(Refleksi HAB Kemenag ke-70)

Meneguhkan Revolusi Mental


Jumat, 08 Januari 2016 - 03:26:05 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Meneguhkan Revolusi Mental

Di usia yang ke-70 meman­cang­kan sejumlah tekad de­ngan mengusung tema” Me­ne­guhkan Revo­lusi Mental untuk Kemen­te­rian Agama yang bersih dan melayani”. Sebuah te­ma yang mensasar segenap ele­men Kemenag untuk mela­kukan peru­ba­han men­­­dasar dalam denyut nadi ke­hi­du­pannya.

Kemenag lahir di tengah kancah revolusi membela kemerdekaan dan meru­buhkan sendi-sendi penja­ja­han. Bahkan pembentukan Kemenag merupakan se­buah keputusan politik yang ber­sejarah dan bernilai stra­te­gis bagi bangsa Indonesia, mengingat negara ini lahir se­bagai sumbangsih besar umat beragama. Dengan ke­percayaan yang meng­ge­lora di dada disertai keya­ki­nan ke­pada Allah, anak bang­sa ini tanpa rasa takut mem­bela setiap jengkal ta­nah dari penjajah. Penga­kuan reli­giusitas itu ter­mak­tub da­lam Pembukaan UUD­ 1945 yang melakarkan bah­wa kemerdekaan diraih atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa.

Sejak lahir tanggal 3 Januari 1946 hingga kini, Kemenag tidak pernah ab­sen dalam kabinet peme­rin­tahan Indonesia. Ini meng­gam­barkan bahwa Ke­me­nag memiliki peran vital dalam menggerakkan roda bangsa. Dan sepanjang usia­nya Kemenag telah mela­kukan upaya maksimal da­lam tugas kebangsaannya, terutama dalam mengurus  umat beragama. Tentu da­lam rentang waktu perja­lanannya masih banyak hal yang perlu perbaiki, ter­utama menyangkut aparatur dan pelayanan kepada ma­sya­rakat. Untuk itulah, da­lam momentum Hari Amal Bakti (HAB) Ke-70 Keme­nag menjadikan ikon bersih dan melayani sebagai sasa­ran utamanya.

Menjadikan Kemenag yang bersih dan melayani, bukanlah sekedar penci­tra­an akibat terjeratnya man­tan petinggi Kemenag da­lam dugaan kasus korupsi dan belum optimalnya mu­tu pelayanan. Tapi ini harus menjadi langkah konkrit dan pasti dalam menyong­song perubahan yang signi­fikan. Semua itu harus dila­kukan dengan terukur, be­nar dan bermula dengan me­lakukan perubahan men­­tal atau paradigma. Se­bab, bagaimanapun ren­cana besar diusung, semua­nya tidak akan bermakna, bila mental aparatur yang men­jalankan masih mengusung pa­ra­digma lama. Padahal apa­ratur sejatinya adalah pelayan masyarakat bukan priyayi dalam struktur bu­daya kolonial dan feodal.

Dalam mengemban tu­gas Kemenag telah mene­tap­kan lima budaya kerja yang meliputi, integritas, profesionalitas, inovatif, tanggung jawab dan ketela­da­nan. dan terbukti, Keme­nag telah melakukan per­cepatan reformasi birokrasi yang berjaya meningkatkan kinerja aparatur. Seperti audit kinerja, akuntabilitas publik, disiplin pegawai, mencegah potensi korupsi serta meningkatkan pela­yanan berbasis teknologi. Hasilnya dalam beberapa tahun terakhir Kemenag berhasil memperoleh WTP. Kendatipun perubahan-perubahan telah berhasil dilakukan Kemenag, na­mun bukan berarti berhenti melakukan perubahan. Me­ngi­ngat ekspektasi masya­rakat sangat tinggi kepada Kemenag. Apalagi sebagai ins­ti­tusi yang berlabel “aga­ma”. Alhasil, aparaturnya diharapkan mampu men­cerminkan nilai-nilai mulia agama dan menampilkan keteladan dalam laku biro­krasinya.

Tugas Berat Kemenag

Tugas institusi berlabel agama sejatinya berat dan kompleks, mengingat me­ngurus kebutuhan umat beragama. Apalagi di tengah tantangan zaman yang me­nam­pilkan dominasi libera­lisme, materialisme dan ra­dikalisme. Bila tidak di­anti­sipasi dengan baik, akan menjadi ancaman terhadap kehidupan beragama, ke­ten­traman keluarga dan stabilitas masyarakat dan ujung-ujungnya akan mem­porak-porandakan sendi-sen­di ketahanan bangsa. Seperti tragedi Tolikara Papua dan beberapa insiden umat beragama di tanah air sepanjang 2015.

Harmonisasi dan tole­ran­­si umat beragama men­ja­di tantangan besar Keme­nag dalam mewujudkannya. Me­mberikan pemahaman ke­pada masyarakat bahwa toleransi adalah kata pasti dan harus sebati dalam sa­nu­­bari umat beragama da­lam menjalankan kehi­du­pan berbangsa. Kebijakan pe­merintah mengatur umat be­ragama harus menjadi pan­duan dalam lalu-lintas be­r­agama. Selama ini, kon­flik yang lahir akibat tidak pa­tuhnya masyarakat terha­dap aturan yang telah dise­pa­kati dan juga dipicu pro­vo­kasi-provokasi pihak-pi­hak yang tidak ber­tang­gung­jawab.

Setali dengan masalah umat beragama, masalah ketahanan keluarga juga menjadi tantangan berat Kemenag. Seperti tingginya angka perceraian di masya­ra­kat. Menurut data Puslit­bang Kemenag RI angka perceraian lima tahun ter­akhir terus meningkat. Pada 2010-2014, dari sekitar 2 juta pasangan menikah, 15 persen di antaranya ber­cerai. Sebanyak 70 persen diajukan oleh isteri alias ce­rai gugat. Untuk tahun 2014 saja dari 382.231 kasus perceraian,  cerai gugat mencapai 268.381 kasus, sedangkan cerai talak hanya 113.850 kasus. Demikian juga dengan ancaman stabi­litas kebangsaan. Muncul gerakan ISIS melahirkan kekhawatiran, maklum ge­ra­kan ini menyasar pen­duduk di berbagai belahan dunia. Kemudian mun­cul­nya aliran-aliran sempalan yang berpotensi menyulut konflik.

Tantangan-tantangan ter­se­but sejatinya me­mer­lukan usaha yang gigih dari segenap elemen masyarakat, terutama pemerintah dalam hal ini Kemenag. Tantangan besar harus dimulai dengan melakukan revolusi mental internal serta mene­guh­kannya dalam bingkai nyata pelayanan dan birokrasi yang bersih. Tanpa itu se­mua, perubahan yang dica­nang­kan dalam usia yang ke-70 hanyalah slogan tanpa arti dan tidak berpijak di bumi. Semoga di usia yang ke-70 Kemenag mampu mewujudkan visinya untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang taat ber­agama, rukun, cerdas, dan sejahtera lahir batin. ***

 

SUHARDI



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 28 Desember 2016 - 01:48:57 WIB
    REFLEKSI 2016 DAN RESOLUSI 2017

    Meneguhkan Revolusi

    Penutup tahun ini penulis sengaja me­­ngangkat judul Refleksi 2016 dan Resolusi 2017 dengan me­ngu­­na­kan kata revolusi. Kata re­volusi yang dipilih bukan bermaksud untuk meng­ga­lang kekuatan merebut pe­nga­ruh,.

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM