Memaknai Hari Pendidikan


Senin, 02 Mei 2016 - 04:18:09 WIB
Memaknai Hari Pendidikan

Hari Pendidikan Na­sio­nal diperingati setiap tanggal 2 Mei, bertepatan dengan hari ulang tahun Ki Hadjar Dewantara, pahlawan nasional yang dihormati se­bagai bapak pendidikan. Ki Hadjar Dewantara lahir dari keluarga kaya Indonesia se­la­ma era kolonialisme Belanda. Ia dikenal karena berani menentang kebijakan pen­didikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan an­ak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengenyam bangku pen­di­dikan. ( Wikipedia)

Kalimat “tut wuri han­da­yani” yang memiliki makna “mendorong dari belakang “ selalu menjadi jargon pen­didikan Indonesia mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Kalimat itu sendiri merupakan filosofi yang ia kembangkan dimasa itu.

Ki Hadjar Dewantara me­s­ki berasal dari keluarga kaya beranggapan bahwa pen­di­dikan merupakan hak setiap orang. Oleh sebab itu tidak se­pantas­nya masyarakat di­batasi untuk menempuh pen­didikan ter­sebut. Oleh dasar itulah ki Hadjar Dewantara melawan kebijakan pe­merintahan yang berkuasa di kala itu.

Peringatan hari pen­didi­kan yang jatuh pada 2 Mei ini hendaknya tidak sekedar di­peringa­ti dengan perayaan semata, melainkan harus di­mak­nai lebih luas guna untuk memajukan pendidikan tanah air. Alangkah tepatnya bila momen hari pendidikan ini di isi dengan peringatan se­kaligus kampanye yang ber­tuju­an untuk lebih me­ma­ju­kan pendidikan kedepannya. Setidaknya ada beberapa hal yang harus dikampanyekan dalam rangka memperingati hari pendidikan ini.

Pertama, menyangkut Tu­juan Pendidikan. Pendidkan tidak serta merta hanya ber­tuju­an untuk mencerdaskan, namun memiliki tujuan lain yang lebih besar, yaitu “me­ma­nusiakan manusia”. Dalam konsep nation, tujuan pen­didikan itu menggumpal da­lam cita-cita bersama, yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Makna men­cer­das­kan kehidupan bangsa tidak serta merta pula hanya ter­paku kepada kepintaran da­lam bidang pengetahuan, te­tapi juga berdasarkan kepada “kemanusian yang adil dan beradap”.

Mengapa demikian, saya teringat dengan sebuah pidato yang disampaikan abang saya di organisasi Unit Kegiatan Hu­kum dan Politik, Ihkwan Sa­putra Sigit,  beliau menga­takan “ percuma kita pintar, tetapi tidak memiliki ke­pe­dulian terhadap orang lain, percuma kita memiliki IP tinggi, tetapi buta akan sesama.”

Makna “memanusiakan manusia” itu sendiri meru­pakan bentuk saling meng­hargai, memperhalus pe­rasa­an serta tidak ada des­kri­mi­nasi. Pendidikan harus mam­pu menjadi pilar ter­depan dalam pembangunan sumber daya manusia yang lebih baik, karena hanya deng­an sumber daya manusia yang baik pula lah bangsa ini dapat dibangun menjadi lebih baik.

Kemudian majunya se­buah negara tidak bisa dile­pas­kan dari kualitas pen­didikan yang diterima warga negaranya. Sumber daya ma­nusia sebuah negara yang tidak berpendidikan, akan sulit untuk mampu bersaing deng­an bangsa lain, atau dengan kata lain sampai kiamat pun negara tersebut  tidak akan pernah maju. Namun se­balik­nya, jika sumber daya manu­sia yang ada berpendidikan, maka secara tidak langsung negara tersebut akan menga­lami kemajuan yang pesat.

Kedua, masalah per­pelon­coan. Sebagaimana yang biasa terjadi di dunia pendidikan Indonesia, mulai dari tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga perguruan ting­gi, perpeloncoan merupakan hal yang tidak dapat terelakan. Bentuk perpeloncoan ini pula lah yang nantinya akan meru­sak tujuan mulia dari pen­didikan yaitu “Me­ma­nusia­kan manusia”.

Perpeloncoan merupakan bentuk penindasan yang dila­kukan kaum terdidik. Dunia pendidikan bukan tempat adu ketangkasan otot antara se­sama, tetapi merupakan tem­pat menimba ilmu yang nan­tinya dapat dijadikan bahan untuk saling beradu argumen. Dunia pendidikan bukanlah tempat untuk saling meren­dahkan, tetapi merupakan tempat un­tuk saling mem­besarkan.

Perpeloncoan hanya akan menjadikan rasa saling meng­hargai terkikis hingga tidak tersisa. Rasa hormat akan hilang begitu saja, akibatnya saling tidak peduli pun akan senantiasa menyelimuti hati orang-orang yang mengaku terdidik.

Ketiga, pemerataan pen­di­dikan. sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa kua­litas pendidikan Indonesia belum lah sempurna. Masih saja banyak ketimpangan ter­jadi dimana-mana. perbedaan kelas semakin mencolok se­iring berkembangnya budaya kapitalis di dunia pendidikan.

Perbedaan fasilitas antara perkodaan dan pedesan se­ma­kin memperburuk citra pen­didikan Indonesia. hal ini dikarenakan karena  per­be­daan fasilitas pula ketim­pang­an akan semakin jelas terlihat. Di kota fasilitas pendidikan terlihat sempurna dengan bangunan megah dan fasilitas lengkap. Terlihat semakin menawan dengan hiasan ta­man-taman nan indah dise­kitar­nya. Tenaga pengajar pun lengkap dan berkualitas.

Sementara itu, keadaan yang sebaliknya menjadi pe­man­dangan biasa didaerah pedesaan dan daerah terisolir. Fasilitas pendidikan di pe­desa­an dan daerah terisolir bisa dibilang jauh dari kata “layak”. Tidak seperti di kota, pedesaan selalu identik deng­an bagunan sederhana bahkan tidak te­rawat. Jangankan memiliki fasilitas lengkap, memiliki guru untuk menga­jar saja sudah sangat disyukuri.

Sepertinya peran negara dalam mewujudkan pen­didi­kan yang merata masih belum terialisasi. Nyatanya masih banyak anak-anak yang putus sekolah karena kekurangan biaya.  Hampir di setiap pelosok daerah terdapat anak-anak yang ekonomi ke­luarga­nya berpendapatan kecil ter­paksa putus sekolah. Anak-anak tersebut terpaksa harus ikut membanting tulang me­m­bantu orangtua mereka untuk menghidupi keluarga.

Merujuk kepada data UN­I­CEF tahun 2015 se­banyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Anak-anak yang be­rasal dari keluarga kurang mampu, memiliki ke­mung­kinan putus sekolah emapat kali lebih besar daripada mereka yang berasal dari keluarga berkecukupan. Un­tuk data statistik geografis, tingkat putus sekolah anak SD di desa 3:1  dibandingkan dengan di daerah perkotaan.  Kemudian dari publikasi kementerian sosial tahun 2016, Jumlah anak terlantar tersebar di 34 provinsi men­capai 4,1 Juta jiwa. Tercatat ada 7,39 juta anak putus seko­lah dengan penyebab utama karena kemiskinan (Ke­men­sos RI, 2016).

Bagaimana pemerataan pendidikan bisa terwuju ? sementara data menunjukan jumblah anak putus sekolah begitu besar. Oleh sebab itu, kita harus sama-sama men­dorong tranparansi penge­lolaan anggaran pendidikan di Indonesia. agar prioritas pem­bangunan tidak lagi hanya terfokus kepada perkotaan. Sebab anak-anak didaerah saat ini sangat membutuhkan perhatian. Mereka juga me­miliki hak yang sama terhadap pendidikan dengan anak-anak masyarakat kota dan anak yang berasal dari orang tua mampu.

Oleh sebab itu, Kita harus saling mengingatkan bagai­mana pendidikan itu yang seharusnya. Jangan sampai kita hanya diam saja melihat permasalahan pendidikan yang ada. Kita tidak bisa hanya menunggu saja belaian kasih dari negara dalam urusan memperbaiki kualitas pen­didikan di bangsa ini. Karena sejatinya kita memiliki tan­g­gung jawab bersama dalam urusan pendidikan.(*)

 

 ANTONI PUTRA
(Anggota Forum Peduli Pendidikan Universitas Andalas)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 23 Juni 2017 - 17:50:33 WIB
    Catatan Tentang Penjaga Muruah Minang di Perantauan (Bag-1)

    Memaknai Jalan Pikir Dony Oskaria: Tentang Minang dan Perjuangan Mambangkik Batang Tarandam

    Memaknai Jalan Pikir Dony Oskaria: Tentang Minang dan Perjuangan Mambangkik Batang Tarandam Dony adalah orang pertama yang berdiri kala Minang disebut buruk oleh orang diperantauan. Telinganya panas, saat tanah yang dicintainya semati-matinya cinta dianggap sebagai tempat orang-orang yang tak mampu lagi bangkit dar.
  • Senin, 08 Agustus 2016 - 03:50:17 WIB

    Memaknai Ulang Tahun Kota Padang

    PEMERINTAH dan warga Kota Padang Ahad kemarin (7/8), memperingati HUT Kota Padang yang ke-347. Puncak peringatan ditandai dengan Rapat Paripurna Istimewa DPRD Padang..
  • Senin, 14 Maret 2016 - 03:28:47 WIB

    Memaknai Kewenangan Penahanan Oleh Polri

    Memaknai Kewenangan Penahanan Oleh Polri Salah satu kewenangan Polri dalam fungsi penegakan hukum pidana yang paling menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat adalah kewenangan penahanan. Sering muncul kesalahpahaman atau dugaan bahwa penahanan yang dilakukan o.
  • Selasa, 22 Desember 2015 - 02:56:14 WIB

    Memaknai Hari Ibu

    Memaknai Hari Ibu Hari Ibu me­ru­pa­kan perayaan ter­ha­dap peran se­orang ibu dalam keluarga, baik untuk suami, anak, maupun lingkungan sosial. Dimana hari ibu dirayakan hampir diseluruh dunia dengan waktu yang berbeda-beda sesuai denga.

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]