Lucunya Visi Pariwisata


Jumat, 15 April 2016 - 03:15:52 WIB
Lucunya Visi Pariwisata

Perkara Sumatera Barat memiliki banyak spot dan variasi pariwisata tentu sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Faktanya Sumbar memang memiliki banyak spot alamiah yang sangat layak dibanggakan dan diberdayakan.

Selain itu, tak sedikit pula varian sub kultural yang unik yang akan menjadi aset pari­wisata jika dikelola dan di­berdayakan secara masif, baik secara mandiri oleh masya­rakat yang berkepentingan maupun secara orga­ni­sasio­nal sistematis oleh peme­rintah daerah, provinsi mau­pun kabupaten dan kota. 

Lalu masalahnya dimana? Masalahnya adalah bahwa sampai hari ini, tingkat kun­jungan pariwisata Sumbar, baik lokal maupun inter­nasional, masih terbilang menyedihkan. Pendapatan daerah di bidang ini belum sesuai dengan potensi yang ada. Daya ungkit sektor pari­wisata terhadap pertumbuhan ekonomi daerahpun masih jauh panggang dari api. Se­hing­ga sektor pariwisata be­lum mampu menjadi sektor penopang pertumbuhan yang akan membantu men­sub­stitusi sektor-sektor lainya yang ternyata juga terpantau loyo.

Sektor pertanian yang secara persentase menyerap paling banyak tenaga kerja terbukti mengalami penu­runan daya gedor, penyerapan tenaga kerjanya juga secara perlahan susut. Ditambah pula dengan semakin lesunya permintaan global akibat pertumbuhan ekonomi dunia kian tak pasti. Bahkan lem­baga internasional seperti Bank Dunia dan IMF berkali-kali menggunting tingkat pertumbuhan ekonomi global akibat kontraksi ekonomi di negara-negara dan kawasan penyokong utama seperti Chi­na, Eropa, Je­pang, emer­ging market lainya, dan proses normalisasi di Amerika yang juga belum kelar.

Akibatnya, demand ter­hadap produk pertanian eks­por andalan Sumbar ikut ter­bawa jatuh dalam kalkulasi nilai akibat harga-harga kian melandai, meskipun volume tetap tercatat naik. Sektor perdagangan juga terbilang tumbuh kurang menjanjikan sehingga tak mampu menu­tupi penurunan sektor perta­nian. Dan pahitnya lagi, ting­kat konsumsi daerah tidak beranjak naik karena daya beli masyarakat juga terke­rang­keng berbagai penghalang sejak pertengahan tahun lalu disaat pemerintah mengor­bankan stabilitas kurs mata uang untuk meningkatkan selera investasi pemodal asing dan kenaikan harga BBM akhir 2014 lalu.

Jadi pertanyaan lanju­tanya, dapatkan Sumbar “ba­san­da dan batenggang” kepa­da sektor pariwisata? Jika pertanyaan ini disandingkan dengan ulasan Irwan Prayit­no, Gubernur Sumbar, yang dimuat di harian Padang Ekspres (29/3/16), maka ja­wa­bannya adalah bisa. Jawa­ban bisa tersebut dapat dilihat dari kutipan tulisan beliau berikut ini. “Lalu perta­nya­an­nya, dari mana memulainya? Di sini kita tidak mesti memi­kirkan apakah ayam atau telur dahulu. Jika yang ada ayam, maka pelihara dengan baik agar ia bisa meng­hasil­kan telur. Dan jika yang ada telur, dirawat dengan baik hingga ia menetas. Intinya, lakukan mana yang bisa, sambil dilakukan penga­wa­san maupun evaluasi serta koordinasi”.

Terkait langkah-langkah yang akan diambil untuk membuktikan jawaban “bisa” tadi, Irwan menyatakan “Kita bisa mulai dari berbagai hal yang sudah banyak dibica­rakan orang, kemudian lang­sung dicari solusinya. Pertama, karakter yang kurang mela­yani, maka kita upayakan memberikan pelatihan kepa­da pelaku pariwisata. Kedua, masalah area wisata yang kotor, maka harus segera kita bersihkan. Ketiga, ketiadaan rest area, maka kita ajak bersama pihak kabupaten/kota untuk menyediakannya. Keempat, ketidaknyamanan akibat perilaku juru parkir dan pelaku pemalakan, segera kita turunkan Satpol PP dibantu aparat untuk menanganinya. Kelima, kurangnya sarana transportasi ke tempat wisata, maka kita ajak investor ma­suk atau menghubungi penye­dia transportasi yang sudah ada untuk masuk ke tempat tersebut. Keenam infra­struk­tur yang tidak menunjang, pemerintah segera memper­baiki agar lancar”.

Apa yang hilang dari jawa­ban-jawaban Irwan ini? Seca­ra kasat mata nampaknya beliau mampu menjawab berbagai pertanyaan terkait proyeksi dan masa depan sektor pariwisata Sumbar. Tapi jika ditilik secara lebih detail dan mendalam, akhir­nya saya susah membedakan antara jawaban seorang guber­nur, yang seharusnya sangat strategis provinsial, dengan jawaban seorang manager hotel bintang empat atau bintang lima di salah satu kawasan wisata Sumbar. 

Dengan kata lain, jawaban ser­ta langkah-langkah yang di­tawarkan Irwan, ternyata sa­ngat teknis, mirip perintah se­orang manager hotel di se­buah kawasan wisata kepa­da bawa­hannya. Saya tidak me­ne­mukan jawaban strategis yang bisa ditransfer menjadi se­buah kebijakan terintegrasi se­cara provincial, yang kemu­di­an bisa menjadi media inter­ko­­neksi di antara se­mua stake hol­­der sektor pariwisata, mu­lai dari pelaku usaha, pelaku pa­­riwisata, otoritas terkait, dan pemerintah provinsi ser­ta pemerintah kabupaten/kota.

Untuk seorang Gubernur, saya kira kita pantas berharap bahwa Irwan akan mem­beri­kan jawaban dan langkah-langkah makro strategis pro­vin­cial terkait sektor pari­wisata Sumbar, bukan malah memberi jawaban teknis yang tidak menjelaskan proporsi masing-masing stake holder, termasuk proporsi pihak pro­vinsi. Lemahnya sisi strategis dari rencana pariwisata yang ditawarkan Irwan menun­jukan bahwa penguasaan ter­ha­dap persoalan juga lemah. 

Dalam hal perencanaan pembangunan kawasan pari­wisata misalnya, proses pe­ngem­bangan dan pengko­ordinasian pariwisata secara mikro akan menyangkut masa depan dari suatu destinasi pa­riwisata dan secara makro pro­vincial akan terkait de­ngan prospek terukur sektor pa­riwisata daerah. Dalam kon­tek teoritik, proses peren­ca­­na­an menggambarkan ling­ku­ngan yang meliputi ele­men-elemen seperti politik, fi­sik, sosial, budaya dan eko­no­­mi, sebagai komponen atau ele­­­men yang saling berhu­bu­ngan dan saling tergantung, yang memerlukan berbagai per­­timbangan stra­tegis futu­ris­tik (Paturusi, 2001). Nah, berkaca kepada pemaparan Ir­wan, maka akan begitu jelas ter­lihat bahwa pemerintahan beliau belum memiliki plat­fo­rm pariwisata yang jelas di sa­tu sisi dan absennya target-tar­get stategis dunia kepa­ri­wisaatn Sumbar di sisi yang la­in.

Dengan kondisi yang sa­ngat teknis dan kurang subs­tantuif tersebut, keter­hu­bu­ngan antar elemen diatas juga hilang. Akhirnya Irwan sen­diri terkesan menghindar untuk menjelaskan proyeksi kontribusi sektor pariwisata terhadap tingkat pertum­buhan ekonomi, terhadap pengurangan angka kemis­kinan, dan terhadap pen­capaian-pencapaian indikator kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, misalnya. Bukan tugas seorang Guber­nur untuk memasukan “peri­laku melayani para pelaku pariwisata” seperti yang be­liau cantumkan di langkah pertama. Lalu pada langkah kedua, beliau pun masih mem­bahas hal yang remeh soal kebersihan tempat pari­wisata alias memunguti sam­pah di lokasi pariwisata. Apa­kah perencanaan strategis seorang gubernur harus me­ma­­sukan hal semacam ini? 

Kesan yang muncul kemu­dian adalah bahwa Irwan adalah kepala sebuah badan usaha milik daerah yang me­nge­lola sebuah lokasi pariwi­sata. Hal receh seperti ini kemudian berlanjut kepada nomor tiga dan empat, yakni urusan rest area dan perilaku juru parkir. Point ke lima dan ke enam Irwan biacara soal sarana transportasi dan infra­struktur yang dibutuhkan. Dua point terakhir cukup strategis, tapi tidak mampu menggambarkan roadmap infrastruktur kepariwisataan dalam sekian tahun ke depan karena hanya menekankan pengadaan alat transportasi dan fasilitas infrastruktur yang belum ada alias terkesan sangat partial, terlepas dari target ekonomis yang akan dicapai. 

Kesanya, jika tidak ada fa­silitas ini dan itu, maka mari di­bangun. Hanya sampai di situ dan titik. Ibarat bertanya ke­pada penggemis “apakah an­da lapar?” Lalu dijawab “iya” kemudian Irwan mem­be­rinya sebungkus nasi dan uru­san selesai. Bukankah si peng­gemis hari ini lapar be­sok­pun akan tetap lapar jika te­­tap menjadi penggemis. Point pokoknya, sangat diha­rap­­kan seorang gubernur un­tuk mem­berikan rencana dan roadmap kepariwisataan Sum­bar sesuai dengan kapa­si­tas­nya sebagai gubernur, bu­kan sebagai ma­na­ger hotel di sebuah kawasan pariwisata. Semoga*

 

RONNY P SASMITA
(Analis Ekonomi Politik Internasional Financeroll Indonesia)
 

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]