Bisnis Lokan Rebus dan Langkitang

Syamsuddin Raih Omzet Rp75 Juta Sebulan


Rabu, 20 April 2016 - 02:37:23 WIB
Syamsuddin Raih Omzet Rp75 Juta Sebulan SYAMSUDDIN, bersama isterinya (kiri), dan dua karyawatinya mengeluarkan daging lokan dari cangkang setelah direbus di rumahnya di pinggir pantai Ulak Karang, Jl. Bahari No. 7 A RT 04/ RWII, Kelurahan Ulak Karang Selatan, Kecamatan Padang Utara, Padang, Jumat (15/4). (RUSDI BAIS)

PADANG, HALUAN — Syam­suddin mengenang berbagai kegagalannya dalam bekerja dan membangun usaha, hing­ga kini menjadi tauke lokan rebus, saat Ha­luan berkunjung ke rumahnya di pinggir pantai Ulak Karang, Jl. Bahari No. 7 A RT 04/ RWII, Kelurahan Ulak Karang Selatan, Keca­matan Padang Utara, Padang, Jumat (15/4). 

Sepanjang perja­lanan hidupnya, Syam­suddin telah mela­ku­kan berbagai pe­ker­jaan dan usaha, mulai dari pelayan toko, ma­ke­lar, karyawan peru­sahaan pengeboran mi­nyak, kontraktor, hingga pedagang ikan dan sayur.

Awalnya ia bekerja di kampung. Karena ia merasa usaha dan pe­ker­jaannya tak mung­kin berkembang di kam­pung, ia merantau ke Duri, Riau. Ia pun sudah mencoba da­gang babelok, tapi tak juga membuahkan ha­sil memuaskan.

Selama melalui rang­­kaian usaha yang dilewati Syamsuddin dalam rentang waktu 30 tahun lebih, ber­macam penderitaan dialaminya, utangnya makin bertambah, piu­tang tak tertagih. Akhir­nya, pada 2008, ia berlabuh di berbisnis lokan rebus. Ia me­milih bisnis tersebut karena prospeknya cu­kup baik, meski dari awal juga sangat meng­kha­watirkan.

Syamsuddin men­datangkan lokan men­tah dari Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Ia mendatangkan rata-rata 200 karung lokan per bulan dari sana. Ia merebus dan mengeluarkan isi lokan untuk kemudian dipasarkan di Kota Padang. Dalam seka­rung lokan ia memeroleh 7,5 kg lokan bersih yang sudah direbus. Ia menjual lokan bersih itu kepada pedagang eceran Rp35.000 per kg. Jika dijumlahkan, omzetnya dari menjual lokan rata-rata Rp­52,5 juta per bulan.

Selain mendatangkan lo­kan, Syamsuddin menda­tang­kan langkitang dari Natal. Ia mendatang rata-rata 50 ka­rung langkitang sekali 10 hari, atau rata-rata 150 karung per bulan. Harga penjualan satu karung langkitang Rp150.000. Maka, nilai penjualan lang­kitang tersebut per bulan Rp22,5 juta. Total nilai pen­jualan kedua dagangan terse­but, yakni lokan dan lang­kitang Rp75 juta per bulan.

Untuk menjalankan usaha tersebut, Syamsuddin dibantu oleh lima orang tenaga kerja, termasuk isterinya, Nurle­lawati. Untuk memasarkan dagangannya, ia meng­gu­nakan satu unit mobil bak terbuka L 300, dan satu Isuzu Panther.

“Pemasaran cukup bagus. Hanya saja pasokan dari Natal bisa dipengaruhi cuaca. Kalau di sana banjir, pasokan ter­hen­ti,” ungkap lelaki kela­hiran Sungai Limau Paria­man, 30 Desember 1965 itu.

Selain menjual lokan men­tah, Syamsuddin ingin mem­produksi rendang lokan. Akan tetapi, ia tak tahu cara menga­wetkan rendang. Padahal, rendang lokan buatan iste­rinya sangat gurih dan enak. Demikian penilaian teman-teman Syamsuddin yang telah mencicipi rending itu.

“Saya ingin rending lokan ini bisa tahan lama, minimal 20 hari, masih awet dan rasa­nya tidak berubah. Itulah yang belum saya ketahui ilmunya,” ujar Syamsuddin.

Namun demikian, Syam­suddin sangat bersyukur kepa­da Allah SWT karena ren­tetan usaha yang dilakoninya ia tempuh melalui jalan sangat berliku. Ia mulai dari pelayan toko di Padang pada 1987 dengan gaji Rp2.500 per hari.

Setelah menikah pada 1994, Syamsuddin mencari pendapatan tambahan men­jadi makelar sepeda motor, mobil dan tanah. Karena na­sib­nya tak berubah, ia berhen­ti kuliah di Universitas Ter­buka, lalu merantau ke Duri. Di sana ia bekerja sebagai kontraktor di bidang penge­boran minyak. Satahun men­ja­di kontraktor, ia berhenti, kemudian bergabung bersama enam temannya mendirikan perusahaan pengeboran mi­nyak. Hanya hitungan bulan, ia pecah kongsi karena merasa dikianati teman. Ia lalu bera­lih ke perusahaan lain, na­-muan hanya bertahan lima bulan.

Akhirnya, Syamsuddin lalu berdagang ikan di Pasar Duri dan cuma bertahan tiga bulan. Ia kemudian mendapat kenalan pedagang dari Natal pada awal 2000-an dan diajak berbisnis ikan.

Dari berteman dengan pedagang dari Natal itu Syam­suddin menemukan bisnis lokan. Sejak menjalankan bisnis itu mulai 2008 hingga kini, bisnisnya ada pening­katan. (h/rb)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]