Hiburan Orgen Tunggal yang Kian Meresahkan


Senin, 11 Januari 2016 - 03:34:35 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Alasan mengatakan moral dan akhlak masyarakat, terutama generasi muda di desa atau perkampungan masih terjaga dan lebih baik, karena pengaruh negatif seperti tempat hiburan sejenis diskotek, pub, music­room, karaoke, akses internet dan sejenisnya di perkampungan nyaris tidak ada. Sedangkan di kota, sepertinya halnya Kota Padang jika kita bicara soal Sumatera Barat (Sumbar), fasilitas-fasilitas yang demikian mudah ditemui. Fasilitas tersebut sangat familiar dengan peredaran narkoba dan alkohol.

Namun tidak sedikit juga yang mengatakan justru akhlak dan moral remaja dan masyarakat di kawasan pedesaan atau perkampungan yang rentan rusak. Dekadensi akhlak dan moral di pedesaan lebih tinggi. Meski di kota banyak fasilitas hiburan, namun masyarakatnya telah memiliki filter dan tak mudah terpengaruh oleh dunia hiburan itu. Tempat hiburan di perkotaan di hari-hari libur dan hari tertentu pengun­jungnya yang dominan justru dari desa.

Berikutnya kemerosotan moral dan akhlak masya­ra­kat di desa dan kampung  lebih memprihatinkan ter­konfirmasi dari kerisauan atas keberadaan hiburan organ tunggal yang dibubuhi oleh tarian erotis, pakaian seksi alias sangat minim, sehingga auratnya diperton­tonkan . Perfor­mancennya  sangat jauh dari nilai-nilai ABS SBK (adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah), filosofi yang sangat dibangga-banggakan masyarakat Minangkabau.

Hiburan organ tunggal di desa tidak sulit mene­mukannya. Nyaris sebagian besar keluarga yang menyelenggarakan pesta perkawinan menyewa organ tunggal sebagai hiburan . Di daerah tertentu seperti Kota Pariaman, Kab. Padang Pariaman, Kab. Pesisir Selatan  dan beberapa daerah lainnya, sering menjadi sorotan tentang pakaian artis organ tunggal yang sangat seksi. Roknya jauh di atas lutut. Lengan bajunya sangat pendek sehingga keteknya terlihat. Baju dengan belahan dadanya jauh ke bawah sehingga sebagian payu daranya terlihat.

Begitu pakaian, riasan dan dandanan artis organ tunggal di daerah tersebut. Makin malam pakaiannya makin minor. Memasuki tengah malam si artis lokal kelas kampung itu ikut berjoget dengan penonton. Mohon maaf, ada juga penonton yang ikut berjojet memberikan saweran berupa uang  kepada artis lokal dengan menyelipan uang kertas itu di belahan payudara sang artis atau pun di pinggang rok mini si artis. Nyanyian dan musiknya mayoritas dangdut dan rock triping. Jam tayangnya hingga pukul 02.00 – 03.00  WIB.

Penontonnya berjubel, orang dewasa, pelajar, anak-anak dan termasuk perangkat nagari seperti walinagari, peng­hulu adat, pengurus masjid, kepala SKPD, kepala da­erah dan lainnya. Mamak dan kemanakannya sama-sa­ma ikut menonton aksi yang demikian. Bila sudah be­gitu, terasa seperti sawah yang tidak lagi memiliki pe­matang. Tidak ada lagi batasan antara mamak dengan ke­menakan, penghulu dengan kaumnya, bapak dengan anak, kakek dengan cucunya, guru dengan murid dan lain sebagainya.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ke­luarga Daerah Piaman (DPP PKDP), Suhatmansyah Is su­dah sering menyampaikan keprihatinannya atas per­soalan ini. Empat tahun lalu di Jakarta dia juga sudah me­ngeluarkan statemen, tetapi praktik yang serupa  terus ber­ulang di Kota Pariaman dan Kab. Padang Pariaman. Pada hari Minggu (10/1) dalam rilisnya, Ketua Umum DPP PKDP itu kembali menyampaikan kepri­hatinannya. Dia meminta agar pemerintah daerah beserta stake holder lainnya memerhatikan persoalan tersebut.  Hal itu juga marak di Pesisir Selatan (Pessel).

Pemkab Pasbar beserta stake holder di daerah itu juga sempat kelimpungan menghadapi kasus organ tunggal. Pada akhirnya terbit Perda Pasbar yang mengatur tentang hiburan organ tunggal. Harus seizin pemerintah setempat jika ingin melaksanakannya. Dilarang sampai malam hari, kalau sampai malam hanya pukul 23.00 WIB. Pakaian penyanyi harus sopan dan tarian tak boleh arotis. Baharuddin yang menjabat Bupati Pasbar 2010-2015 terbilang ketat mengawasi pelak­sa­naan perda ini. Ada baiknya setiap pemda juga me­ngeluarkan perda soal pengaturan hiburan un­tuk pesta perkawinan dan menganjurkan meng­gunakan hiburan seni tradisi lokal, seperti  saluang, talempong, randai, rabab dan lainnya.**



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM