Sedihnya Pelajar RI: Sekolah Dibuka Rasanya Tak Sama Lagi


Senin, 25 Mei 2020 - 15:48:48 WIB
Sedihnya Pelajar RI: Sekolah Dibuka Rasanya Tak Sama Lagi Sekolah di depok terapkan pencegahan virus corona.

HARIANHALUAN.COM - Walau wacana sekolah kembali dibuka dalam waktu dekat dibantah oleh Menteri Pendidikan, tetap saja bangku-bangku di ruang kelas akan terasa sangat berbeda kalaupun sekolah kembali dibuka nantinya. 

Baru-baru ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim membantah adanya informasi yang menyebutkan tahun ajaran baru akan dimulai pada Juni 2020. 

Saat ini Kemendikbud belum menentukan kapan dimulainya tahun ajaran baru sekolah pada 2020. Nadiem mengatakan masih belum bisa memberikan pernyataan resmi terkait keputusan tahun ajaran baru, karena dipusatkan di Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.

"Mohon menunggu dan saya belum bisa memberikan statement apapun untuk keputusan itu. Karena dipusatkan di gugus tugas. Mohon kesabaran. Kalau ada hoax-hoax dan apa sampai akhir tahun, itu tidak benar," kata Nadiem saat melakukan rapat kerja virtual dengan Komisi X, dikutip dari CNBC Indonesia, Jumat (22/5/2020).

Seperti diketahui bersama, semenjak wabah corona merebak di Tanah Air, pemerintah memutuskan untuk menutup sekolah. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang biasanya berada di ruang kelas kini harus berpindah ke rumah masing-masing dengan mengandalkan gadget. 

Sudah satu bulan lebih siswa sekolah dasar (SD) hingga mahasiswa menjalankan aktivitas belajarnya dari rumah menggunakan media daring (online) seiring dengan kebijakan social distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah di Indonesia untuk menekan penyebaran virus corona.

Bahkan pemerintah pun memutuskan untuk membatalkan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun 2020. Wabah corona telah merubah segalanya. Bahkan wajah pendidikan di dalam negeri.

Sudah hampir dua bulan berlangsung, wabah corona di Indonesia belum menunjukkan adanya tanda-tanda melandai. Bahkan dalam beberapa hari terakhir jelang lebaran jumlah kasus baru sempat melesat mendekati angka 1.000 dalam sehari.

Lonjakan kasus yang terjadi setidaknya diakibatkan oleh dua faktor. Pertama, pemerintah terus menggeber jumlah orang yang dites corona dan kedua adalah mulai naiknya intensitas mobilitas publik jelang hari raya Idul Fitri.

Bagaimanapun juga jika kasus tak segera melandai, akan sulit untuk membuka kembali perekonomian termasuk memperbolehkan siswa masuk sekolah. Sampai saat ini angka reproduksi efektif wabah (Rt) di berbagai daerah masih di atas 1.

Angka Reproduksi Efektif (Rt) Covid-19 di Indonesia

Padahal prasyarat aktivitas boleh kembali dibuka adalah ketika epidemi sudah dikontrol. Sementara indikator utama epidemi dapat dikontrol adalah angka Rt < 1 selama dua pekan berturut-turut dan konsisten.

Jika mengacu pada indikator itu saja, sebenarnya wacana kembali dibukanya sekolah memang belum saatnya. Namun jika sekolah terlalu lama dliburkan atau KBM masih menggunakan media online, dampak ekonomi dan psikologis yang dirasakan akan semakin signifikan.

Masa belajar di rumah melalui media online yang terlalu lama memiliki dampak yang buruk. Apalagi untuk sistem pendidikan di Indonesia yang masih diwarnai dengan ketimpangan yang tinggi dari segi infrastruktur dan teknologi digital.

Dampak negatif belajar di rumah yang terlalu lama paling dirasakan oleh siswa-siswi Tanah Air yang berada di pelosok dengan infrastruktur yang belum memadai hingga akses dan adopsi teknologi digital yang rendah. Padahal bagi siswa yang berada di perkotaan saja, KBM yang tidak kondusif ini juga membawa dampak negatif. 

Mengacu pada laporan Bank Dunia, sebelum terjadinya pandemi jumlah anak-anak yang berada di bawah usia 10 tahun yang belum mampu membaca dan memahami di negara menengah ke bawah sudah mencapai 53%. Adanya krisis kesehatan akibat virus corona ini jelas akan semakin memperburuk keadaan.

Isolasi membuat interaksi sosial menjadi menurun. Belajar di rumah yang terlalu lama sangatlah rentan memicu terjadinya kebosanan hingga stres. Stres yang berkepanjangan jelas berdampak pada penurunan produktivitas siswa.

Bahkan isolasi yang semakin lama bisa memicu dampak negatif yang lebih serius bagi semua orang dari berbagai kalangan usia tanpa terkecuali. Tak bisa dipungkiri karena manusia memanglah makhluk sosial. 

Hawryluck dkk mempelajari 129 orang yang dikarantina selama epidemi SARS pada tahun 2003. Hasil yang diperoleh ternyata menunjukkan adanya prevalensi tinggi terjadinya tekanan psikologis pada orang-orang tersebut.

Gejala Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) dan depresi ditemukan masing-masing 28,9% dan 31,2% terhadap responden yang disurvei. Durasi karantina yang lama dikaitkan dengan gejala PTSD.

Dalam sebuah studi lain yang dilakukan oleh Bai Y dkk, efek mental karantina meluas ke petugas kesehatan juga. Ini termasuk kelelahan, terlepas dari orang lain, kecemasan, lekas marah, susah tidur, konsentrasi yang buruk, keraguan, kinerja pekerjaan yang memburuk, dan keengganan untuk bekerja atau pertimbangan pengunduran diri.

Mengingat dampak negatif yang ditimbulkan sangatlah merugikan bagi siswa, sekolah, sistem pendidikan hingga perekonomian, maka pemerintah perlu fokus pada penanganan wabah agar kehidupan cepat kembali pulih. 

Namun rasanya, jika kasus sudah melandai dan sekolah bisa dibuka pun bangku-bangku di kelas akan terasa sangat berbeda. Bagaimanapun juga sebelum vaksin dan obat yang efektif untuk corona ditemukan, serangkaian protokol kesehatan masih akan dijalankan untuk menghindari potensi merebaknya gelombang kedua yang mengerikan.

Panduan untuk kembali dibukanya sekolah pada masa new normal masih akan tetap menggalakkan penerapan jaga jarak aman, pengecekan suhu, penggunaan masker hingga penerapan perilaku higienis.

Badan Perserikatan Bangsa-bangsa untuk kesejahteraan anak (UNICEF) sudah mengeluarkan panduan bagi negara yang ingin membuka kembali kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Panduan tersebut terdiri dari tiga tahap yaitu sebelum pembukaan, memasuki proses pembukaan, dan ketika pembukaan sudah dilakukan.

Pada dasarnya panduan tersebut berisi poin-pon yang harus dipersiapkan dalam setiap tahap pembukaan. Walaupun sudah 'dibuka' bukan berarti KBM seperti sedia kala akan langsung dapat diterapkan.

Masih banyak pembatasan-pembatasan yang harus diterapkan, termasuk di dalamnya shift waktu dan jumlah peserta KBM yang dibatasi untuk meminimalkan terjadinya kontak yang memicu penularan wabah. 

Hal ini berarti bahwa kehipan siswa-siswi Indonesia pada periode new normal pun akan jauh berbeda dari sedia kala yang dipenuhi dengan keramaian, kerumunan hiruk pikuk hingga canda tawa.

Miris memang. Namun mau bagaimana lagi, sekarang adalah saatnya untuk fokus pada upaya penanganan wabah untuk terus menekan jumlah kasus, sehingga periode pemulihan dapat berjalan lebih cepat. (*)
 

loading...
 Sumber : CNBC Indonesia /  Editor : Heldi Satria

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]