Kolonel Inf Mohamad Hasan

‘Perisai Hidup’ Jokowi yang Bercita cita Jadi Wartawan


Kamis, 21 Juli 2016 - 03:00:08 WIB
Reporter : Tim Redaksi
‘Perisai Hidup’ Jokowi yang Bercita cita Jadi Wartawan Kolonel Mohamad Hasan SH.

Laporan: Rivo Septi Andries

Pernah mendengar nama Pasukan Pengamanan Presiden atau yang disingkat Paspamres? Siapa yang tidak kenal dengan pasukan khusus yang mengawal dan menjaga keselamatan RI 1 dan RI 2 ini. Dengan postur tinggi besar, dan selalu mengelilingi presiden dan wakilnya.

Sebagian masyarakat melihat Paspampres ketika adanya kunjungan presi­den dan wakil presiden yang selalu dijaga oleh pasukan ber­kualifikasi khusus ini. Tapi bagai­mana pasukan yang menjadi “perisai hidup” presiden tersebut da­lam bertugas, membagi waktu dengan keluarga dan kisah suka duka­nya menjadi orang yang selalu “mele­kat” dengan simbol negara ini.

Seorang pasukan Paspampres yang bertugas tersebut adalah Komandan Paspamres Grup A, Kolonel Inf Mohamad Hasan SH. Pria berdarah Minang ini bertugas dalam pengamanan Presiden RI 1 Joko Widodo. Mohamad Hasan yang  pernah sekolah di SMA IV Angkek Canduang, Kabupaten Agam Sumbar ini ikut bertugas saat Presiden Joko Widodo kunju­ngan ke Kota Padang dan berl­ebaran beberapa waktu lalu.

Kepada Haluan secara khusus, Hasan yang bercita-cita sebagai wartawan ini mengatakan, menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) awalnya bukan cita-cita utama­nya. Walaupun ayahnya juga seorang tentara. Ia malah ingin menjadi wartawan dan pengen kuliah jurusan Jurnalistik Unpad.

“Saya malah ingin menjadi wartawan, kebetulan saat itu saya lagi hobi hobinya nulis, tapi waktu lulus SMA saya mencoba mendaftar Akabri dan setelah seleksi panjang selama dua bulan akhirnya diterima. Dari 45 orang pengiriman dari Sumbar yang diterima cuma 12 orang,” terangnya.

Hasan menjelaskan, ia men­dapat jabatan Komandan Grup A Paspampres sejak bulan Februari 2016. Sebelumnya ia menjabat sebagai Asisten Perencanaan Komandan Paspampres. Penuga­san di Paspampres merupakan kedua kalinya, yakni pada tahun 2002 sampai 2006.

“Terpilihnya saya sebagai Komandan Grup A Paspampres merupakan suatu kebanggaan yang luar biasa dan keluarga karena. Saya mendapat kehor­matan mengawal serta menyeleng­garakan pengamanan terhadap orang no 1 di negara ini. Apalagi sebagai orang Minang, hal ini merupakan kehormatan yang besar, baru dua orang perwira asal Minang yang mendapat amanah ini, pertama adalah Mayjen TNI Doni Monardo (sekarang Pang­dam XVII Pattimura) yang kedua baru saya,” terang suami dari Rahmalia ini.

Ia menambahkan, konse­kuen­si amanah jabatan itu Hasan jadi jarang punya waktu lebih buat keluarga. Semua dilakukanya demi tugas yang diamanahkan oleh negara.

“Karena tugas tersebut meng­ha­ruskan saya harus selalu “mele­kat” dengan kegiatan presiden. Istri dan anak-anak saya sudah sangat mengerti tugas saya ter­sebut dan pengertian itulah yang menjadi dukungan terbesar bagi saya dalam melaksanakan tu­gas,”terangnya.

Kebiasan Unik Presiden Joko Widodo

Lebih lanjut pria yang me­miliki dua orang anak ini men­jelaskan, sebagai Komandan Grup A Paspampres ia bertugas me­laksanakan pengamanan fisik jarak dekat terhadap presiden beserta keluarganya. Ia pun ditun­tut mempelajari dan menerapkan pola pengamanan maksimal yang disesuaikan dengan kebiasaan, karakter dan keinginan presiden.

“Presiden Jokowi adalah presi­den yang sangat merakyat, keinginan beliau menyerap aspi­rasi langsung dari rakyat sangat tinggi. Seperti sudah diketahui manajemen blusukan beliau su­dah menjadi ciri khasnya. Hal ni menjadi keunikan-keunikan ter­sen­diri bagi kami Pas­pam­pres,” terangnya.

Ia menceritakan, pernah di Galela, Maluku mobil presiden dihadang ibu-ibu di tengah jalan sambil berteriak teriak yang tidak jelas maksudnya. Ia bersama angggotanya turun dan langsung meminta ibu-ibu itu ke pinggir jalan karena presiden akan me­nuju tempat acara lain.

Tapi presiden malah turun menyalami dan menyapa ibu-ibu tersebut dan ternyata ibu-ibu itu berteriak hanya karena ingin ‘pegang tangan’ atau bersalaman dengan presiden.

“Padahal kami Paspampres mengira ibu-ibu itu akan demo menolak kehadiran presiden atau protes sesuatu hal kepada pak Jokowi,”ungkapnya.

Hasan mengungkapkan, da­lam hal mengawal Presiden Joko­wi, paspampres harus bekerja ekstra keras. Jika presiden berke­inginan menyapa masyarakat ramai secara langsung dan pre­siden tidak segan berhenti di jalan untuk sekedar menyapa atau membagikan buku untuk anak-anak yang berada di sepanjang rute perjalanan beliau.

Menurutnya, setiap presiden mempunyai karakter dan kebia­saan yang berbeda, sebagai Pas­pampres pada dasarnya pelak­sanaan pengamanan tidak ada bedanya, harus sesuai dengan ketentuan yang sudah diten­tukan.

Namun pada praktek keseha­riannya pengamanan yang dilak­sanakan Paspampres harus dapat menyesuaikan dengan karakter dan kebiasaan objek pengamanan VVIP itu sendiri.

Ia juga menyampaikan, perbe­daan mendasar Presiden Jokowi dengan presiden sebelumnya adalah kebiasaan Presiden Jokowi yang sering blusukan, melakukan tatap muka langsung dengan masyarakat di berbagai daerah yang dikunjungi.

Selain itu Presi­den Jokowi juga sering menyalami atau berfoto dengan masyarakat dan membuat presiden bersen­tuhan langsung dalam jumlah yang banyak.

Dalam menyikapi kondisi ini, Hasan menjelaskan, bahwa Pas­pampres harus bisa beradaptasi dan fleksibel dalam menggelar pengamanan dan mengakomodir keinginan presiden. Dalam kegia­tan apapun dalam pola penga­manan yang membuat presiden aman dan nyaman melaksanakan tugas-tugas kenegaraannya.

“Kebiasan beliau berfoto de­ngan masyarakat yang dijum­painya pada setiap kesempatan kunjungan kerja. Biasanya presi­den menunjuk langsung orang-orang yang meminta berfoto dengan beliau dan meminta ang­gota Paspampres untuk mengam­bil poto dengan kamera masya­rakat yang akan berfoto tersebut. Saya hanya mengatur masyarakat tersebut supaya tidak berebut dan saling dorong untuk berfoto de­ngan presiden,”papar Hasan yang berasal dari korps Kopassus ini.

Sementara dalam hal meng­hadapi wartawan, pria kelahiran 1971 ini mengatakan, selama ini ia dan anggotanya selalu meng­akomodir keinginan wartawan untuk mengambil gambar atau mewawancarai presiden selama tidak ada hal yang mengganggu pengamanan.

Ia selalu berkor­dinasi dengan Biro Pers Media Sekretariat Negara untuk me­ngatur wartawan.

“Pada setiap kesempatan saya selalu menekankan anggota saya yang bertugas untuk kooperatif dengan wartawan dan mengarah­kan wartawan sesuai dengan ke­ten­tuan yang diatur biro pers media istana,”terangnya.

“Perisai Hidup” Presiden Joko Widodo

Terkait dengan anggapan mas­ya­rakat bahwa Paspampres siap berkorban nyawa Hasan menyatakan, tugas pokok Grup A Paspampres adalah melaksanakan pengamanan fisik jarak dekat secara terus menerus terhadap presiden beserta keluarganya.

Tugas pokok itu disimpulkan, Paspampres bertugas sebagai “perisai hidup” presiden yang harus rela berkorban jiwa demi keselamatan Presiden sebagai lambang negara.

“Seluruh prajurit Paspampres sudah memahami dan siap untuk itu,”ujar lulusan Akmil 1993 ini.

Lebih lanjut Hasan me­nyam­paikan, Paspampres harus bisa menjadi perisai hidup yang kokoh dan kuat. Personel Paspampres diambil dari seluruh pasukan khusus dan pasukan elite TNI yang sudah memiliki kemampuan dan keterampilan di atas rata-rata prajurit TNI lainnya.

Tugas pokok Paspampres ada­lah melaksanakan pengamanan terhadap presiden, wakil presiden beserta keluarganya, melaksa­nakan pengamanan terhadap tamu negara setingkat kepala negara, kepala pemerintahan dan pengamanan terhadap mantan presiden dan wakil presiden.

Dalam pelaksanaanya pas­pampres dibagi empat grup, grup A pengamanan presiden, grup B pengamanan wapres, grup C pengamanan tamu negara, grup D pengamanan mantan presiden dan wakil presiden.

Waktu Dengan Keluarga dan Peran Generasi Muda

Tugas pengamanan presiden sangat menyita waktu karena dilaksanakan setiap hari sepan­jang tahun selama masih menjabat presiden.

Namun paspampres punya mekanisme pengaturan penugasan yang bisa memberikan sedikit waktu bagi personelnya untuk bisa bersama keluarga.

Kesempatan tersebut ada saat presiden tidak ada jadwal keluar daerah dan hanya beraktivitas di istana.

“Saya dapat membagi tugas dan wewenang memimpin penga­manan presiden kepada wakil komandan grup A. Walaupun tanggung jawab tetap berada di pundak saya selaku komandan. Pada saat off itulah saya bisa bersama keluarga,”paparnya.

“Seminggu mungkin hanya dua atau tiga hari bisa pulang ke rumah, kecuali kalau ada pe­nugasan panjang ke luar daerah atau luar negeri saya bisa tidak pulang seminggu,”tambahnya.

Pria yang pernah menulis buku ini menjelaskan, ia bangga dan terhormat menjadi Koman­dan Grup A Paspampres. Karena presiden memberikan keper­ca­yaan kepada seorang putra Mi­nang untuk menjaga keselamatan dan keamanan pribadi beliau beserta keluarganya. Hal tersebut tidak terbayang sebelumnya oleh ia dan keluarga.

Menurut Hasan, generasi mu­da khususnya generasi muda minang, adalah kekuatan yang dibutuhkan oleh negara. Khu­susnya untuk bersama sama me­langkah dalam kebhinekaan mengawal persatuan dan kesatuan NKRI.

“Negara ini butuh generasi muda patriotik dan nasionalis untuk menghancurkaan kekua­tan-kekuatan asing yang ingin mencerai beraikan NKRI.

Karena saat ini kepentingan orang lain terhadap Indonesia adalah bagai­mana caranya agar Indonesia tidak menjadi “kuat” dan bagaimana melemahkan Indonesia,” tuturnya. (*)

 



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM