Tiap Daerah Berpotensi Terkena Konflik Satwa


Selasa, 12 Januari 2016 - 02:48:23 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Kepala BKSDA Sum­bar Margo Uto­mo, me­lalui ke­pala Tata Usa­ha (TU) Te­­guh Sriyanto kepa­da Ha­luan me­nga­ta­kan, kemungkinan terja­dinya konflik satwa, seperti masuknya seekor beruang madu ke permukiman warga di kawasan Bukik Sileh Kabupaten Solok pada Ju­mat lalu, mungkin saja ter­jadi pula di kawasan lain di Sumbar. Namun, ber­da­sarkan data temuan BKSDA di sepanjang 2015 hingga awal 2016, Kabupaten So­lok, Pasaman Barat, 50 Kota dan Solok Selatan adalah beberapa daerah tempat kasus sering ditemukan.

“Di daerah Talu Pa­sa­man Barat, konflik satwa cukup sering terjadi, dan satwanya beruang madu juga. Begitu­pun di kawasan Kabupaten 50 Kota dan di Sangir Solok Selatan. Untuk Sumbar, sat­wanya memang didominasi oleh beruang madu. Satwa liar lain yang sering ditemukan selama 2015 itu buaya. Se­dangkan kasus konflik satwa harimau sama sekali tidak ada se­panjang 2015,” jelas Teguh, Senin (11/1).

Meskipun konflik satwa sering ditemukan di be­berapa daerah tersebut, Teguh menekankan bahwa ma­syarakat harus me­ma­hami bahwa satwa liar se­perti beruang madu, buaya dan harimau adalah satwa liar yang selalu bergerak. Se­hingga, bukan hal yang aneh apabila beruang madu yang ditemukan di satu tempat dan beruang madu lain yang ditemukan be­berapa hari setelahnya di tempat yang jauh dari tem­pat penemuan pertama, ada­lah individu yang sama.

“Misalnya pada ke­ja­dian kemarin, kami me­ngam­ankan seekor beruang madu di Lubuak Selasih, tapi dua ekor lainnya me­larikan diri. Bisa saja nanti ditemukan satwa serupa di tempat yang jauh dari Lu­buak Selasih, dan mungkin saja itu beruang madu yang melarikan diri di Lubuak Selasih tadi. Ya, karena satwa liar itu sifatnya ber­gerak terus,” jelasnya lagi.

Terlebih lagi untuk sat­wa harimau yang me­mi­li­ki home­ring(daya jelajah men­cari mangsa) yang tin­g­gi, yaitu sekitar 60 kilo­meter persegi. Artinya, bisa sa­ja seekor harimau berpindah dari satu kabupaten ke ka­bupaten lain yang masih termasuk ke da­lam home­ring-nya. “Home­ring itu bisa diartikan sebagai kawasan tempat satwa itu mencari makan. Begitupun dengan beruang dan buaya, mes­kipun homering-nya tidak seluas harimau,” imbuhnya.

Pembalakan Bukan Penyebab Satu-satunya

Kasus pembalakan yang sering disebut-sebut sebagai penyebab terjadinya konflik satwa, M Zaidi selaku Ke­pala Seksi Wilayah I BKSDA Sumbar dalam ke­sem­patan yang sama ikut menyetujuinya. Meskipun begitu, ia meyakini bahwa pembalakan bukanlah pe­nye­bab satu-satunya.

“Kalau semata-mata pem­­balakan, setahu kami pem­balakan terjadi se­pan­jang tahun, sedangkan satwa liar tidak ke pemukiman se­pan­jang tahun (konflik satwa tidak terjadi setiap hari). Artinya, ada waktu-waktu tertentu lainnya yang me­maksa mereka untuk ‘keluar sar­ang’ yang hingga kini ma­sih kami selidik,” ucapnya.(h/isq)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 27 September 2017 - 03:19:51 WIB

    Pemko Sawahlunto Bedah 30 RTLH Setiap Tahun

    Pemko Sawahlunto Bedah 30 RTLH Setiap Tahun SAWAHLUNTO, HALUAN - Setidaknya 30 rumah milik masyarakat tidak mampu diperbaiki dari kondisi tidak layak menjadi layak huni melalui program bedah rumah setiap tahunnya. Hal itu dilakukan untuk mengatasi masalah kemiskinan da.
  • Senin, 18 September 2017 - 16:59:29 WIB

    Tiap 40 Detik, 1 Orang Bunuh Diri

    Tiap 40 Detik, 1 Orang Bunuh Diri PADANG, HARIANHALUAN.COM - Ikatan Psikologi Klinis HIMPSI dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) Sumbar menggelar diskusi pencegahan upaya bunuh diri di Sumbar. Diskusi ini dihadiri oleh psikolog d.
  • Selasa, 07 Maret 2017 - 12:00:31 WIB

    Sebelum Banjir dan Longsor, Ada Ledakan Tiap Hari

    Sebelum Banjir dan Longsor, Ada Ledakan Tiap Hari LIMAPULUH KOTA, HALUAN – Hampir dapat dipastikan, musibah longsor dan banjir di wilayah Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Limapuluh Kota, disebabkan oleh aktivitas tambang. Pengakuan warga setempat, hampir tiap hari dinamit di.
  • Selasa, 28 Februari 2017 - 19:31:14 WIB

    Setiap Tahun, 800 Hektare Lahan Pertanian di Sumbar Beralih Fungsi

    Setiap Tahun, 800 Hektare Lahan Pertanian di Sumbar Beralih Fungsi PADANG, HALUAN -- Alih fungsi lahan pertanian menjadi perkatoran dan gedung pemerintahan menjadi ancaman produksi pangan di Sumbar. Bahkan diperkirakan 600 hingga 800 Hektare lahan pertanian beralih fungsi jadi bangunan setia.
  • Senin, 26 September 2016 - 02:00:00 WIB

    Tiap Hari Diterjang Badai, Nelayan Berlindung di Pulau

    Tiap Hari Diterjang Badai, Nelayan Berlindung di Pulau PAINAN, HALUAN — Cuaca buruk berupa badai sepekan terakhir di Pesisir Selatan, akibatkan nelayan tidak turun melaut. Sementara nelayan yang turun melaut harus berlindung di pulau terdekat untuk menghindari badai dan gelomb.

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM