis dan egaliter. 

Dinamika sosial budaya inilah yang menurut kami menjadi alasan kenapa pendekatan sistem diterapkan. Pertemuan antara sistem dengan konsep kepemimpinan yang egaliter, ibarat pertemuan botol dengan tutup. Ketika solidaritas organisasi tidak bisa dibangun oleh mitos kepemimpinan yang mesti dituruti, solidaritas organisasi akan terbentuk bila ada sistem yang menjadi rujukan. Dalam masyarakat egaliter, rule of game itulah yang menjadi pegangan bersama. 

Mungkin dalam konsepsi inilah kita bisa memahami segala dinamika yang terjadi di Thawalib berkaitan dengan kepemimpinan. Dalam situasi ini juga kita bisa memahami perbedaan Thawalib dengan kebanyakan pesantren di Jawa. 
Sebagaimana biasanya, didalam Pesantren yang dikelola sedemikian banyak orang, akan selalu ada konflik didalamnya. Namun di Jawa, konflik itu tidak akan berlarut-larut karena ada otoritas tertinggi yang didengar. Ketika seorang Kyai nya memutuskan sesuatu, maka konflik berhenti. Dinamika berbeda dengan pesantren di Sumatra. Karena pemimpin tidak dianggap Wakil Tuhan, maka keputusan pemimpin bisa dibantah bila dirasa tidak adil. Masalah akan berlarut-larut manakala sistem, yang merupakan pasangan konsep kepemimpinan yang egaliter, juga tidak tertata dengan baik. 

Dalam konteks ini juga kita bisa memahami kenapa Thawalib tidak menjadi milik pendiri. Siapapun bisa mengelola sekolah ini selagi dia mampu dan sesuai sistem. Orang tidak mengenal Buya Hamka sebagai pimpinan Thawalib, meski beliau adalah anak pendiri. Alm. Buya Mawardi memimpin Thawalib bukan karena beliau anak atau keponakan Angku Mudo Abdul Hamid Hakim. Situasi berbeda akan kita temukan di Jawa. Anak Kyai atau pendiri, selalu menjadi bagian dari Pesantren. Karenanya dalam banyak hal, Pesantren seperti menjadi milik Kyai dan keluarga. 

Mungkin setelah pendekatan sistem, maka konsep kepemimpinan yang egaliter inilah yang menjadi DNA Thawalib yang kedua. Sepertinya agak sulit mengatur Thawalib hanya berdasar kepada otoritas sebagai pucuk pimpinan tertinggi. Setidaknya kami sendiri sebagai alumni, sudah sangat familiar dengan jatuh bangun dan dinamika kepemimpinan yang ada di Thawalib. 

Terakhir... 

Dari urutan waktu, Thawalib didirikan 10 tahun setelah Belanda memperkenalkan Politik etis. Dalam politik etis, Belanda memperkenalkan tiga hal; Irigasi, membangun saluran air untuk mendukung aktivitas masyarakat bercocok tanam. Imigrasi, memindahkan penduduk ke sentra ekonomi baru.  Edukasi, perluasan pendidikan dan pengajaran. 

Namun seperti yang diketahui, politik etis disimpangkan. Edukasi yang bertujuan mengangkat harkat dan martabat Pribumi, berjalan sebaliknya. Lembaga penerbitan dibangun untuk meredam semangat nasionalisme. Pendidikan bagi masyarakat pribumi dilaksanakan untuk menghasilkan tenaga kerja murah untuk membantu pemerintahan kolonial Belanda. 

Namun bila kita membuka disertasi doktoral Alm. Deliar Noer di Cornell University tahun 1973 berjudul “Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942” cendikiawan muslim ini tidak melihat kaitan antara Politik etis Belanda dengan pendirian Thawalib School. Noer melihat Thawalib sebagai bagian modernisasi Islam di Indonesia. Hulunya bisa dilacak pada ide Pan Islamisme yang digulirkan Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Sebuah gerakan yang secara generik menyerukan kesatuan umat Islam dunia untuk melawan imperialisme dan kolonialisme yang waktu itu menguasai dunia Islam. Dalam pertengkaran politik terkini di tanah air, makna perjuangan tokoh ini direduksi menjadi gerakan anti keragaman dan anti toleran.

Semangat pendirian Thawalib adalah perlawanan terhadap kolonialisme. Ingin membawa masyarakat kepada kehidupan yang lebih adil dan bermartabat melalui pendidikan. Karenanya tidak salah bila pada masa-masa awal kemerdekaan, alumni nya urun rembuk dalam dinamika sosial politik merebut dan mempertahankan kemerdekaan. 
Ruh ini juga yang menjadi pembeda dengan kondisi sekarang. Pendirian Thawalib tidak ada kaitannya dengan komersialisasi pendidikan yang sedang marak sekarang. Idealisme pendirian Thawalib adalah mencetak orang yang tafaquh fiddiin dan tahu harus berbuat untuk masyarakatnya. 

Sepertinya inila warisan berharga para pendiri yang sudah menjadi ruh dan DNA Thawalib.  Thawalib School didirikan untuk menghasilkan orang yang menjadi pioner di tengah masyarakat dengan Agama sebagai landasan nilainya. Motif ini juga yang membuat penulis yakin bahwa tidak seperti sekolah lainnya yang hilang, sekolah ini akan tetap ada sampai kapanpun. 

Hanya saja antara Ada dan Mengada adalah dua hal berbeda. Ada adalah ketika sekolah ini masih rutin menerima murid baru, meluluskan muridnya, terdaftar dan ada aktivitas belajar mengajarnya. Namun Mengada berarti ketika proses penerimaan murid baru membutuhkan energi lebih karena animo masyarakat yang terus meningkat, santrinya dipercaya masyarakat sekitar, pengajarnya menjadi rujukan masyarakat, lulusannya melanjutkan ke jenjang lebih tinggi atau melanjutkan khidmatnya ke masyarakat. 

Semua pihak yang terkait dengan sekolah ini, pastinya akan sedih bila sekolah ini tidak ada. Tetapi kesedihan yang sama akan tetap dirasakan bila melihat almamater ini Ada tapi tidak Mengada. “Wujuduhu Ka’adamihi” 

Pastinya berat untuk menjadikan Thawalib “Mengada”. Tidak ringan. Butuh extra effort untuk sampai kesana. Namun masalah bukan sejauh mana kita akan berjalan, tapi kapan kita akan memulainya. Ribuan kilometer yang harus kita tempuh, selalu diawali dengan langkah pertama. Terlambat tidak selalu menjadi indikator ketertinggalan. Namun tidak kunjung melangkah selalu menjadi indikator ketertinggalan. 

Vivat Almamater....

loading...
 Editor : Heldi Satria

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]