Ketum PBNU: Islam-Nasionalisme Harus Bersinergi


Senin, 11 Januari 2016 - 02:49:15 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Hal itu dikatakan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof.Dr.KH. Said Aqil Siraj, MA dihadapan keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Yaqin, Ringan-Ringan, Pakandangan, Kecamatan Enam Ling­kuang, Sabtu (9/1).

Kiai Said tampil dalam acara memperingati Maulud Nabi Muhammad Saw yang di­se­leng­garakan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Acara dihadiri Pimpinan Pesantren Nurul Yaqin Syekh H. Ali Imran Hasan, Ketua Yayasan Pesantren Drs. Idarussalam, Ketua PW NU Sumbar Maswar, Bupati Padang pariaman terpilih Ali Mukhni, alumni, jamaah dan ratusan santri Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan.

Kiai Said memberikan contoh negara Af­ganistan yang 100 persen masyarakat Islam. Namun apa yang terjadi dan disaksikan kini. Negara tersebut saling bermusuhan, berkonflik, sesama masyarakatnya. Begitu pula negara Somalia yang 100 persen masyarakatnya Islam, mengalami nasib yang menyedihkan pula karena sesama warganya terus berkonflik.

“Kondisi yang menyedihkan saat ini Irak. Ibukotanya Bagdad yang pernah menjadi pusat peradaban Islam kedua dunia dulunya, kini kondisinya amat menyedihkan. Bayangkan di sana terjadi ledakan bom di mana-mana. Ledakan bom di mall, bahkan yang ironisnya ledakan bom di masjid. Mana ada ajaran Islam membolehkan ledakan bom di masjid, membunuh orang di masjid. Saking tidak amannya lagi di kawasan Irak, banyak warganya melarikan diri ke Eropah. Mereka mencari tempat yang lebih aman untuk hidup. Mereka harus meninggalkan tanah airnya, sekalipun penuh resiko dan tantangan,” kata Said Aqil Siraj.

Kiai Said Aqil juga mencontohkan negara Syria yang sudah dilanda perang saudara sejak 4 tahun belakangan. Perang saudara tersebut sudah pasti banyak yang terbunuh dan kerugian. “Dari contoh tersebut, konflik antar warga dalam satu negara terjadi karena tidak adanya rasa nasionalisme kebangsaan diantara warganya. Mereka tidak mencintai tanah airnya.

Berbeda dengan konsep yang sudah diajarkan oleh para kiai dan ulama terdahulu di Indonesia. Mereka melihat dan melahirkan konsep Islam harus diperjuangkan, tapi tanah air pun harus dibela mati-matian keutuhannnya.  Konsep ini sudah dipikirkan oleh pendiri NU KH Hasyim Asy’ari, jauh sebelum kelahiran negara Indonesia.

“Ketika bangsa Belanda datang lagi ke Indonesia setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan 17 Agustus 1945, maka KH Hasyim Asy’ari mengumpulkan sejumlah kiai-kiai dari Sumatera, Jawa, Madura dan lain-lainnya pada pertengahan Oktober 1945. Hasilnya, 22 Oktober 1945 keluar Resolusi Jihad yang menyebutkan, setiap umat Islam wajib membela tanah air dari serangan bangsa Belanda yang kembali ingin menjajah. Mereka yang tewas dalam pertempuran melawan bangsa penjajah, adalah mati sahid. Sedangkan orang yang turut membantu musuh (Belanda), adalah pengkhianat tanah air. Hu­kumnya, boleh dibunuh,” kata Said Aqil.

Menurut Kiai Said, agama tidak perlu di­konstitusikan. Tapi agama yang penting diamalkan oleh pemeluknya di dalam negara itu. Buat apa negaranya berdasarkan Islam, tapi tidak damai, selalu konflik, tidak aman, masyarakatnya banyak korupsi, narkoba, judi. Negara yang tidak ber­dasarkan Islam, tapi bebas dari ketidakdamaian, tidak berkonflik, hukum tegak, penduduknya dikenal dengan santun yang sesuai dengan ajaran Islam.

Nabi Muhammad Saw sendiri membangun Negara di Yastrib bukan Negara Islam.

Hanya Negara Madinah, Negara yang ta­maddun. Di sana sudah ada berbagai suku dan agama yang berbeda hidup berdampingan. Ada kaum Muhajirin dari Mekkah, kaum Ansor, Yahudi dan berbagai suku lainnya. “Nabi sudah me­ngajarkan tidak boleh menyakiti dan menzalimi umat non-muslim. Mereka hidup berdampingan satu sama lain,” kata Kiai Said Aqil.  (h/bus)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 20 Mei 2016 - 03:38:57 WIB

    Simpatisan Golkar Kota Solok Sayangkan Tomi Suharto Gagal Jadi Caketum

    SOLOK, HALUAN — Ti­dak masuknya Hutomo Man­dala Putra alias Tomi Soeharto pada bursa Calon Ketua Umum (Caketum) Partai Golkar, membuat simpa­tisan­nya di Kota Solok ke­cewa. Pada hal dari awal banyak berharap putra bun.
  • Senin, 11 Januari 2016 - 02:48:36 WIB

    Ansor Kawal Kunjungan Ketum PBNU

    PADANG PARIAMAN, HALUAN — Sementara itu, Gerakan Pe­muda Ansor Kabupaten Padang Pa­riaman siapkan puluhan pe­ngurus dan kadernya mengawal kedatangan Ketua Umum Pe­ngurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof. Dr. KH Said Aq.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM