2.200 Hektare Sawah Diserang Wereng


Sabtu, 13 Agustus 2016 - 04:17:53 WIB

BUNGARAYA, HALUAN — Seluas 2.200 hektar hamparan sawah di Kecamatan Bungaraya diserang hama wereng. Kali ini serangan hama lebih berbahaya, dalam satu rumpun bisa dikerumuni 500 ekor wereng. Jika tidak mendapat penanganan serius, maka petani padi terancam gagal panen.

Keluhan ini disampaikan petani padi dalam forum reses yang digelar Ketua DPRD Siak Indra Gunawan, kemarin, di Kampung Ke­muning Muda, Kecamatan Bungaraya. Petani berharap bantuan obat pemberantas wereng yang tepat, agar me­reka bisa panen sesuai ha­rapan.

Menanggapi keluhan itu, Ketua DPRD Siak Indra Gunawan meminta kepada Dinas Hortikultura dan Ta­naman Pangan agar peka terhadap keluhan petani dan kondisi yang terjadi di sawah.

“Saya minta dinas peka terhadap kondisi yang dia­lami petani. Lebih bagus memberi obat untuk mem­berantas hama, daripada harus memberi uang untuk kehidupan petani,” tegas Indra Gunawan.

Politisi Partai Golkar ini mengaku masalah hama we­reng menjadi PR bagi pihak­nya, untuk mendesak dinas agar mencarikan solusi secara cepat.

Terkait penganggaran pengadaan obat pemberantas wereng, dewan siap mem­bantu dalam pembahasan.

Kepala UPTD Pertanian Bungaraya Suwanto saat dikonfirmasi, menceritakan, 2.200 hektar sawah di Bu­ngaraya diserang hama we­reng secara merata, semen­tara ketersediaan racun pem­berantas wereng tahun ini terbatas.

“Stok obat tahun ini 2.000 liter, kalau tahun-tahun sebelumnya 4.000 liter. Tentu tidak cukup, ditambah lagi hama tahun ini lebih banyak. Kalau hanya 50 ekor tiap rumpun masih mudah dibas­mi, sekarang tiap rumpun padi dikerumuni sampai 500 ekor wereng,” kata Suwanto.

Selama hama menyerang, pihaknya telah turun 2 kali melakukan pengendalian, dan dalam minggu ini akan turun kembali melakukan pe­ngen­dalian. “Masalah obat yang dikeluhkan petani, menurut kami itu tidak benar, karena merk yang dianggap bagus sebenarnya bahan aktifnya Sam, cuma beda merk,” te­rang Swanto.

Selain itu, menurut Swan­­to dalam meracun we­reng petani tidak mengikuti stan­dar operasional pro­sedur.

“Wereng itu posisinya di bawah, tengah batang. Pe­nyemprotannya juga harus dari bawah, tidak bisa hanya disemprotkan dari atas daun, ke dua, standar yang dite­tapkan untuk 1 hektar sawah 30 tangki, petani menyem­protnya hanya 12 sampai 15 tangki, tentu kurang ber­dampak,” kata Suwanto.

Lebih jauh, Suwanto me­ngatakan tahun depan petani harus mengganti varietas padi yang dibudidayakan. “Se­karang varietas Logawa, nampaknya hama sudah ke­bal dengan varietas ini, maka tahun depan harus ganti varietas,” pungkas Suwanto. (h/lam)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]