Tetap Fit dan Produktif di Usia Tua


Sabtu, 02 Januari 2016 - 01:44:29 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Tetap Fit dan Produktif di Usia Tua

Maklum saja, saat usia memasuki senja, banyak organ tubuh mulai me­nga­lami penurunan fungsi. Mi­salnya mata menjadi rabun, tubuh cepat lelah, serta daya ingat turun alias pikun. Tubuh pun menjadi gam­pang sakit-sakitan.

Bila ini terjadi, tentu bakal menguras keuangan. Inilah yang membuat orang cemas masa tuanya hanya akan merepotkan beban keluarga.

Padahal, tak selamanya saat usia bertambah senja, kesehatan kerap meng­gang­gu. Banyak juga kok, orang lanjut usia (lansia) yang tetap fit, produktif, berguna dan mandiri.

Nah, hidup sehat di masa tua ini bisa diusahakan. Salah satu caranya. mene­rapkan gaya hidup sehat sejak muda.

Djoko Maryono, Dokter Spesialis Internis dan Kar­diologis Rumah Sakit Pusat Pertamina, menjelaskan, ada dua hal yang membuat lansia gampang jatuh sakit. “Itu disebabkan penuaan sel tubuh dan akumulasi gaya hidup ketika muda,” ka­tanya.

Gaya hidup tidak sehat bisa mempercepat terja­dinya penuaan sel-sel tubuh. Gaya hidup itu mencakup pengaturan pola makan, ditambah dengan olahraga dan istirahat cukup. Jika gaya hidup selagi much tidak teratur, maka proses ke­rusakan sel di usia tua lebah cepat terjadi.

Sebab, pola makan dan gaya hidup tidak sehat itu bisa memicu radikal bebas masuk ke dalam tubuh. “Radikal bebas ini me­nimbulkan kerusakan di berbagai bagian sel,” kata Djoko.

Semakin banyak radikal bebas masuk ke dalam tu­buh, akan semakin banyak sel yang mengalami keru­sakan.

Rimbawan, Dokter dari Departemen Gizi Ma­sya­rakat dan Sumberdaya Ke­luarga Fakultas Pertanian IPB Bogor menjelaskan, radikal bebas adalah mo­lekul yang berdiri sendiri dan sifatnya merusak sel-sel lain dalam tubuh.

Radikal bebas mudah sekali ditemukan di sekitar kita. Mulai dari makanan yang digoreng dengan tidak sehat, polusi udara, rokok, hingga polusi elekt­ro­magnetik. “Semua ini memendekkan hidup sel,” kata Rimbawan.

Kebutuhan kalori pada lanjut usia (lansia) tergantung dari usia, tinggi badan, berat badan, aktivitas, dan ada tidaknya penyakit yang menyertainya. Sejalan dengan bertambahnya usia, metabolisme tubuh dan kemampuan organ cerna akan menurun sehingga asupan makanan dan minuman yang berlebihan bisa menjadi beban kerja bagi organ-organ tubuh yang juga telah lansia.

Asupan makan pada lansia dipengaruhi oleh berbagai hal seperti faktor sosial ekonomi, fisiologi, patologi dan lain- lain.

Umumnya perubahan komposisi tubuh yang terjadi adalah komposisi lemak yang meningkat, komposisi cairan tubuh yang berkurang, komposisi otot yang menurun disertai penurunan massa tulang.

Contohnya massa otot yang beratnya sekitar 40% dari berat badan mem­berikan sumbangan 20, 25% terhadap laju me­tabolisme. Selain itu organ-organ yang memiliki aktivitas metabolisme tinggi seperti hati, otak, jantung dan ginjal mem­berikan kontribusi sebesar 60 - 65% terhadap laju metabolisme.

“Pada lansia terjadi penurunan dari aktivitas organ-organ yang saya sebutkan tadi.Hal ini sebutnya, perlu diper­hatikan agar pemberian nutrisi pada lansia di­sesuaikan dengan ke­butuhannya, agar kualitas kesehatannya tetap terjaga dengan baik.

Penurunan berat badan (BB) pada lansia merupakan faktor yang harus diwaspadai, karena mempengaruhi angka kematiannya.

Penelitian yang dilakukan di sebuah Panti Werdha menunjukkan lansia yang mengalami penurunan BB lebih dari 10% dalam waktu 6 - 36 bulan, didapatkan angka kematiannya sebesar 62% dalam jangka waktu 3 tahun, sedangkan pada lansia yang tidak meng­alami kehilangan BB angka kematiannya hanya sebesar 42% dalam kurun waktu yang sama.

Oleh karenanya dukungan nutrisi yang kuat pada lansia merupakan hal yang sangat penting untuk tetap mempertahankan kualitas hidup dan kesehatan yang optimal. Nutrisi yang diberikan, kata Inayah harus dise­suaikan dengan nafsu makannya, suasana makan, jenis makanan, dan cara pemberian makanannya.

Pada beberapa lansia ada yang mempunyai nafsu makan yang berlebih, hal ini memberikan dampak yang kurang baik karena sejalan dengan ber­tambahnya usia, me­tabolisme tubuh yang telah menurun, kemampuan organ cernapun menurun.

Antioksidan

Untuk menahan serangan radikal bebas, diperlukan antioksidan. Antioksidan akan me­lindungi sel dengan menangkap radikal bebas, sehingga molekul yang tadinya berbahaya tidak mengancam sel-sel dalam tubuh lagi.

Antioksidan ini bisa diperoleh dari makanan yang sehat seperti sayuran dan buah-buahan. Selain itu, antioksidan bisa didapatkan dari produk lebah dan lidah buaya. Namun, tidak semua orang bisa memenuhi kebutuhan antioksidannya. Mak­lumlah, gaya hidup masa kini semakin menjauhkan orang dari pola makan sehat. Kalau tidak bisa dipenuhi dari asupan makanan, kita bisa mendapatkan antioksidan dari suplemen makanan.

Selain lansia, suplemen tambahan ini baik juga dikonsumsi anak-anak, ibu hamil dan menyusui, wanita usia subur, dan perokok. Selain itu, orang yang terkena infeksi dan stres oksidatif juga disarankan mengonsumsi suplemen antioksidan ini.

Djoko mengingatkan, seseorang sebaiknya mengonsumsi antioksidan sejak masa produktif. Tujuannya, untuk menjaga kebugaran sel dan organ tubuh hingga tua.

Suplemen makanan untuk lansia bisa dikon­sumsi oleh seseorang yang memasuki usia 40 tahun. Namun, jika diperlukan, usia 35 tahun juga sudah bisa mengonsumsi suplemen ini.

Suplemen makanan ini juga diperlukan oleh orang tua. Soalnya, fungsi organ tubuh pada lansia me­nurun mulai, dari fungsi sel, hormonal dan pen­cernaan. Alhasil, makanan yang dikonsumsi lansia tidak dapat terserap dengan baik oleh tubuh.

Penurunan fungsi organ ini juga membuat lansia tidak bisa me­ngonsumsi makanan terlalu banyak. Lagi pula, para lansia memang disarankan untuk mengurangi porsi makannya. Sebab, asupan makanan yang berlebih justru akan memboroskan penuaan sel. “Prinsipnya gizi yang cukup dan tidak berlebihan,” kata Djoko.

Karena makanan yang masuk ke dalam tubuh terbatas, tentu asupan gizinya juga terbatas. Padahal, saat memasuki usia lanjut, orang tentu membutuhkan gizi sebanyak mungkin untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuhnya.

Untuk mengatasinya, para lansia perlu meng­konsumsi suplemen makanan. Suplemen makanan yang dikonsumsi sebaiknya mengandung vitamin C. “Vitamin C akan membantu menyerap vitamin dan mineral lain yang dibutuhkan tubuh,” kata Djoko.

Untuk lansia, sup­lemen ini sebaiknya dilengkapi juga dengan mineral lain, seperti vitamin B kompleks, vitamin D,omega 3 atau ginko biloba. Vitamin B kompleks berguna meningkatkan kekebalan tubuh. Sementara vitamin D berfungsi sebagai tambahan kalsium untuk kesehatan tulang. Ada pun omega 3 untuk kesehatan jantung, dan ginko biloba menutrisi otak dan mencegah kepikunan.

Meski begitu, seba­iknya lansia mengonsumsi suplemen yang berdosis rendah sehingga aman dikonsumsi setiap hari. “Dosis kecil aman karena fungsi penyerapan orang tua lebih rendah diban­dingkan orang muda,” ujar Djoko. (h/berbagai sumber)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 23 Juli 2016 - 01:34:52 WIB

    Agar tetap besih dan awet, Cat Mobil Harus Selalu Dirawat

    Agar tetap besih dan awet, Cat Mobil Harus Selalu Dirawat Mobil adalah kendaraan beroda empat yang menjadi kebanggan tersendiri bagi pemiliknya, karena mobil merupakan benda yang dapat kita pakai saat melakukan perjalanan..
  • Sabtu, 06 Februari 2016 - 00:48:01 WIB
    Irwan Afriadi

    Meski Sibuk, Hobi Motor Tetap Jalan

    Meski Sibuk, Hobi Motor Tetap Jalan PADANG, HALUAN — Kesibukan boleh seabrek, kendati demikian Irwan Afriadi tak pernah melupakan kecintaannya terhadap motor. Untuk itu dia selalu menyempatkan melepaskan hobinya diwaktu kosong dengan mengendarai motor..
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM