Tragedi Malam Ulang Tahun


Sabtu, 02 Januari 2016 - 01:46:42 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Sampai sekarang, Alief masih tinggal di rumah kami. Tak ada yang berubah dengan kebiasaannya. Alief makan, tidur, sekolah, dan bermain bersama teman-temannya seperti biasa. Sa­tu saja yang berbeda pada anak itu—tepatnya setahun belakangan ini—Alief su­dah tidak pernah lagi me­mang­gilku Ibu. Pun mata­nya, agaknya sudah enggan menyapaku. Tak salah bila sering kali aku memeram rindu mendengarnya me­mang­gilku Ibu (seperti du­lu). Bocah sekolah mene­ngah atas yang katanya lebih mirip denganku diban­ding­kan Bapaknya itu tetap saja bungkam seribu bahasa, seolah lidahnya pun lupa cara menyerukannya. Tak tanggung-tanggung, Alief bahkan tak menganggapku ada di rumah. Aku tahu, ketika ia selalu mengakui itu pada teman-temannya.

“Ibuku tidak di rumah”.

Aku terpaksa diam saja tiap kali dia mengatakan itu pada teman-temannya yang datang ke rumah—sedang aku ada di dalam. Lagipula, tak enak bila memakinya di depan teman-temannya.

Sering aku bertanya pada si bujang itu perihal kesa­lahanku, tetapi ia tak pernah ingin membalas apa pun yang kuucapkan. Saat itu, rasanya ingin kumaki ia seperti yang biasa kula­kukan jika ia membuatku marah.

Aku ingat pertama kali keluargaku mulai menga­tai­ku Ibu yang tak berperasaan. Waktu itu hari ulang tahun­ku yang ke-49 tahun, nya­nyian selamat ulang tahun dari mereka menggema me­me­nuhi ruangan. Aku dan keluarga sengaja berkumpul di ruang tengah menikmati teh dan bolu pandan baru matang yang kubuat ber­sama kedua puteriku sambil meleburkan kehangatan. Itu adalah kebiasaan keluarga kami ketika merayakan ha­ri-hari tertentu. Bolu pan­dan dan teh adalah dua hal wajib yang harus ada dalam setiap acara keluarga, dan dihidangkan saat masih panas.

Alief dan suamiku ada­lah yang paling semangat menciptakan gaya baru da­lam menikmati bolu pan­dan dan teh itu. Aku ingat tahun-tahun sebelumnya mereka mengajak kami ba­pa­cu menghabiskan teh yang masih panas itu; yang me­nang dibolehkan mendapat potongan bolu yang paling besar. Ujung-ujungnya lidah kami terasa tebal dan mati rasa meski sudah berkali-kali berhenti untuk meniup sebelum meminumnya.

Pernah juga dengan cara mencelupkan bolu ke da­lam teh, sampai menyuir bolu itu kecil-kecil dan merendamnya ke dalam gelas teh masing-masing. Sedang di tahun lalu, suami­ku mengajak kami bapacu menghabiskan bolu pandan, serta melarang yang kalah untuk minum sampai waktu Shubuh.

Saat itu, aku benar-benar merasa Allah telah sangat baik menganugerahkanku sebuah keluarga kecil yang sempurna—yang selalu ada merayakan hari jadiku—meski sudah yang ke sete­ngah abadnya. Ditambah lagi, kami juga membuat komedi sendiri, bergurau, dan berbagi kejailan. Keba­hagiaan macam apa lagi yang melebihi semua itu? Itu sudah lebih dari cukup, setidaknya sebelum Alief mendapat telepon dari te­man-temannya.

“Bu, Pak, aku pergi de­ngan kawan-kawan!” Ujar Alief dengan gamblangnya usai menutup telepon sam­bil bergegas masuk kamar dan mengambil jaketnya.

Bolu yang masih dalam ceng­kramannya ia jatuhkan be­gitu saja ke atas meja. Ta­wa gelak berpacu makan bo­lu terang saja langsung ter­henti gara-gara anak itu. Aku yang merasa Alief telah me­rusak suasana bahagia sa­ngat kesal dan kubentak dia usai kembali dari ka­mar­nya.

“Anak kurang ajar! Mau kemana lagi kamu?”

“Main dengan kawan-kawanku, Bu. Ngumpul-ngumpul.”

“Lebih penting teman-teman berandalmu itu di­ban­dingkan keluargamu, hah? Belum juga hilang asap bolu ini, kau malah sudah keluyuran tak jelas di lua­ran.” Semakin aku bicara, emosiku rasanya semakin menggebu-gebu.

“Tapi mereka sudah me­nung­guku, Bu. Tak enak bila membatalkan janji”.

“Dasar kau anak celaka, tidak tahu diuntung! Aku benar-benar muak meli­hatmu!” Darahku rasanya mendidih, ingin kuhan­cur­kan kue bolu yang lilin-lilinnya baru saja kutiupi itu. Tapi aku memilih mening­galkan ruang tengah dan ma­suk kamar. Aku tak pe­du­li lagi dengan perayaan ulang tahun, teh, ataupun kue bolu pandan. Saat itu, kudengar suami dan kedua puteriku mengataiku Ibu yang tak punya perasaan dan keterlaluan. Aku tak sempat lagi membantahnya karena dadaku serasa dipenuhi gas yang siap meledak bila ku­lan­jutkan berbicara. Malam itu, bagiku ulang tahunku sudah berakhir dan aku pun tidur sampai pagi.

Sejak itulah, aku kehi­langan Alief. Sehari, sepe­kan, sebulan, sampai seta­hun kutunggui, Alief tak pernah lagi memanggilku “Ibu”. Mulanya, kupikir Alief mendiamiku hanya karena masih kesal akibat kumarahi waktu itu, tetapi tak terasa setahun berlalu, kesalnya tak kunjung usai.

Dan ini adalah malam perayaan ulang tahunku yang ke-50. Nyanyian lagu selamat ulang tahun masih terngiang menyisa mengiris batinku sejak menyalakan lilin di atas bolu pandan hangat tadi. Ulang tahunku masih tetap dirayakan. Ha­nya saja, perayaan kedua setelah aku kehilangan Alief ini, sudah tidak seha­ngat dan semeriah dulu lagi. Bolu pandan yang sudah dingin masih utuh lengkap dengan lilin angka 50 yang ujung sum­bunya telah meng­hitam. Teh dingin juga ditinggal be­gitu saja di meja tamu. Ha­nya gelasku yang kosong, se­lebihnya masih sisa sete­ngah­­nya.

Alief, sejak tadi tak ke­luar dari dalam kamarnya. Sedang kini di ruang tengah hanya ada aku, suamiku, dan kedua puteriku—yang sibuk dengan telepon geng­gam mereka. Aku mem­beranikan diri memanggil Alief agar keluar kamar dan berkumpul bersama kami. Sekali Alief tak menya­hutiku, dua kali Alief masih bungkam, ketiga kali kuke­toki pintu kamarnya, Alief masih tak mengacuhkanku. Sampai yang keempat kali­nya aku sudah tak sanggup lagi menahan gejolak emosi. Darahku serasa mendaki sampai ke ubun-ubun. Ku­pu­­kul-pukul pintu kamar itu bertubi-tubi.

“Dasar anak tak tahu terima kasih! Kau anggap apa aku ini? Aku Ibumu, susah-susah kubesarkan ka­mu bukan untuk menjadi anak kurang ajar seperti ini, tau? Tidurlah kau selama­nya di kamar itu, mati saja sekalian!”

Tiba-tiba suamiku me­narik­ku kasar dan hampir tangannya melayang di wa­jah­ku. Tapi tangan itu ter­henti di udara dan beberapa saat kemudian diurungkan kesisi kanannya kembali.

“Apa yang salah dengan kata-kataku? Bukankah aku pantas memarahi anak-anak­ku jika ia tak menurut kata-kata Ibunya? Lagipula aku tak pernah main tangan pada mereka bila marah, aku lebih memilih mengo­meli mereka sampai marah­ku habis. Bukankah itu jauh lebih baik dibandingkan aku seperti ibu-ibu kasar di luar sana yang sebentar-sebentar main pukul pada anak-anak mereka?” Ta­nya­ku garang karena kesal me­li­hatnya berniat akan me­nam­parku.

“Mungkin akan lebih baik bila kau memukulnya sekali”.

“Dasar kamu memang tak pandai caranya men­didik anak. Pantas mereka melawan saja kerjaannya”. Aku menunjuk-nunjuk mu­ka suamiku dengan emosi menyala.

“Kamu yang telah salah memperlakukan anak-anak. Kata-katamu bukan kata-kata yang pantas diucapkan seorang ibu.”

Ooyooi, sudah begitu caraku memarahi mereka, masih juga mereka kurang ajar. Apalagi jika kulembuti, bisa-bisa ngelunjak anak-anak itu.”

“Kau padusi keras ke­pala!”

“Apa katamu? Padusi? Berani kamu memanggilku begitu?”

Suamiku tak meng­hi­rau­kanku lantas pergi. Aku tahu dia lelaki yang sabar dan pengalah selama ini. Dia akan selalu memilih pergi untuk menghindari perteng­karan yang lebih besar. Aku juga tak peduli dan segera masuk kamar. Sedang me­langkah menuju kamar, sem­pat kudengar kedua puteriku mengataiku Ibu yang garang. Sekilas kulihat bolu pandan dan teh di meja tak jua ada yang menyentuhnya. Aku me­ngun­ci kamar lalu tidur sampai pagi.

Besoknya, kedua pute­riku tak menegurku lagi. Berhari hingga berbulan-bulan kutunggui anak-anak­ku tetap saja bungkam pada­ku. Aku semakin kehi­la­ngan. Rumah terasa sema­kin lengang. Tak ada lagi yang memanggilku Ibu, be­gi­tu juga suara gelak renyai, ribut-ribut, dan senda gurau tinggal sebatas bayangan.

Lalu, di malam ulang tahunku yang ke-51, aku pun kehilangan suamiku. Hingga malam ulang tahun selanjutnya, aku lupa cara menikmati bolu pandan dingin dan teh basi di meja ruang tengah. ***

 

Oleh:
TIARA SARI



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM