EKONOMI-POLITIK-BUDAYA MELAMPAUI COVID-19: MEMAHAMI DUNIA DAN MERAWAT INDONESIA


Senin, 16 Maret 2020 - 07:35:23 WIB
EKONOMI-POLITIK-BUDAYA MELAMPAUI COVID-19: MEMAHAMI DUNIA DAN MERAWAT INDONESIA


Oleh: Virtuous Setyaka

Lockdown artinya kuncian, negara terinfeksi virus corona mengunci akses masuk dan keluar sebagai pengamanan ketat. Juga larangan mengadakan pertemuan yang melibatkan banyak orang, penutupan semua tempat-tempat umum. Lockdown sama dengan isolasi, berarti pemisahan suatu hal dari hal lain atau usaha untuk memencilkan manusia dari manusia lain. Trend kebijakan lockdown saat ini dilakukan untuk merespon penyebaran virus corona atau pandemi global Covid-19.

Lockdown, Iya atau Tidak?
Peneliti ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menolak Jakarta melakukan lockdown karena 70% pergerakan uang nasional berada di Jakarta. Lockdown terlalu beresiko, karena aktivitas ekonomi akan berhenti.  Skenario terburuknya Indonesia bisa krisis ekonomi (detik.com, 15/3/2020). Bagaimana jika lockdown dilakukan di tingkat nasional?

Lockdown sudah dilakukan sejumlah negara di dunia, diantaranya China, Filipina, Iran, Italia, Denmark, dan Spanyol. Presiden RI Joko Widodo menyatakan bahwa "belum berpikir ke arah sana" ketika ditanya tentang lockdown. Ada negara-negara lainnya yang tidak melakukan lockdown, tapi melakukan langkah dan kebijakan ketat (cnbcindonesia.com, 15/3/2020). 

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan sektor ekonomi harus tetap berjalan. Kalau lockdown menyeluruh untuk seluruh sektor, akan berdampak signifikan pada perekonomian dalam jangka pendek khususnya pada kuartal I tahun 2020 (mediaindonesia.com, 15/3/2020). Lockdown bukanlah pilihan sebagaimana kata juru bicara khusus penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, dalam keterangan persnya di Kantor Presiden, Jakarta (12/3/2020 dilansir VIVAnews). Jika lockdown di Indonesia, maka tidak akan bisa untuk pelacakan, karena tidak akan pergerakan di suatu wilayah. Karena yang diawasi adalah manusia bukan wilayahnya. 

Menolak lockdown semata-mata dengan alasan ancaman krisis ekonomi tanpa mempertimbangkan ancaman krisis lainnya memang tidak bijaksana. Ancaman krisis keselamatan masyarakat tentu menjadi argumentasi yang lebih kuat dalam pemikiran banyak orang saat ini. Saat ini semua sektor akan potensial terganggu jika dilakukan lockdown, seperti beberapa sekolah, universitas, badan usaha, dan lainnya, akan berhenti karena tidak tahan tekanan, dan mengubah pendekatan dari offline menjadi online. Lockdown akan menyebabkan proses produksi terhenti dan dapat menyebabkan instabilitas sosial dan ekonomi, jelas  Sekretaris Eksekutif Labor Institute Indonesia Andy William Sinaga  (liputan6.com, 15/3/2020). 

Apakah lockdown seperti simalakama? Mungkin tidak jika dihadapi dengan lebih bijaksana. Artinya harus ada pilihan lain selain lockdown. Bagaimana sesungguhnya menghadapi penyebaran virus corona atau pandemi global Covid-19, dengan lockdown atau tidak?

Melampaui Covid-19 dan LocLockdow?
Pertama, sejak awal muncul penyebaran virus corona pertama kali dan akhirnya menjadi pandemi global Covid-19, maka yang harus segera kembali dipikirkan dan dilakukan adalah pentingnya meningkatkan produktifitas dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat. Baik itu di sektor ekonomi, politik, maupun budaya dengan berbagai program kerja kebijakan nasional.

Kedua, perdebatan untuk memilih lockdown atau tidak, muncul dikarenakan adanya kerentanan ekonomi yang secara nyata juga harus diakui karena tingkat ketergantungan terhadap pasar yang tinggi. Misalnya di sektor ekonomi, khususnya di bidang pangan, ketika secara politis memilih kebijakan program ketahanan pangan ketimbang kedaulatan pangan, terutama kran impor pangan yang di buka lebar, maka pandemi global Covid-19 dan lockdown akhirnya menjadi ancaman. Importasi pangan sesungguhnya hanya menunjukkan betapa lemahnya politik-ekonomi pangan Indonesia. Bahkan ketika mampu mengekspor pangan, seharusnya terjadi ketika ada surplus di dalam pasar pangan domestik atau di dalam negeri.

Ketiga, untuk melampaui pandemi global Covid-19 dan lockdown, selain fokus pada pencegahan penyebaran virus corona dan pengobatan/penyembuhan pengidapnya, perlu juga mengobati/menyembuhkan lemahnya produktifitas di berbagai sektor ekonomi untuk pencegahan penyebaran krisis ekonomi, yang bisa menjalar pada krisis politik dan krisis sosial. Stimulus ekonomi sudah saatnya mempertimbangkan pada sektor-sektor yang lebih memperkuat perekonomian rakyat. Selain memacu produktifitas perekonomian rakyat, juga perlu melaksanakan reformasi ekonomi di mana yang paling mendasar adalah reforma agraria. Apalagi jika kemudian dilanjutkan dengan menghidupkan dan mengembangkan koperasi sebagai bentuk perekonomian yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat maupun ekonomi nasional. Demikian untuk memahami dunia dan merawat Indonesia.

(Virtuous Setyaka, Dosen HI FISIP Unand, Aktivis Koperasi MDM, dan Mentor GSC Indonesia)

loading...
 Editor : Dodi

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]