Tim Kemenkum HAM Sumbar Investigasi ke Lapas Bukittinggi


Rabu, 06 Januari 2016 - 03:16:21 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Investigasi ini dilakukan sejak Minggu (3/1) hingga Senin (4/1) malam. Dalam investigasi tersebut, petugas Kanwil Kemenkum HAM Sumbar melakukan pe­me­rik­saan terhadap pejabat dan petugas Lapas jaga yang sedang bertugas saat ka­bur­nya lima napi itu. Pe­me­rik­sa­an itu juga dilakukan se­cara tertutup.

Ketua Tim Joni Akmal mengatakan, Lapas yang over capacity atau kelebihan kapasitas tidak dapat di­jadi­kan alasan kaburnya napi, karena hampir seluruh La­pas di Indonesia me­nga­lami hal yang sama.

“Kalau terbukti, ternyata petugas Lapas yang lalai, maka yang bersangkutan bisa dirotasi atau dimutasi,” katanya tegas. Pada ke­sem­patan itu, Kepala Lapas kelas II A Bukittinggi, Tomi K, kepada Tim juga men­yam­paikan be­berapa indi­kator pen­yebab lolosnya tahan napi di Lapas ini.

Selain kekurangan per­sonil, menurutnya desain Lapas Klas IIA Bukittinggi juga turut menjadi faktor yang mempermudah ka­bur­nya napi.

“Dinding tembok Lapas itu, tingginya cuma 3 meter tanpa kawat, sementara ba­ngu­nan Lapas juga berbelok-belok, sehingga tidak semua blok terpantau oleh petugas jaga. Kondisi ini bisa saja dimanfaatkan tahanan un­tuk kabur,” katanya.

Menurutnya, desain ba­ngu­nan dan dinding Lapas tersebut perlu direnovasi total, agar petugas mudah memantau aktivitas para napi itu.

Tomi K juga men­jelas­kan, selain dinding tembok lapas yang tingginya cuma tiga meter, Lapas itu juga tidak didukung sarana IT seperti kamera pengintai atau CCTV, dan pada bagian empat sisi Lapas juga tidak memiliki lampu sorot se­hing­ga pe­tugas agak sulit memantau aktivitas napi dari jarak jauh, terutama pada malam harinya.

“Untuk ukuran standar Lapas ini, minimalnya din­ding tembok itu 5 meter tambah kawat berduri, dan jeruji besinya berukuran 22 milimeter. Begitu juga sarana pendukung seperti CCTV dan lampu sorot untuk em­pat sisi sangat dibutuhkan,” kata Tomy K.

Tomy K berharap, de­ngan telah disampaikannya kondisi Lapas II A Bukit­tinggi ini, diharapkan Ke­men­kum dan HAM Sumbar bisa memaklumi kondisi itu dan bisa memenuhi segala kekurangan tersebut.

“Saya baru tiga bulan bertugas di Lapas ini, dan itu sudah tiga kali napi kabur dari Lapas ini. Setalah saya eva­luasi, selain SDM, Lapas  yang dibangun pada tahun 1986 ini sudah layak untuk direhab total. Tentu semua ini kita serahkan kepada Ke­men­kum dan HAM Sum­bar,” pungkasnya.

Sebelumnya, lima na­ra­pidana (napi) Lapas Klas IIA Bukittinggi kabur sekitar pukul 03.30 WIB, Rabu (30/12). Rata-rata kelima napi yang kabur ini divonis 15 tahun penjara dalam kasus narkotika. Diduga ke lima napi ini kabur dengan me­man­faat­kan kelengahan pe­tugas yang jaga malam, apalagi cuaca disaat kejadian sedang hujan lebat disertai angin kencang.

Ke lima napi itu kabur dengan cara menggergaji grendel pintu dengan me­nggunakan gergaji besi di Kamar V Blok C atau Blok Melati. Setelah itu, para napi lalu memanjat pagar berduri blok dan selanjutnya me­manjat tembok pagar Lapas dengan menggunakan kain sarung yang disambung. Be­lum diketahui darimana para napi itu mendapatkan gergaji besi tersebut. (h/wan)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM