Lompong Sagu Nizar

Bertahan Ditengah Gempuran Makanan Cepat Saji


Sabtu, 02 Januari 2016 - 01:48:20 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Bertahan Ditengah Gempuran Makanan Cepat Saji

Penganan yang dibuat dari adonan tepung sagu dan pisang itu, dikenal dengan rasa dan aromanya yang khas. Pasalnya, makanan ini disajikan terbungkus oleh daun pisang yang warnanya coklat kehitam-hitaman. Karena sebelumnya lompong sagu harus dipanggang hingga matang.

Makanan ini dulunya sangat dikenal dan digemari masyarakat Minang. Lom­pong sering disajikan dalam berbagai kesempatan dan dimakan dalam kondisi ma­sih hangat. Sebagai bukti kepopuleran lompong sagu dan pernah berada di pun­cak kejayaannya, maka di­buat sebuah lagu dengan judul Lompong Sagu. Lagu itu dinyanyikan dengan pe­nuh penghayatan oleh pe­nya­nyi kawakan Elly Kasim.

Meski dulu begitu dike­nal hingga dituangkan da­lam bentuk lirik la­gu, se­iring perkembangan zaman, kini lompong sagu mulai tak diminati. Bahkan untuk mendapatkannya lumayan sulit, hanya dijual pada lokasi tertentu saja. Karena juga tak banyak orang yang mau berdagang lompong sagu.

Di Kota Padang saja misalnya, mereka yang ma­sih menjual penganan satu ini hampir bisa  dihitung dengan jari. Salah satu tem­pat  masih bertahan men­jual makanan ini adalah, usaha Lompong Sagu Nizar yang terletak di Jalan Gu­nung Pangilun, Padang.

Lompong Sagu Nizar diambilkan dari nama pe­miliknya, yaitu Nizar (60). Sekitar 20 tahun sudah, ibu lima anak ini setia dengan pekerjaannya menjual lom­pong sagu. Bahkan saat makanan tradisional ini hampir terlupakan dan di­gan­tikan dengan beragam jenis makanan cepat saji yang menggugah selera, dia tetap bertahan untuk men­jual makanan yang di­da­lam­nya diisikan gula merah tersebut.

Kakak dari Nizar, Bani yang saat ditemui tengah menggantikan Nizar ber­jualan karena sedang sakit, mengatakan, adiknya masih bertahan dan setia dengan profesinya sebagai pedagang lompong sagu.

Beberapa alasan yang membuat adiknya bertahan menjajakan lompong sagu, menurut Bani adalah untuk menyambung hidup. Agar hidup ia dan anak-anaknya tetap berlanjut, dan tanpa harus meminta belas kasih orang lain. Karena hanya itu pula keterampilan yang dimilikinya. Saban tahun Nizar tanpa rasa letih men­jalani hari-harinya sebagai pedagang lompong sagu.

“Suaminya sudah tak ada saat anak-anaknya ma­sih kecil. Kalau tidak ber­jualan akan dikasih makan apa keponakan saya itu. Karena dia hanya pandai membuat lompong sa­gu, jadinya Nizar menjadikan ini sebagai mata penca­ha­rian,” kata Bani men­cerita­kan tentang kehidupan adik­nya pada Haluan.

Sebesar keya­ki­nan Nizar untuk mem­besarkan anak-anaknya sepeninggal sang suami, sepertinya sebesar itu pula lah Tuhan mem­bu­kakan pintu rezeki pada wanita yang berkampung halaman di Solok tersebut.

Melanjutkan Tradisi

Meski menjual makanan yang notabene sudah tidak begitu dikenal itu, dari hasil berjualan lompong itu, Ni­zar tetap bisa melanjutkan hi­dupnya dan menye­kolah­kan anak-anaknya. Bahkan mereka bisa membangun rumah untuk tinggal.

Menurut Bani, untuk berjualan lompong sagu dibutuhkan modal sedi­kit­nya sekitar Rp200 ribu. Dari hasil penjualannya sehari, Nizar bisa membawa pulang sekitar Rp350 ribu.

“Yang membeli tak ha­nya dari Padang saja, ada yang datang dari luar Pa­dang. Bagi yang merasa makanan ini sesuai selera, tak jarang mereka membeli dalam jumlah banyak. Ke­marin saja, ada yang meme­san satu karton untuk di bawa ke Pakanbaru. Sebe­lumnya hal seperti itu juga sering terjadi, pembeli me­me­san untuk dibawa ke luar daerah,”  papar Bani.

Ditambahkan Bani, ala­san lain yang juga membuat adiknya bertahan berjualan lompong sagu selama ber­tahun-tahun adalah, karena ia sadar penganan satu ini sudah tak banyak lagi terse­dia atau dijual dipasaran. Dulu wak­tu dia dan Nizar kecil, kata Bani, selain nasi, sang ibu sering membuat makanan tradisonal seperti lompong sagu untuk dima­kan oleh  anak-anaknya.

“Waktu kami kecil itu, pulang main kami sering makan lompong sagu bua­tan ibu sebagai pengganjal perut. Tapi sayang, hal se­per­ti itu sekarang sudah jarang dilakukan orang-orang. Jika kami yang tua-tua ini masih bisa menge­nalkan lompong sagu mela­lui berjualan makanan ini, kenapa tidak. Dengan begi­tu anak-anak sekarang kan jadi tahu juga makanan apa yang biasa dimakan nenek-nenek mereka saat kecil dulu,” kata Bani dengan tersenyum.

Tentang usaha Lom­pong Sagu Nizar, menurut Ba­ni, tempat berdagang yang di­rin­­tis adiknya ter­se­but telah dibuka dari pu­kul 14.00 WIB hingga usai magrib. Selain lom­pong sagu, di sana ju­ga tersedia atau dijual pa­lai bada. Lompong sagu har­ganya Rp2.000 per­bung­kus, dan palai bada dijual se­harga Rp6.000 per­bun­g­kus.

“Kami berjualan setiap hari. Seperti sekarang saja, misalnya biarpun dia se­dang sakit, dia minta saya untuk menggantikan,” pung­kas Bani. (***)

 

Laporan:
LENI MARLINA



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 09 Januari 2016 - 00:55:45 WIB
    Usaha Rakik Mak Nis

    Bertahan dari Generasi ke Generasi

    Bertahan dari Generasi ke Generasi Seperti halnya kerupuk, peyek atau rempeyek merupakan makanan khas yang banyak digemari masyarakat di nusantara ini. Teksturnya gurih dan renyah serta memiliki banyak variasi. Makanan ini bisa dipadukan dengan aneka jenis mak.

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM