Evaluasi Total Lapas Bukittinggi


Senin, 04 Januari 2016 - 03:22:03 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Lima napi yang kabur itu adalah Zainal Abidin pang­gilan Zainal alias Adnan (33), alamat terakhir Desa SP Se­umirah Kecamatan Nisam (antara Kabupaten Aceh Uta­ra dengan Lhokseumawe NAD). Zainal Abidin me­langgar UU Narkotika No.35 tahun 2009 dengan nomor pu­tusan : 03/PID.B/2013/PN.PYK tanggal 6 Mei 2013 de­ngan lama pidana 15 tahun penjara dan denda Rp1 mi­liar, subsider satu bulan, dengan ekspirasi (masa ta­hanan) tanggal 21 September 2027.

Kedua adalah Eria Ananda Caniago panggilan Kan­dung (37), alamat terakhir Kampung Jawa Kecamatan Tan­jung Harapan Solok. Eria melanggar UU Narkotika No.35 tahun 2009 dengan nomor putusan : 67/PID.B/2011/PN.MDL tanggal 21 Juni 2011 dengan lama pi­dana 15 tahun penjara dan denda Rp1 miliar, subsider li­ma bulan, dengan ekspirasi tanggal 22 Desember 2025.

Ketiga, Hari Dasmanto panggilan Hari alias Bule (24), alamat terakhir Seberang Padang Jln Jerong Kel. Seberang Padang Kec. Padang Selatan Kota Padang. Heri Dasmanto melanggar UU Narkotika No.35 tahun 2009 dengan nomor putusan : 1.295/PID.B/2013/PN.PDG tanggal 10 Juli 2013 dengan lama pidana 4 tahun penjara dan denda Rp800 juta, subsider dua bulan, serta nomor putusan : 311/Pid.B/2014/PN.PDG tanggal 9 September 2014 dengan lama pidana 5 tahun 6 bulan penjara dengan denda Rp1 miliar, subsider tiga bulan, dengan ekspirasi 19 September 2022.

Kemudian, Ali Murtala panggilan Ali (21), Warga De­sa Binje Kec. Nisam Kab. Aceh Utara NAD. Ali Mur­tala melanggar UU Narkotika No.35 tahun 2009 de­ngan nomor putusan : 85/Pid.Sus/2014/PN.TJP de­ngan lama pidana 15 tahun penjara dan denda Rp1 mi­liar, subsider satu bulan, dengan ekspirasi tanggal 17 Sep­tember 2029. Terakhir, Febrika Jondra panggilan Eka (25) warga Batu Nadua Desa Abtu Sondet Kec. Ba­ta­han Kab. Pasbar. Febrika Jondra melanggar UU Nar­kotika No.35 tahun 2009 dengan lama pidana 10 ta­hun penjara dan denda Rp1 miliar, subsider enam bu­lan, dengan ekspirasi tanggal 19 Oktober 2023.

Sebelumnya, seorang tahanan Lapas Klas IIA Bukittinggi, Waldisis berhasil melarikan diri Kamis 12 November 2015 sekitar pukul 18.15 WIB setelah mendorong sipir. Waldisis sendiri ditangkap Polres Bukittinggi pada 4 Mei 2015 dalam kasus narkoba dengan barang bukti 20 gram sabu. Saat kabur, Waldisis masih berstatus tahanan kejaksaan yang dititipkan di Lapas Klas IIA Bukittinggi, karena yang bersangkutan masih dalam proses persidangan.

Sementara pada Sabtu 7 November 2015, dua Napi La­pas Klas IIA Bukittinggi juga melarikan diri dengan ca­ra melompat tembok setinggi 2,5 meter sekitar pukul 05.30 WIB. Kedua Andika (30), warga By Pass Kec. Man­diangin Koto Selayan Bukittinggi yang menghuni Blok A, serta Alpen Adri (31) yang mendekam di Blok D. Sebelumnya, kedua tahanan itu ditangkap dalam ka­sus pencurian. Karena terjadi tiga peristiwa tahanan/na­pi kabur dalam kurun waktu dua bulan belakangan se­belum tahun 2015 ditutup, tentu menjadi sebuah kon­sekwensi dan keharusan untuk mengevaluasi total Lapas Klas IIA Bukittinggi di Biaro. Banyak hal yang mesti terjawab di Lapas itu, sepertri over kapasitas, infra­struktur, kedisiplinan petugas, kekurangan SDM secara kuantitas dan juga kualitas, sistem pembinaan dalam lapas dan lain sebagainya.

Problema lapas atau tahanan yang over kapasitas, ten­tu tidak saja terjadi pada Lapas Bukittinggi saja, tetapi nya­ris terjadi di seluruh tanah air. Tetapi mengapa Lapas Bu­kittinggi yang tiga kali bobol. Persoalan infrastrukur ju­ga menjadi catatan penting, sebagaimana yang di­ke­luh­kan pihak Lapas Kelas. Kedisiplinan petugas, men­ja­di hal yang sangat penting dan bisa menjadi kata kunci me­ngapa sampai tiga kali kebobolan. Berikutnya per­soa­lan jumlah dan kualitas SDM yang ber­­tugas juga men­ja­di sesuatu yang menjadi perkerjaan ru­mah yang . Se­lan­jutnya adalah sistem pembinaan da­lam Lapas juga pen­ting menjadi bahan evaluasi. Tentu sa­ja sistem pem­bi­naan yang diterapkan ke depan, di­harapkan dapat me­ngem­balikan secara bertahap para na­pi/tahanan untuk kem­bali ke tengah-tengah masya­ra­kat. Evaluasi tentu ju­ga perlu dilakukan pada lapas lain­nya, sehingga masa­lah di Lapas Bukittinggi tidak ter­jadi pula di lapas lain­nya. **



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM