dr. Tan: Sehat, Jaga Makanan dan Banyak Bergerak


Rabu, 06 Januari 2016 - 02:40:00 WIB
Reporter : Tim Redaksi
dr. Tan: Sehat, Jaga Makanan dan Banyak Bergerak

Itu adalah salah satu penggalan tentang kese­hatan yang dikatakan dr. Tan Shot Yen, ahli kesehatan di wilayah Bumi Serpong Da­mai. Menurut dr. Tan, jika ingin sehat, sesorang harus mengkonsumsi makanan yang sehat dan banyak ber­gerak.

“Jangan ada yang protes, makanan yang saya rujuk ini bisa membuat Anda me­nikmati hidup atau tidak! Kalau mau sembuh, ya? Anda-Anda ini terlihat se­kali adalah orang yang sudah hampir seumur hidup me­nikmati hidup dengan me­manjakan lidah ke makanan yang enak, tapi salah!” Dr. Tan sudah menekankan kon­sep ini di awal pem­berian resep hidup sehatnya.

“Sekarang Anda harus membayar harga nikmat tapi mematikan tersebut dengan berdisiplin meng­ikuti apa yang saya beri­kan,” tukasnya dengan ta­tapan tajam.

Apa yang diminta oleh Dr. Tan sangatlah sederhana untuk dimengerti dan dila­kukan, tapi bagi para so called ‘penikmat hidup’, pastilah sangat berat untuk dituruti. Sarannya:

1.”Tidak Ada Gula!”

Orang sering dengan bodohnya mengira bahwa penumpukan lemak itu la­hir akibat konsumsi lemak yang berlebihan. Padahal Dr. Tan mengatakan, “Ma­nusia itu punya thres­ho­ld untuk lemak, yaitu rasa mual dan muak. Jarang ada manusia yang meng­kon­sumsi lemak lebih banyak dari kemampuan tubuhnya menerima”.

Penumpukan lemak da­lam tubuh kita, mayoritas lebih kepada konsumsi gula yang berlebihan dalam se­gala bentuk. Kandungan gula yang terlalu tinggi mem­buat tubuh me­nge­lu­arkan insulin berlebihan untuk menormalkan lon­jakan gula darah dan me­ngakibatkan kelenjar pan­kreas lelah. Kerusakan pan­kreas membuat penyakit degeneratif yang sangat po­puler, diabetes.

2. “Buah Dan Sayur Se­bagai Sumber Kar­bohidrat” 

“Berhenti makan beras, tepung atau sumber kar­bohidrat umum lainnya! Kalau Tuhan mau kita ma­kan beras, kita sudah di­kasih tembolok dari lahir!” Masih terkait dengan apa yang diutarakan sebagai konsumsi gula berlebihan, Dr. Tan menekankan pada karbohidrat akan berubah menjadi gula, dimana ca­dangan gula yang ber­lebihan akan segera di­trans­for­ma­sikan oleh tubuh dalam bentuk glikogen (di­simpan dalam hati - otot) serta trigliserida (lemak). Angka trigliserida tinggi adalah sumber obesitas yang se­karang semakin marak menyerang kehidupan ma­nusia.

“Jangan panik, dengan bilang, kalau gak makan nasi badan saya lemas” Tu­kasnya sebelum ada pasien yang protes. “Tubuh Anda membangun kebiasaan, bu­kan memenuhi kebutuhan.

Dr. Tan memberikan daftar penggantinya segera. Buah dan sayur sebagai sumber karbohidrat. Ia me­nyajikan urutan buah-buah yang memiliki kan­du­ngan fructose -gula alami buah- aman. Ia juga menekankan cara menyajikan sayuran yang baik.

“Jangan bilang Anda sudah makan sayur kalau yang dimakan sayur bening atau sayur cap cay, itu bukan sayur, itu sampah dalam bentuk sayur!” Ucapnya dalam nada tinggi. “Sayur dimasak sudah pasti en­zyme-nya mati, gak ada gunanya buat tubuh, paling cuma serat-seratnya aja. Makan sayuran mentah yang dicuci bersih, kalau takut sama petsisida, ya beli yang organic atau tanam sendiri di depan rumah!”

3. Tidak Ada Susu Bi­natang 

“Sapi itu begitu anaknya sudah bisa berjalan, ia akan segera berhenti menyusui dan membiarkan anaknya mencari makan sendiri, manusia itu satu-satunya species yang mati-matian mencari susu spesies lain dan merasa membu­tuh­kan­nya”.

Ia kemudian menyam­bung lagi, “Anak kecil di atas usia 2 tahun dipaksa minum susu, orang tuanya tidak sadar bahwa anak itu akan mengalami kesulitan pen­cernaan, karena cadangan enzyme-nya akan terkuras untuk mencerna bahan ma­kanan yang semestinya tidak ia konsumsi lagi”. Pendapat yang sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Hi­romi Shinya tentang En­zyme pangkal atau mis­konsepsi dimana intoleransi laktosa kadang dianggap tidak ada saat sang anak tidak mencret waktu minum susu. Padahal sang anak menunjukan gejala alergi lain, infeksi kulit, eksim, gatal-gatal, sembelit, obe­sitas, mudah terserang pe­nyakit hingga asma.

Faktanya, ada bahaya di susu sapi. Dari sisi lactose intolerant, casein, non ab­sorb calcium juga gak ada guna-gunanya sedikitpun bagi tubuh. Tapi orang lain? Fakta satu ini membuat mereka terkaget-kaget. Mak­lum jor-joran uang yang di­gelontorkan pabrikan su­su memang mem­buat kam­panye ke­butuhan manusia terhadap cairan produksi binatang ini terasa begitu membahana dan menguasai kehidupan kita.

“Kurang apa kalau kita gak minum susu? Kalsium? Bohong pabrikan itu, kalau gak minum susu kita ke­kurangan kalsium. Kalsium di susu sapi gak bisa diserap tubuh manusia, titik!” Ia kemudian menunjukan fak­ta kelicikan produsen susu untuk berkelit dari upaya penipuan saat orang yang minum susu tetap terserang osteoporosis.

 “Pasti ada tulisan kecil, sangat kecil, di salah satu sudut kotak atau kaleng susu, yang menu­liskan kalimat semacam ‘Harus disertai dengan ak­tivitas fisik yang rutin’, jadi mereka bisa mengelak dari pasal penipuan ke ma­sya­rakat”. Ia juga me­ner­tawa­kan satu produsen susu sapi yang begitu gencar me­ma­sarkan produk susu kalsium tapi diembel-embeli dengan kalimat ‘berjalan 10.000 langkah perhari’. “Anda mau nyuruh kakek-nenek yang renta berjalan 10 kilo­meter sehari? Gak keropos bener, tapi yang ada mereka matek, kecape’an” ujarnya dengan logat Jawa sangat kental.

4. Banyak Bergerak 

Sistem limfatik tubuh cuma bisa berfungsi kalau kita bergerak dengan baik, Menurut Dr. Tan, usaha mati-matian di satu sisi tapi melewatkan sisi yang lain, adalah upaya yang kadang tidak membuahkan hasil maksimal.

Menjaga ma­kanan tanpa pernah aktif menggerakan tubuh secara benar akan membuat fita­litas kita terganggu. De­mikian pula hal sebaliknya. (h/atv/*)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM