Harau ‘Surga Wisata’ yang Tak Terkelola


Sabtu, 09 Januari 2016 - 01:03:42 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Harau ‘Surga Wisata’ yang Tak Terkelola Objek wisata Lembah Harau di Kabupaten Limapuluh Kota yang begitu indah dan masih asri belum terkelola dengan baik, sehingga belum banyak tergali manfaatnya bagi daerah dan masyarakat dari potensinya yang begitu besar.

PAYAKUMBUH, HALUAN — Objek Wisata Lembah Harau, terletak di dekat perkampungan dan hutan nan asri yang tak jauh dari Jalan Nasional, Sumbar-Riau. Hanya 5 km saja dari Sarilamak, Ibukota Kabu­paten Limapuluh Kota dan sekitar 8 km dari Jembatan Kelok 9 yang terkenal itu.

Dengan luas hampir 250 hektar, objek wisata ini terletak menyatu di dua nagari. Yakni Nagari Taran­tang dan Nagari Harau, Kecamatan Harau. Ber­bagai wahana wisata bisa dinikmati di Lembah Ha­rau. Dari wisata air berupa kolam renang dan pe­man­di­an, wisata alam berupa keindahan tebing yang men­julang tinggi serta panorama alam  hingga wisata ekstrim berupa panjat tebing.

Untuk menuju objek wisata Lembah Harau, hanya bisa dilalui dengan satu jalur.  Digerbang utama akses menuju objek wisata yang terletak hampir 5 kilometer, tidak ada tanda-tanda istimewa ataupun simbol  terhadap objek wisata yang terkenal tersebut.

Hanya gerbang tua yang di­bang­un belasan tahun lalu men­yam­but kedatangan wisatawan yang akan mendatangi Lembah Harau.  Dengan melintasi ruas jalan selebar  3,5 meter,  areal persawahan di kiri dan kanan jalan, akan menyambut per­jalanan wisatawan untuk menuju Lembah Harau.

Sesekali, jalan berlubang. Beberapa perumahan warga, juga ada di kedua sisi jalan sepanjang perjalanan wisatawan menuju Lembah Harau. Tiga kilometer perjalanan  setelah dari gerbang Lembah Harau yang berdekatan dengan Kantor Bupati Lima­puluh Kota, wisatawan akan melewati pos pembelian karcis sebagai syarat untuk masuk ke wisata Lembah Harau.

Beberapa pemuda   dari Nagari Harau dan Tarantang dengan jumlah hingga 10 orang, telah menanti kedatangan wisa­ta­wan yang akan berkunjung. Dengan berpakaian bebas, pe­muda yang bertugas sebagai penjaga pintu masuk Lembah Harau tersebut menghitung pe­ngun­jung yang berada di ken­dara­an. Perorang dikenakan Rp 5.000. Anak-anak kadang tidak dihitung. Hanya saja, pengunjung tidak diberi karcis, cuma  di­mintai uang masuk.

Seyuman dan sapa ramah dari para penjaga pos dan petugas yang meminta uang masuk terasa sangat mahal. Memang tidak ada seulas senyuman pun dari me­reka. Sapa selamat datang pun tidak. Begitulah dari hari ke hari dan tahun ke tahun. Lilen, salah seorang warga Kota Padang yang awal tahun 2015 pernah berwisata ke Lembah Harau juga kembali menemukan  perlakuan yang sama di awal tahun 2016.

“Tak ada senyum dan tak ada sapa selama datang, aneh sekali. Uang masuk diminta, tapi karcis bukti bayar tidak diberikan ke­pada kami. Sangat berbeda deng­an objek wisata Pantai Carocok, Painan.   Padahal alamnya jauh lebih indah dan asyik ketimbang Carocok Painan atau pun Ka­wa­san Mandeh Pesisir Selatan yang kini lagi digemari wisatawan,” kata Lilen, Sabtu (2/1) di Payakumbuh.

Usai membayar uang masuk, wisatawan belum lagi sampai ke objek wisata Lembah Harau. Wisatawan harus kembali me­lan­jutkan perjalanan sejauh 2 kilometer lagi untuk sampai di Lembah Harau. Lembah-lembah perbukitan  yang menjulang tinggi hingga 200 meter men­yam­but kedatangan wisatawan. Din­ding-dinding berelif itu mena­warkan karya seni Sang Maha Pencipta yang amat indah.

Sesampai di kawasan Lembah Harau, wisatawan akan terpukau dengan keindahan alam di sana. Air terjun dari perbukitan, lem­bah bebatuan, hijaunya alam serta suasana hutan yang masih asri dan sejuknya udara membuat wisatawan betah berlama-lama di Lembah Harau. Objek wisata ini juga terbagi dua, satu Lembah Harau di Nagari Harau dan  Sarasah Bunta yang masuk ke dalam Nagari Tarantang.

Setiba digerbang lama, jika  berbelok ke kiri menuju menuju Lembah Harau atau yang dikenal juga dengan nama ‘Akar Barayun’. Jika berbelok ke kanan menuju kawasan Sarah Bunta. Isti­me­wa­nya di kawasan Sarah Bunta terdapat tiga buah air terjun. Sejumlah koteks atau homestay berdiri di lokasi ini sejak tiga tahun belakangan. Di kawasan ini juga ada erena bermain. Namun tempat-tempat itu sudah di­kapling-kapling pihak tertentu dan sebagian pengunjung merasa bingung, karena juga ditagih uang masuk dan lain  sebagainya, tanpa ada tiket atau karcis.

Lembah Harau yang me­ru­pakan objek wisata yang pertama kali ditemui oleh pengunjung dari Riau saat memasuki wilayah Sumbar, pengelolaan dan pe­nataannya tidak sehebat nama besar Lembah Harau yang sudah sangat kesohor. Pengelolaannya bahkan jauh tertinggal jika di­ban­ding­kan objek-objek wisata lain­nya yang ada di Sumbar.  Dari tahun ke tahun, Lembah Harau masih seperti itu. Baik dari segi infrastruktur, pelayanan serta fasilitas pendukung lainnya.

Seperti yang pernah diakui mantan Wakil Bupati Limapuluh Kota Asyirwan Yunus, Lembah Harau memang memiliki potensi yang luar biasa dan sangat men­janjikan bagi  daerah tetapi tidak terkelola dengan  secara mak­simal. Berbagai upaya telah dila­kukan Pemkab Limapuluh Kota melalui Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga untuk memajukan objek wisata Lem­bah Harau. Seperti melengkapi fasilitas,  dari toilet, tempat ibadah serta sarana prasarana jalan.

Kepala Dinas Pariwisata Ka­bu­paten Limapuluh Kota, Nofian Burano mengungkapkan, ken­dala utama dari Lembah Harau, yakni objek wisata tersebut tidak 100 persen dikelola oleh Pemkab Limapuluh Kota. Melainkan turut dikelola oleh masyarakat yang ada di Nagari Tarantang dan Nagari Harau. “Pemerintah ha­nya memfasilitasi objek wisata Lembah Harau. Kita terus be­ru­paya bagaimana harus bisa ma­ju,”terang Nofian Burano. Setiap tahun, Dinas Pariwisata Ka­bu­paten Limapuluh Kota setidak­nya mengucurkan anggaran ham­pir  Rp 1 miliar untuk mem­benahi dan melengkapi objek Lembah Harau.

“Anggaran tersebut terdiri dari kegiatan penunjang wisata Lembah Harau, untuk mem­bangun infrastruktur pendukung dan peningkatan pelayanan ter­hadap pengunjung,”ucapnya lagi. Nofian Burano merasakan, ka­wasan wisata Lembah Harau masih berbentuk klasik dan tradisional. Sehingga hal tersebut menjadi salah satu kendala tidak majunya wisata Lembah Harau.

“PAD dari Lembah Harau, baru Rp 500 juta. Sudah termasuk penjualan karcis dan restribusi dari pedagang. Sedangkan parkir dikelola masyarakat setempat. Hunian-hunian berupa homestay juga mulai tumbuh di Lembah Harau,”tuturnya.

Untuk kunjungan, pada 2015 setidaknya ada 150.000 wisa­tawan. Terdiri dari 146.000 wisatawan nusantara  dan 4.000 wisatawan mancaneraga. “Dinas pariwisata terus berupaya bagai­mana kunjungan wisatawan me­ning­kat ke Lembah Harau,” tambahnya.

Butuh Sentuhan Pihak Ketiga

Camat Harau, Deki Yusman mengatakan Lembah Harau yang terletak di 2 nagari dan 3 jorong tersebut sudah saatnya me­libat­kan investor dalam penge­lolaan­nya.  Sehingga objek wisata yang dibanggakan Kabupaten Lima­puluh  itu ke depan bisa bersaing dengan objek wisata lainnya yang ada di Sumbar ataupun di Indonesia.

“Kita bandingkan dengan objek wisata yang ada di luar negeri ataupun di nusantara, Lembah Harau tak kalah me­narik. Bahkan Lembah Harau unik dari yang lain. Tetapi penge­lolaannya  yang belum mak­simal sehingga tetap saja Lembah Harau jadi tertinggal,”tuturnya.

Tidak adanya ikon wisata Lembah Harau pada gerbang pintu masuk yang terletak di ruas Jalan Sumbar-Riau, turut me­neng­gelamkan keberadaannya. “Seharusnya pada gerbang pintu masuk, ada ikon Lembah Harau sebagai daya tarik kunjungan wisatawan. Sehingga pengguna jalan dari Riau ke Padang atau sebaliknya, berkunjung dahulu ke objek wisata Lembah Ha­rau,”ucapnya.

Contohnya saja, katanya, ob­jek wisata Lembah Harau selalu terlewati bagi pengguna jalan dari Riau. Hal tersebut, tidak adanya tanda-tanda terhadap objek wisata Lembah Harau pada gerbang utama pintu masuk. “Kenapa mereka lebih memilih Bukittinggi dari pada Lembah Harau, padahal alam Lembah Harau jauh lebih in­dah, ”terangnya.

Selain icon pada gerbang utama, pelayanan terhadap pen­jual tiket/karcis masuk ke objek wisata Lembah Harau harus ditingkatkan. Seperti harus ber­pakaian khusus dan memberikan pelayanan yang baik setiap wisa­tawan yang akan masuk ke Lem­bah Harau.

“Kita lihat saja, penjaga karcis malah terkesan seram. Tidak ramah sehingga ini menakutkan bagi wisatawan. Sudah banyak pengaduan terhadap penjaga pos karcis dan sudah dilaporkan ke Dinas Pariwisata,” sebutnya. Selain itu, kata Deki Yusman, yang harus dilakukan Dinas Pariwisata adalah memindahkan tempat karcis ke kawasan yang lebih dekat dengan objek wisata Lembah Harau. Sehingga, pe­ngun­jung akan lebih nyaman untuk masuk ke objek wisata.

Perantau Kabupaten Lima­puluh Kota di Kota Batam, Armon Bahar juga menilai Lem­bah Harau sebagai sorga wisata yang tidak terkelola dengan baik. Dia juga tidak menampikan bahwa Lembah Harau sebagai objek wisata alam yang paling indah di  Sumbar. Namun ke­inda­han berserta potensi eko­nomi yang terkandung di Lem­bah Harau tidak tergarap dan tak terkelola dengan baik.

Jika dikelola dengan baik dan professional, daerah dan nagari dapat retribusi, masyarakat dapat pekerjaan dan kesempatan ber­binis, alam Lembah Harau yang begitu indah juga bisa digaja ke­les­tarian­nya. “Saya pikir, jika Pemkab Limapuluh Kota atau pihak nagari tidak bisa menge­lola dengan baik, solusi yang tepat diserahkan saja pengelolalaannya kepada pihak ketiga. Dengan lancarnya akses Sumbar-Riau, saya pikir akan banyak pihak yang tertarik dalam mengelolanya,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Elektrik Indonesia (APEI) Pro­vinsi Kepri itu tadi malam. (h/ddg/erz)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 16 Desember 2016 - 01:07:36 WIB

    Pemprov Minta Grand Design Lembah Harau

    LIMAPULUH KOTA, HALUAN – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mulai melakukan pengembangan terha­dap detinasi wisata di daerah. Salah satu kawasan wisata yang sudah ditetapkan sebagai destinasi wisata Sumatera Barat adalah L.
  • Senin, 28 November 2016 - 01:05:51 WIB

    SMAN 1 Harau Ciptakan Siswa Jadi Wirausahawan

    SMAN 1 Harau Ciptakan Siswa Jadi Wirausahawan LIMAPULUH KOTA, HALUAN — Sulitnya lapangan kerja saat ini dan semakin tingginya tantangan hidup , terutama bagi generasi muda tamatan sekolah. Kondisi itu mendorong SMAN 1 Harau mendidik siswa-siswi untuk membuka lapangan k.
  • Selasa, 01 November 2016 - 01:23:53 WIB
    DUKUNG PENUH WHTA 2016

    Wisata Harau Siap Mendunia

    Wisata Harau Siap Mendunia LIMAPULUH KOTA, HALUAN — Pemkab Limapuluh Kota, mendukung penuh Sumatera Barat untuk pemenangan Kompetisi Wisata Halal Internasional World Halal Tourism Award -WHTA 2016. Iven ini dinilai sejalan dengan visi-misi daerah Lua.
  • Kamis, 06 Oktober 2016 - 03:14:59 WIB

    Presiden Akan Jadi Irup HBN di Singa Harau

    Presiden Akan Jadi Irup HBN di Singa Harau LIMAPULUH KOTA, HALUAN — Presiden RI Joko Widodo menurut rencana akan me­mimpin upacara peringatan Hari Bela Negara (HBN) tanggal 19 Desember mendatang di GOR Singa Harau, Ketinggian Sar­i­lamak, Kecamatan Harau..
  • Sabtu, 06 Agustus 2016 - 04:15:19 WIB

    Start Etape II TdS Dipusatkan di Harau

    Start Etape II TdS Dipusatkan di Harau LIMAPULUH KOTA, HALUAN — Etape II Tour de Singkarak (TdS) yang akan berjarak tempuh 119,5 Km 6-14 Agustus mendatang, akan ditempuh start awal di Lembah Harau..

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM