Cegah Banjir dan Longsor, Yulhendri Ajak Masyarakat MTS Tanam Kopi


Ahad, 08 Maret 2020 - 13:08:22 WIB
Cegah Banjir dan Longsor, Yulhendri Ajak Masyarakat MTS Tanam Kopi Wakil Dekan III FE UNP, Dr Yulhendri tans Batuah sudah memulai menanam 10 ribu bibit kopi di Mapattunggul dan Mapattunggul Selatan, gantikan Serai Wangi dan Gambir.

PASAMAN, HARIANHALUAN.COM -- Ada fakta menarik dari peristiwa bencana banjir bandang dan tanah longsor yang baru saja melanda Nagari Muaro Seilolo, Kecamatan Mapattunggul Selatan, Kabupaten Pasaman, beberapa waktu lalu.

Pembukaan lahan secara membabi buta ditengarai menjadi pemicu terjadinya bencana tersebut, hingga merenggut korban jiwa. Dua nyawa warga Pintuai, melayang. Tiga warga lainnya luka-luka. Serta menimbulkan kerugian materil.

Menurut, Dosen Universitas Negeri Padang (UNP), sekaligus penggerak budi daya kopi, Dr Yulhendri, pembukaan lahan di puncak gunung Mapattunggul Selatan oleh warga sejak sepuluh tahun terakhir menjadi penyebab terjadinya banjir dan longsor di wilayah tersebut. Apalagi lahan gundul tersebut hanya ditanami jenis tanaman serai wangi dan gambir.

"Soal Banjir dan longsor di MTS, setelah saya amati dengan kasat mata, dalam 10 tahun terakhir longsor dominan disebabkan oleh pembukaan lahan di puncak-puncak gunung. Dengan menanam tanaman gambir dan serai wangi," kata pria kelahiran Mapattunggul Selatan ini, Minggu (8/3/2020).

Akibatnya, kata dia, puluhan ribu lobang pori terbentuk akibat pelapukan tunggul kayu yang kemudian tidak diganti dengan pohon, tapi malah dengan tanaman gambir dan serai wangi yang tidak memiliki akar kuat sebagai penahan air.

"Pada kemiringan lebih dari 45 derajat, kedua tanaman itu akan menyebabkan longsor dan banjir. Sama halnya dengan lokasi longsor di Pintuai, Rotan Getah, Pangian, Sungai Lolo, Muaro dan Silayang juga terjadi begitu," ujarnya.

Hal tersebut, kata Yulhendri sangat kontras dengan pola bertani masyarakat setempat kala itu, sekitar tahun 2000 an. Dimana, banyak masyarakatnya menerapkan sistem ladang berpindah-pindah. Dari satu bukit ke bukit lainnya, akan tetapi terhindar dari bencana alam.

"Kenapa sebelum tahun 2.000 an tidak terjadi longsor meski dengan pola ladang berpindah? Ternyata dulu setelah lahan dipakai, kemudian lahan ditinggal dan menjadi sosok sehingga alam jadi netral. Kalau kini jadi lahan terbuka, ditanami serai dan gambir," tukasnya.

Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi ini pun menyarankan, hulunya harus segera diperbaiki untuk mencegah terjadinya bencana banjir dan longsor. Tawaran, sebagai solusinya, warga disarankan menanam komoditas kopi dilahan-lahan tersebut dibanding serai atau gambir.

"Jika kita tak perbaiki hulunya (Penyebab) banjir atau longsor akan terus terjadi di wilayah itu, apalagi Pasaman. Tawaran solusi, salah satu komoditas yang bisa disarankan, tanamlah kopi," ujarnya.

Untuk wilayah Mapattunggul Selatan, jenis kopi yang pas untuk ditanam adalah kopi jenis Liberika. Karena hanya berada diatas ketinggian 200 Mdpl.

"Bisa kopi jenis Liberika, Robusta. Untuk diketinggian diatas 900 Mdpl, bisa Arabika. Karena di kampung (MTS) itu tingginya 200 Mdpl, jenis kopi yang cocok Liberika," pungkasnya.

Tanaman kopi, menurut Yulhendri butuh pelindung permanen, yaitu pohon. Itu bisa digabung dengan pohon durian, petai, sukun, pisang, petai china dan jenis pohon lainnya.

Yulhendri pun menambahkan, bahwa ia sudah memulai gerakan menanam kopi di Pasaman. Meski sendiri, ia sudah berhasil menam lebih dari sepuluh ribu pohon kopi di wilayah Mapattunggul dan Mapattunggul Selatan, agar bisa dicontoh masyarakat.

Namun, sejauh ini upayanya itu belum ada yang mengikuti. Karena kopi merupakan komoditas lama di wilayah itu dengan produktivitas yang masih rendah. Di MTS, produkitivitas kopi baru mencapai 370 Kg per hektar. Sementara daerah lain di Indonesia, rata-rata 790 Kg per hektar.

"Pertanyaannya, kenapa di MTS rendah? Itu karena faktor bibit, minim pemeliharaan daun dan ranting, no pupuk, kemiringan tanah tinggi, sehingga nutrisi tanah banyak hanyut oleh air hujan," ungkap Majelis Pakar Dewan Koperasi Indonesia ini.

Lain halnya, jika gerakan menanam kopi ini digalakkan, dijadikan sebagai gerakan bersama oleh Pemuda apalagi Pemda. Pasti bisa lebih cepat diterima oleh masyarakat. Jika gerakan ini lebih dimasifkan, ia yakin Pasaman akan menjadi sentra komoditas kopi ke depannya.

"Saya yakin, jika adik-adik pemuda dan Pemda menjadikan ini jadi gerakan, dalam 5 tahun ke depan kita jadi sentra kopi. Banjir dan longsor berkurang, Insya Allah. Menanam kopi, salah satu gerakan alam dan budaya. Budaya cengkrama atau ngopi. Nanam kopi, panen kopi dan jual kopi," tukasnya.

Koversi lahan dari tanaman gambir dan serai, ke pohon kopi harus diiringi dengan penanamana pohon pelindung. Ini akan membantu alam kembali stabil. "Dan, mulailah dari hulu sungai dan puncak bukit. Pendapatan masyarakat akan bertambah dan alam akan terjaga," ujarnya. (*)

loading...
Reporter : Yudi Lubis /  Editor : Milna

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]