Kereta Api


Senin, 18 April 2016 - 03:26:58 WIB

Dinas Perhubungan Sumbar men­catat di daerah ini total panjang lintasan jalur kereta api mencapai 304,2 kilometer dengan lintas operasi saat ini 73,2 kilometer. Sementara sepanjang 230,9 kilometer tidak digunakan dengan rincian 115 kilometer rusak berat atau berubah fungsi dan 115,8 kilometer rusak sedang dan perlu rehabilitasi.

Dari gambaran sederhana, tampak begitu panjang lintasan kereta api yang harus “diurus” kembali untuk menyesuaikan langkah lintasan kereta api sumatera yang disebut trans sumatera. Banyak lintasan kereta  yang kini sudah berubah fungsi, bahkan ada yang digunakan untuk perkan­toran pemerintah.

Sejarah kereta api di Sumatera Barat tak lepas dari penemuan tambang batubara berkalori tinggi di daerah Ombilin, Sa­wahlunto, dengan perkiraan cadangan mencapai 200 juta ton.

Untuk mempermudah pengangkutan, Pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api sepanjang 155 kilometer dari Sawahlunto hingga Pelabuhan Teluk Bayur yang dahulu bernama Emmahaven melalui Padang Panjang.

Selama 109 tahun, jalur tersebut digu­nakan secara rutin untuk mengangkut batubara dan penumpang. Seiring dengan berhentinya pasokan batubara dari Sawah­lunto yang dikelola PT Bukit Asam, terhenti pula operasi rutin kereta api di jalur tersebut pada tahun 2003.

Selain jalur Teluk Bayur-Sawahlunto, Belanda juga membangun jalur Padang Panjang–Bukittinggi-Payakumbuh-Lim­bangan sepanjang 72 km. Jalur ini di­operasikan untuk mengangkut hasil bumi dari pedalaman Sumatera Barat.

Seiring dengan berkembangnya trans­portasi darat, kereta api mulai tersisih dan tidak beroperasi sejak tahun 1973. Namun, belakangan sejak jalur kendaraan bermotor mulai kelabakan, moda transportasi ini jadi pilihan. Tak hanya Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi juga jadi sasaran.

Diyakini, untuk mengurus kembali lintasan kereta api di Sumbar, pihak terkait akan mengalami kesulitan. Ibarat mem­bersihkan kaca dari debu, karena dibiark­an terlalu lama dan tak pernah dibersihkan dalam jangka waktu tertentu, debu di kaca tersebut akan makin tebal dan sulit dibersihkan.

Demikian juga kiranya dengan pe­ngaktifan kembali lintasan kereta api yang kini banyak berubah fungsi. “Pembiaran” yang dilakukan pihak terkait meng­gam­barkan bagaimana abai-nya lembaga pe­merintahan atas asset yang mereka miliki. Apakah bisa menyalahkan masyarakat dalam satu sisi saja, tentu tidak karena ada hubungan sebab akibat atau hubungan saling menguntungkan terkait perlintasan kereta api.

Tapi, membayangkan beratnya peker­jaan yang akan dipikul tentu tak akan menyelesaikan masalah. Perlu langkah nyata sekaligus pemahaman yang baik untuk masyarakat  agar bisa mendukung program ini. Jangan sampai, ada pihak-pihak dalam urusan pembebasan kembali lintasan kereta api di Sumbar, untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Pengaktifan kembali kereta api diyakini akan memberi dampak luar biasa bagi perekonomian nasional, hingga regional. Perpindahan arus barang dan orang akan semakin terjangkau, seiring mahalnya harga bahan bakar. (*)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 04 Oktober 2016 - 01:06:44 WIB

    Peduli Perlintasan Kereta Api

    Kasus kecelakaan Kereta Api Jurusan Pa­dang- Pariaman sudah sering terjadi. Ter­akhir, sebuah minibus Toyota Rush terseret hingga 50 meter di Simpang 4 perlintasan Kereta Dekat SMKN 2 Kampung Baru Pariaman pada Minggu (18/9.
  • Rabu, 30 Desember 2015 - 02:50:28 WIB
    Kaleidoskop 2015

    Pilkada 2015, Klimaks Keretakan Sejumlah Kepala Daerah

    Pilkada 2015, Klimaks Keretakan Sejumlah Kepala Daerah Pesta demokrasi lokal, berupa Pilkada serentak telah selesai dilaksanakan 9 Desember 2015. Di Sumbar dilaksanakan 14 Pilkada, yakni 2 kota, 11 kabupaten dan tingkat provinsi. .

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]