Perempuan Minangkabau


Sabtu, 23 Januari 2016 - 04:14:08 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Perempuan Minangkabau

Perempuan selalu men­ja­di topik yang tidak kunjung usai di­bahas, diteliti dan di­per­bin­cangkan, tak terke­cua­li pe­rempuan Minangkabau. Pe­­­rempuan dalam susunan ma­syarakat adat Mi­nang­ka­bau memiliki peranan yang khas. Sistem kekerabatan ma­tri­linial atau benasab kepa­da ibu menjadi pembeda yang kon­tras terkait posisi perem­puan Minang dengan suku-suku lain yang ada di bumi nusantara.

Tatanan ideal adat Mi­nang­kabau telah mengatur sedemikian rupa peran pe­rempuan dalam kontek kema­syarakatan. Anak gadis Mi­nang dalam perspektif adat, pada suatu ketika akan men­jadi Bundo Kanduang. Pe­nger­tian Bundo Kanduang merujuk kepada per­kum­pulan perempuan-perempuan yang paling tua pada suatu kaum. Ada beberapa hal ter­kait dari fungsi Bundo Kan­duang yaitu: sebagai pene­rima waris dari Pusako Tinggi, menjaga keberlangsungan keturunan, dan sebagai per­lambang moralitas dari ma­sya­rakat Minangkabau.

Perempuan dalam sudut pandang adat dan kebu­da­yaan, tidak akan bisa lepas dari kaumnya. Hal ini sejalan dengan semangat dari adat Minangkabau yang sangat asing dengan individualisme. Limpapeh rumah nan ga­dang, menjelaskan perem­puan sebagai simbol dari runtuh bangunnya sebuah kaum. Anggapan bahwa baik-buruknya sebuah kaum ter­gan­tung dari perempuan-pe­rem­puannya sangat sesuai da­lam kontek pembicaraan ini.

Meski demikian, perlu disadari bahwa praktik adat dan kebudayaan pada sebuah susunan masyarakat tidak ada yang mampu berjalan secara ekslusif, bahkan untuk Mi­nang­kabau sekalipun. Kesa­daran akan hal ini juga sudah termaktub dalam pepatah lama yang mengatakan “ saka­li aia gadang, sakali tapian barubah”

Realitas masyarakat kon­tem­porer menunjukan kecen­drungan untuk menjadi glo­bal. Geliat perubahan zaman terasa begitu dinamis. Tentu saja hal ini turut memengaruhi tatanan masyarakat Minang hari ini. Modernitas adalah se­suatu yang ikut merasuki relung-relung kehidupan anak gadih Minangkabau. Batas yang tegas antara per­ada­ban barat dengan timur terasa begitu kering untuk dija­dikan pondasi dalam me­nga­nalisis prak­tis kehidupan perempuan Minang. Karena sejatinya, setiap gejala yang terjadi di barat sana, tinggal me­nung­gu persoalan waktu untuk sempai pada kehi­dupan anak nagari Mi­nangkabau.

Saya memberanikan diri untuk berpendapat, bahwa sebagian besar pe­rem­puan Minang sudah se­pe­nuhnya lepas dan ber­jarak dari adat dan ke­bu­dayaannya. Pribadi perem­puan Minang tempo dulu yang selalu mencitrakan tentang keanggunan, kewi­bawaan, simbol moralitas, beradat, bermartabat tidak lagi bisa kita temukan dalam praksis kehi­du­pannya. Anak gadih Mi­nang hari ini adalah indi­vidu-individu yang seba­gian besar tengah menga­lami bias dengan tradisi dan kebu­dayaannya sen­diri. Selain identifikasi bahasa, rasanya rumit un­tuk melihat “ke­minang­kabauan” mereka.

Ada beberapa bebe­rapa hal yang terasa begitu meng­gan­jal, misalkan ter­kait cara ber­salaman de­ngan orang lain. Tidak satu literatur pun baik yang termaktub di dalam tam­bo, dendang saluang, re­bab dan kaba yang menga­ta­kan cara orang Minang ber­sa­la­man dengan orang lain itu de­ngan cara mem­bung­kuk­kan badan, apa­lagi sampai cium tangan. Kalau per­tim­ba­ngan­nya adalah rasa hor­mat, Mi­nangkabau tidak per­nah me­ngajarkan cara yang se­ma­cam itu. Penekanan ke­bu­­da­ya­an Minangkabau ten­tang ta­ta cara hormat-meng­hor­mati ada­lah melalui keha­lu­san tata bahasa yang diper­gu­nakan. Bukan dengan lewat la­ku atau sikap yang mem­bung­kuk-bungkuk tidak ka­ruan.

Petuah adat yang menga­ta­kan raso dibaok naik, pareso dibaok turun. Orang minang bukanlah tipikal manusia yang bukak kulit tampak isi, dan bukan orang yang ber­na­lar hitam putih. Mereka cen­drung berada pada zona abu-abu terkait sikapnya dalam suatu persoalan. Itulah kena­pa, dulunya orang minang dianggap sebagai suatu suku yang sangat bagus ketika ber­hadapan dengan hal-hal yang berbau diplomasi.

Nilai-nilai yang seperti itu tidak lagi dikenali oleh seba­gian besar kita hari ini. Gene­rasi Minangkabau adalah generasi yang tidak lagi me­nger­ti perkara yang demikian. Sudah modern, sudah cang­gih. Lirik lagu “senandung perempuan negeriku” yang mengatakan perempuan mesti tau dihulu gabak hujan, tau di­kilek camin pacah, tau di­riak rasah zaman, tau dihulu persoalan rasanya meng­gam­barkan sesuatu negeri ber­nama entah berantah.  

Mencermati persoalan-persoalan yang dipaparkan pada paragraf sebelumnya, kiranya ada beberapa hal yang menjadi sebab musabab per­soalan itu terjadi, pertama, perjumpaan yang sangat sing­kat generasi Minang abad 21 dengan kebudayaannya sen­diri. Pada susunan pendidikan formal, kebudayaan asali itu hanya mewujud dalam mata pelajaran BAM yang nota­bene hanya menjadi muatan lokal pada susunan kuri­kulum. Ditambah lagi dengan gurunya yang sewaktu kuliah mengambil jurusan sastra daerah karena accidental. Bukan atas pilihan yang sadar.

Selanjutnya, adanya ang­ga­pan sebagian cerdik pandai, bah­wa adat itu sendiri sudah kehi­langan potensi untuk me­ngatur masyarakat mo­dern. Pen­dapat cerdik pandai yang di­kutip barusan, mung­kin ada be­narnya, namun saya tidak se­penuhnya sepakat. Para­dig­ma terhadap adat, tradisi dan kebudayaan harus kembali disegarkan. Meman­dang ke­bu­­dayaan, tidak harus berada da­lam pengertian tung­gal, yaitu seperangkat aturan yang te­rasa kuno dan menye­bal­kan.

Adat, tradisi dan kebu­dayaan bisa diartikan sebagai seperangkat nilai-nilai untuk mengisi ruang hampa masing-masing individu yang tidak pernah mampu diberikan oleh modernitas, yaitu mak­na. Kesadaran yang demikian akan membuat kita menjalani hingar bingar kehidupan mo­dern, tapi tetap memiliki mak­na hidup yang otonom dan berasal dari kultur kita sendiri.

Setiap diskursus terkait adat dan kebudayaan Minang­kabau dengan segala yang terkandung didalamnya ada­lah sebuah keinsyafan, bahwa kita sedang berdiskusi tentang susunan masyarakat yang sudah terjadi berpuluh-puluh tahun yang silam. Rasanya tidak adil menjustifikasi se­tiap kejanggalan dari tingkah laku tesebut sebagai tindakan yang ahistoris dan merupakan tanggung jawab mereka sepe­nuhnya. Ada dis-informasi yang sistematis, berkelanjutan dan langgeng yang membuat mereka terperangkap dalam keadaan yang seperti itu.

Tantangan ke depan ada­lah sebisa mungkin menahan diri untuk tidak menghakimi setiap kejanggalan tersebut, tapi ikut serta dalam proses belajar tentang betapa kesa­daran akan adat dan kebu­dayaan itu bukanlah sesuatu yang omong kosong. Seba­gaimana Inggit Gunarsih ber­kata kepada Bung karno ku­antar kau ke gerbang, ini hanya semacam usaha untuk menghantarkan pembaca pa­da gerbang diskusi yang lebih luas. **

 

INSAN AL FAJRI
(Penggiat Komunitas Jejak Pena)
 



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 17 Mei 2016 - 03:50:15 WIB

    Melindungi Perempuan

    Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) merilis data bahwa setiap dua jam terdapat tiga perempuan menjadi korban kekerasan seksual di Indonesia. Ini berarti, ada 35 perempuan menjadi korban kekera.
  • Kamis, 21 April 2016 - 02:26:35 WIB

    Kartini dan Politisi Perempuan

    Kartini dan Politisi Perempuan Bulan April merupakan bulan yang dekat dengan perempuan. Karena pada bulan ini dilahirkan seorang tokoh emansipasi perempuan, yaitu RA Kartini. Seorang gadis berketurunan ningrat berasal dari Jepara, Jawa tengah. Ayahnya seor.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM