Pertemuan


Sabtu, 09 Januari 2016 - 00:54:23 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Saat-saat pintu kamar ibu bila tak terkunci  kucari kotak yang tak kuketahui isinya itu tetapi aku tak menemukan apa-apa. Aku juga mengatakan kondisi seperti itu kepada kakakku yang paling sulung, ia juga tak tahu, kakakku memang dasarnya cuek ,dan tak pernah tahu persoalan yang ada dirumah. Ia sibuk berfoya-foya bersama teman kampusnya, dan untuk masalah yang terjadi dikeluargaku hanya akulah yang tahu. Sejak ibu berpisah dari ayah memang keluaga kami kurang harmonis. kakak dan ibu tak peduli lagi denganku. kami sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing.

Hari itu hari yang paling mencurigakan bagiku sehabis pulang sekolah dari SMA harapan bunda yang agak jauh dari rumahku, aku pergi dengan sepeda motor yang kukendarai, aku tak sengaja tak pulang kerumah ,karena aku bersama teman-temanku akan belajar kelompok sebuah tempat yang rimbun yang jauh dari kota, beberapa taman bermain anak-anak lengkap ditaman tersebut. tempat tersebut berupa taman yang disulap menjadi taman belajar, biasanya para remaja-remaji didaerahku kalau santai-santai santai mereka biasanya ketaman itu.aku, angel ,dan vita teman-temanku, memarkirkan sepeda motor kami. tak lama dari pandanganku sekilas kulihat sebuah mobil bermerek xenia yang terparkir setelah tiga kendaraan sepeda motorku. Mobil itu bernomor plat E0015. Mobil ibu, pikirku. Aku pun tak tahu ada apa ibu ketaman ini. Apa ibu tak masuk kantor hari ini, pikirku lagi, sampai aku berpikir panjang mengenai ibu,tiba-tiba, “hei rum, loe kok ngelamun,” ucap vita melambaikan tangannya kewajahku. “ngak, gue Cuma.. cuma..,” jawabku mencari jawaban lain.

“yuk kita masuk,” sambung vita tanpa mendengar jawabannku dulu. Akhirnya aku pun masuk bersama teman-teman setelah membayar karcis masuk.

Pikiranku ku mengenai ibu sekilas hilang karena tampak ,anak-anak yang asyik bermain ditaman ditambah pemandangan penjual-penjual makanan rapi dan teratur menjajakan makanannya ditiap-tiap sudut kami berjalan. “Rum ,kita disini aja belajarnya dibawah pohon situ panas,” ucap vita menunjuk kearah pohon yang besar itu. Aku pun langsung bersama teman–teman memulai pengerjaan tugas kelompok kami, beberapa makanan puas kami beli ditaman tersebut, lewat  dua puluh menit, pikiranku tersentak . ibu. aku harus menemukan ibu disekitar sini. Aku pun langsung bergegas cari ibu. “mau kemana rum,”  ucap vita setengah teriak lima langkah setelah beranjak dari tempat dudukku. “Tunggu disana ,aku mau cari sesuatu,” teriakku dari kejauhan.

Beberapa setiap sudut taman kucari ibu, sampai-sampai ku melihat seseorang yang berpenampilan mirip ibu, setelah kulihat dia bukan ibu. Aku harus menemukan ibu,ada apa ibu ketaman ini,” tegasku dalam hati. Saat ku duduk disalah satu sudut taman dekat permainan anak-anak. tiba-tiba dari kejauhan aku melihat sosok ibu duduk sendirian. entah siapa ditunggu sama ibu ,tapi aku yakin sekali itu ibu, pikirku. Bagaimana pun taman saat itu agak ramai dikunjungi oleh anak-anak kecil maupun yang muda. Saat kuhampiri kesana, aku tiba-tiba tersenggol oleh seorang pria bertubuh besar dengan sedikit tonjolan biru dikeningnya dan berkumis runcing ia membawa sebuah bingkai foto besar, sepertinya itu foto prewedding.

“Maaf dek,” ucapnya padaku. “Ya ngak apa-apa pak,” jawabku sedikit kesakitan pada tungkai kakiku. setelah pria pembawa foto besar itu pergi, aku pun berdiri dan tak tampak ibu lagi, aku coba cari tahu kepada orang-orang disekitar tempat dimana ibu duduk, tapi tak ada yang mengenal ibu.

Akhirnya aku pun kembali ketempat teman-teman kelompokku. “rum dari mana saja loe ,gue tunggu lama banget,” tanya Vita. “memangnya sudah selesai tugasnya,”jawab Angel ketus kepadaku dengan wajah sedikit marah. “Sudah,” jawabku lantang. “yuk kita pulang,” sambungku kepada mereka. Akhirnya aku pun bersama teman-teman keluar dari taman. kulihat didepan pagar taman. mobil ibu tak ada lagi diparkiran itu. Sepertinya ibu sudah pergi, jawabku dalam hati. Akupun bergegas pulang kerumah bersama teman-teman ,hingga kami berseberang jalan menyusuri rumah masih masing.

Waktu menunjukkan pukul 06.00 sore kulihat jam ditanganku. Akupun sampai kerumah. Pintu pagar dibuka oleh pak riko, satpam dirumahku. Kutanyai ibu kepada pak riko. “apa ibu sudah pulang pak.”

“belum non.” Jawabnya sambil menutup pagar.

“itu mobil ibu ?”  tanyaku sambil menunjuk kearah mobil yang berada di garasi.

tadi nyonya pulang sebentar, lalu pergi lagi.”

tanpa menanyakannya sekali lagi, aku pun  masuk kedalam rumah, kunaiki tangga kekamarku, lalu kuhempaskan tubuhku yang lelah ini kekasur yang empuk. belum sempat kuhirup sedikit demi sedikit nafasku yang terbaring bersama tubuhku, suara klakson mobil seperti terdengar oleh telingaku memasuki halaman rumah. Aku pun tersentak berdiri melihat kejendela kamar, kulihat ibu turun dari sebuah mobil. Ibu bersama sosok seorang pria yang melambaikan tangannya dari jendela mobil yang terbuka lebar ketika ingin meninggalkan halaman rumah. ibu bersama siapa?dan kemana ibu tadi siang? dan apa ibu pulang lembur sekarang? tak biasanya ibu pulang jam segini?. pertanyaan demi pertanyaan menggelumuti isi pikiranku, sampai aku tak bisa menangkap jawaban demi jawaban yang tak bisa kujawab dengan sendirinya. Aku pun keluar dari kamar. kulihat ibu duduk diruang keluarga sendirian sambil melamun. Lalu aku bergegas menemui ibu, sebelum menghampiri ibu, aku pura-pura ingin mengambil segelas air dari dapur.

Setelah dari dapur, aku duduk berseberangan dari tempat ibu duduk dan kunyalakan televisi. Kami berdua tak saling menyapa sekalipun. Kutunggu ibu memulai percakapan. Dan pas, ibu menanyaiku duluan.  “Dari mana kamu rum? pulang terlambat kamu ya?”.

 “enggak dari tadi, “ jawabku.

“kenapa belum ganti baju,”.

 “sebentar lagi bu, aku baru bangun,” Jawabku sambil menukar acara televisi yang kucari satu persatu.

 “Kakakmu mana.”

  “tak tahu bu.”

 “darimana ibu tadi ?”

  “dari kerjalah banyak tanya kamu.”

 “ tadi kan ibu banyak tanya padaku..”

Ibu tak membalasnya dan langsung meninggalkanku menuju tangga. saat berjalan mau menaiki tangga, aku segera menanyai ibu perihal yang kulihat ditaman tadi.  “aku ihat ibu ditaman tadi siang?sedang apa ibu disana?” Ibu memberhentikan langkah kakinya dari tangga yang akan dinaikinya lalu menatapku tajam.

“Ibu kerja tadi rum ,kenapa kamu menanyai ibu seperti itu,” tegasnya.

“Arumi lihat mobil ibu tadi,” tanyaku semakin penasaran.

“kamu mungkin salah lihat,” Sangkal ibu.

 tidak ibu, plat mobilnya E0015, ibu jangan menyangkal lagi,”. Desakku lagi.

 “sudah rum, ibu capek,”. Tegasnya.

 “tapi buu..”.  dan ibu pun berjalan lagi tanpa mendengarkan pertanyaanku lagi.

Besok sorenya sehabis pulang sekolah aku pergi menemui ibu ditempat kerjanya sebenarnya mau jemput sekalian karena pagi tadi ibu tak membawa mobilnya. tapi setelah kutanyai kepada teman kantor ibu yang berada disana. Ia  sudah pulang sebentar ini. Jawabnya kepadaku. Aku pun tak langsung pulang pulang kerumah ,karena menurut pikiranku ibu pasti sudah pulang. Dengan mengendarai sepeda motorku, aku langsung teringat ada janji dengan vita temanku. Vita pasti nunggu aku direstoran tempat kami biasanya nongkrong pikirku. sesampai direstoran tersebut, Vita bersama temanku lainnya melambaikan tangannya. Aku pun menghampirinya. “loe kemana aja sih ,lama banget,” tanya Vita sedikit kesal kepadaku.  “tadi macet.” Tinggal makanan loe lagi belum dipesan, kata gue loe ngak datang.” Saat aku mau memesan makanan, tiba-tiba aku melihat ibu bersama pria bergandengan tangan masuk kedalam restoran yang sama denganku. Kuurungi niatku memesan  makanan. “Gue ngak jadi pesan makanan, gue pulang dulu ya,” jawabku siap-siap merapikan tas tanpa medengarkan pertanyaan selanjutnya dari vita aku pun bergegas meninggalkan restoran itu.  Kutancap gas pulang kerumah., setelah sampai, aku langsung kekamar ibu. Pintunya terkunci. Aku pun berusaha untuk menemukan kotak yang disimpan ibu. Dimana ibu menyimpana kunci itu, Pikirku saat mencari kesemua tempat. Tiba-tiba ingatanku muncul kemarin aku lihat ibu mengambil kunci kamarnya dari lemari samping kamarku. Lalu aku mencari dilemari itu dan aku menemukannya. Aku pun  segera membuka kamar ibu, seisi kamarnya kucari satu persatu. Tapi tak menemukan apa-apa.  Tiba-tiba pikiranku berdalih keruang bawah tanah, ibu sering keluar masuk menyimpan barang-barang usang disana. Aku pun mencari keruang bawah tanah tersebut.  Pintunya tak terkunci. Kucari kesemua barang-barang itu. Salah satu barang disana ada yang tertutup kain usang berwarna putih. Kubuka. Aku menemukannya. Sebuah kotak yang telah lama kuincar-incar itu. Kulihat didalamnya sebuah surat yang terselip. Kubaca surat itu. Dibawah surat itu tertera. WIJAYA. Ayah. bisikku

Lewat pukul sembilan malam terdengar suara ibu pulang mengetok pintu. Pintu lalu dibuka bibi onem. Pembantu dirumahku. aku segera keluar menemui ibu. “aku mau berbicara sama ibu ?”.

“Ibu lelah, besok saja bicaranya,” ketus ibu.

“Aku mau sekarang,” tegasku kepada ibu sambil memengang kedua tangannya.

“Ada apa rum ?” tanya ibu bersikap lemah lembut kepadaku.

“Dimana ayah sekarang?”

Ayah kamukan sudah tiada ,jadi jangan tanya itu lagi.”

“Ibu pasti bohong ? ini?” ucapku sambil menyodorkan sebuah kotak yang disimpan ibu selama ini.

“Kamu sudah tau sekarang kan, ibu sudah lama pisah dari ayah.”

“Lalu lelaki itu siapa yang aku lihat ditaman dan direstoran bersama ibu dan aku lihat ibu bergandengan tangan dengannya? jawab bu...........?”

“Kamu mau tau Arumi, besok malam kamu ikut ibu.” Jelas ibu. tanpa mendengarkan pertanyaan yang aku lontarkan sekali lagi.

Akhirnya besoknya aku dan kakak dibawa ibu kesuatu tempat dengan mobil. Sesampai ditempat tersebut hanya kami bertiga saja bersama ibu. Dan tiba-tiba saat kami berjalan menuju meja yang sudah terhidangkkan makanan itu, ada sosok pria yang duduk disana. Aku semakin penasaran, siapa dia. Dan kami bertiga menghampiri kesana.

Silakan duduk,  ucap pria itu dengan kami. Ibu pun menjelaskan kepadaku yang selama ini disembunyikannya. “ibu mau menikah lagi,” lantang ibu. “Jadi wijaya itu om?” tanyaku kepada pria itu. Pria yang kupanggil om itu hanya tersenyum kepadaku. Dari senyumku kukatakan dengan menggengam erat tangan ibu. “aku bahagia kalau ibu juga bahagia.”

Dan malam itu adalah malam yang tak terlupakan bagiku. Pertemuanku dengan pria yang akan menjadi ayah tiriku sekaligus menemani ibu dihari tua nya nanti. Aku tahu sekarang, aku dan kakak, tak pernah tau tentang ibu. Kami berdua telah cuek kepadanya dan tak pernah tau apa yang membuat ibu bisa bahagia. (**)

 

Cerpen Karya :
SEPTIE MIRANDA AYURI



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM