Cukup Makanan Bukan Berarti Bebas Gizi Buruk


Jumat, 08 Januari 2016 - 02:40:40 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Cukup Makanan Bukan Berarti Bebas Gizi Buruk Rifza, S.ST, M. Biomed, RD

Ahli gizi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) DR M Djamil Padang, Rifza, S.ST, M. Biomed, RD kepa­da Haluan mengatakan, banyak anak pen­derita gizi buruk berasal dari keluarga yang secara ekonomi amat baik. Untuk kasus seperti ini, ia menilai bahwa pen­derita bukan terkena gizi buruk me­lainkan gizi yang salah.

“Banyak orangtua yang se­ke­dar lepas tanggung ja­wab dalam memenuhi asu­pan ma­kanan bagi anak. Karena ke­tersediaan uang yang cukup, apapun ma­kanan yang diminta anak akan diberikan, tak peduli apakah makanan itu baik atau tidak bagi pertumbuhan anak­nya. Karena kecen­derungan si anak menyukai makanan cepat saji, maka orangtua dengan bermurah hati memenuhinya. Yang pen­ting anak makan, bah­kan saat anak mereka kege­mu­kan mereka pun sen­ang,” je­lasnya, Selasa (5/1).

Belajar dari kasus-kasus yang ditemuinya, Rifza me­rincikan tiga penyebab anak berkecukupan secara eko­nomi namun menderita gizi buruk. Pertama, dika­re­nakan ku­rang­nya penge­tahuan ibu tentang makanan seperti apa yang baik untuk dikonsumsi anak. Ia men­contohkan, makanan yang dijual di restoran cepat saji tidak akan memenuhi ke­bu­tuhan gizi anak yang te­r­diri dari karbohidrat, pro­tein dan zat pengatur.

“Banyak yang belikan ma­kanan cepat saji untuk anaknya, isinya cuma kar­bohidrat dan protein tanpa sayur dan buah. Padahal sayur dan buah ber­fungsi sebagai pengatur, seperti polisi di dalam tubuh yang bertugas mengatur asupan gizi agar sampai organ yang mem­butuhkan. Maka tidak salah banyak anak yang kegemukan, dan itu di­banggakan oleh orang­tua, padahal anak yang kege­mukan berpotensi men­derita berbagai penyakit seperti jantung dan dia­be­tes,” ucapnya lagi.

Sedangkan penyebab kedua adalah mem­perca­yakan penga­turan makanan kepada penga­suh. Artinya dalam hal ini pola asuh yang salah, karena tidak semua pengasuh memahami mana makanan yang benar-benar dibutuhkan untuk per­kem­bangan anak secara fisik, mental dan kecerdasan. Se­hingga ia menyarankan agar orangtua tetap me­ngontrol asupan makanan pada anak, meskipun anak berada dalam pengawasan seorang pengasuh.

Sedangkan penyebab ketiga yang dinilai sebagai penyebab utama anak ber­kecukupan makanan me­nderita gizi buruk adalah ketidakpedulian orang­tua atas jenis makanan yang dikonsumsi oleh si anak. Rifza mengatakan, usia tiga tahun ke atas adalah usia emas. Pada usia ini per­kembangan otak anak berj­alan pesat, namun jika tidak diawasi dari segi asupan ma­kanan, berbagai penyakit berat akan mengancam si anak.

“Selain itu sering kita temu­kan orangtua yang bangga pada anaknya yang suka sekali mi­num susu. Alasannya sebagai peng­imbang ketidaksukaan anak tersebut pada makanan ber­protein tinggi. Padahal nya­tanya, jika susu dikonsumsi berlebihan akan menyerang fungsi ginjal. Bahkan, bisa berdampak pula pada an­caman hipertensi di usia muda, obe­sitas, jantung dan diabetes,” jelasnya lagi.

Pejabat Pemberi In­for­masi dan Dokumentasi RS­UP DR M Djamil, Gu­ta­vianof menga­takan, ru­mah sakit tersebut secara umum akan menangani anak gizi buruk yang telah menderita kom­plikasi. Ka­­rena untuk gejala awal diharapkan bisa dita­ngani di Pemberi Pela­yanan K­esehatan (PPK) 1 se­perti Puskesmas atau ru­mah sakit umum daerah. (h/mg-isq)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM