Forum Poligami Ingin Gugat UU Perkawinan


Senin, 04 Januari 2016 - 03:29:07 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Sekretaris Jendral (Sekjen) FKPS, Fakhruddin Rusyibani, mengatakan saat ini para pelaku poligami kerap kali cenderung sembunyi-sembunyi dan tidak mau diketahui oleh khalayak masyarakat lantaran stigma mas­yarakat terhadap orang yang melakukan poligami cenderung diskriminatif.

“Kami mencoba mulai terbu­ka dan memberikan pemahaman yang benar terkait poligami kepada masyarakat, bahwa ketika mendengar poligami itu, ya mer­e­ka nggak usah mengerutkan kening,” ujar Fakhruddin, di sela kesibukannya memandu acara itu.

Menurut dia, stigma itu yang harus mulai diluruskan. Pasal­nya, kata dia, masalah poligami itu ada ketentuannya dan dibo­lehkan oleh agama. “Dalam Islam itu ada landasan syariatnya, di surat An-Nisa ayat 3, bahkan di ayat itu disebutkan nikahilah dua, tiga, atau perempuan perem­puan, tidak disebutkan satu pe­rem­puan,” kata dia.

Fakhruddin menjelaskan poli­gami menjadi polemik ketika ada sejumlah orang yang tidak setuju dengan poligami. Hal ini, kata dia, kebanyakan disuarakan oleh kaum feminis yang melarang pria untuk menikahi perempuan lebih dari satu. “Biasanya mereka (feminis) landasannya pada ma­sa­lah adil, memang benar tidak akan ada yang bisa adil, tapi ketidakadilan itu tidak serta-merta menggugurkan perintah sebelumnya,” ucapnya.

Bahkan, kata Fakhruddin yang kini memiliki dua orang istri, adil itu sifatnya subjektif sekali kalau dalam masalah poligami. Artinya, yang berhak menilai adil itu yakni perempuan yang tengah dipoligami dan suami hanya berusaha untuk melakukan adil terhadap istri-istrinya.

“Adil itu sifatnya subjektif dan tidak bisa diukur parame­ternya, nggak bisa digeneralisasi dong, tapi adil itu bisa kita upayakan secara wujudnya dan yang berhak menjustifikasi adil itu istri-istri yang dipoligami dan landasannya keridaan,” ujarnya.

Sebetulnya, kata dia, masalah yang paling berat bagi dia beserta keluarganya yakni masalah per­sepsi sosial. Padahal, kalau dari segi kehidupan berkeluarga seca­ra personal dia mengaku tidak mengalami masalah yang berat.

“Kebanyakan masalah terbe­rat yang kami alami itu dari persepsi sosial ya. Kalau masalah personal antara suami dengan istri-istrinya nggak jadi masalah sih adem ayem aja, tapi kadang masyarakat yang justru memberi­kan stereotip jelek,” ucap dia.

Dari hasil pembahasan silat­kernas itu, ucap dia, nantinya akan menghasilkan rekomendasi yang isinya untuk merevisi Un­dang-Undang Perkawinan No­mor 1 Tahun 1974. “Itu sebetul­nya perlu direvisi karena sangat tidak mendukung dan merugikan kami,” ujarnya.

Pandangan Fakhruddin di­ten­tang oleh aktivis Women Studies Centre (WSC) Univer­sitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, Neng Hannah. Dia mengatakan masalah poli­gami memang disinggung dalam agama, khusunya Islam. Namun, kata dia, Islam pun lebih menitik­beratkan pada masalah mono­gami. “Nabi Muhammad me­mang melakukan poligami, tapi dia pun melakukan monogami, bahkan periode monogami itu lebih lama daripada poligami. Poligami hanya 10 tahun sedang­kan mono­gami 28 tahun,” ujarnya.

Menurut Hannah, landasan ayat Alquran yang kerap menjadi rujukan untuk berpoligami  sebetulnya tidak serta-merta menyuruh untuk menikahi lebih dari satu perempuan, tapi justru menyampaikan pesan agar ber­monogami. “Di akhir ayat ada kalimat, ‘Kalau kamu tidak bisa berlaku adil, nikahilah satu orang perempuan saja.’ Menurut saya itu isyarat untuk monogami,” katanya.

Selain itu, kata dia, orang-orang harus paham sebab-sebab turunnya ayat tentang poligami itu. Ayat tersebut, dia melan­jutkan, sebenanrya sedang mem­bahas masalah melindungi harta-harta anak yatim. Dengan kata lain, konteks ayat itu membi­carakan masalah anak yatim dengan dibubuhi poligami.

“Jadi sebetulnya perintah poligami itu tercantum di tengah-tengah ayat, karena awal ayat surat An-Nisa itu konteksnya tentang berbuat adil terhadap anak yatim perempuan,” kata dia.

Hannah melanjutkan, bagi mereka yang ingin melakukan poligami harus sesuai dengan yang dicontohkan Nabi Mu­hammad. Artinya, tidak melulu menikahi gadis, tapi harus berani pula menikahi dan menafkahi janda yang usianya jauh lebih tua. Bukan didorong oleh hasrat seksual, melainkan untuk me­nolong kehidupan perempuan yang usianya sudah tak produktif.

“Saya tidak mengatakan me­la­rang untuk berpoligami, mang­ga silakan berpoligami, asalkan sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah.

Apalagi di Indonesia berda­sarkan statistik tahun 2010, jumlah antara laki-laki dan pe­rempuan itu kurang lebih sama dan harapan hidup perempuan jauh lebih besar, artinya banyak janda-janda yang sudah tidak produktif ditinggal meninggal suaminya. Kalau mau poligami, nikahi janda-janda itu,” ujar Hannah, yang juga dosen filsafat sosial di UIN Bandung itu. (tem)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Ahad, 09 April 2017 - 21:03:07 WIB

    Forum Inisiator Gagas Chairil Anwar Jadi Pahlawan Nasional

    Forum Inisiator Gagas Chairil Anwar Jadi Pahlawan Nasional PAYAKUMBUH, HARIANHALUAN.COM-Sejumlah budayawan dan sastrawan asal Sumatera Barat menggagas sekaligus mengusulkan gelar pahlawan nasional untuk sang pujangga Chairil Anwar..
  • Rabu, 24 Agustus 2016 - 04:49:29 WIB

    Forum Honorer K2 Siap Dukung Kebijakan Pemerintah

    Forum Honorer K2 Siap Dukung Kebijakan Pemerintah JAKARTA, HALUAN — Forum Honorer K2 Indo­nesia (FHK2I) menemui Ke­tua DPD RI Irman Gusman (se­nator asal Sumatera Barat) dan Anggota Komite III DPD RI Ahmad Jajuli (sena­tor asal Lampung) di lantai 8 Ge­dung Nusantara I.

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM