Bengkuang yang Kalah Bersaing di Kotanya Sendiri


Kamis, 31 Desember 2015 - 04:45:34 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Bengkuang yang Kalah Bersaing di Kotanya Sendiri TUGU Bengkuang di batas Kota Padang yang jadi simbol kota.

Momen ini, pantas rasa­nya direbut oleh pedagang, terutama yang dadakan. Diakui pemerhati ekonomi UNP, Yuliandri momen ini menjadi peluang bagi per­orangan serta rumah tangga untuk ikut berlomba me­nambah pendapatan karena pasar memang sedang meng­gandrunginya. Musim buah, katanya, ikut memutar roda perekonomian Sumbar, kendati hal ini ia yakini tak berpengaruh besar.

“Seberapa besarnya pengaruh tentu harus kita hitung dulu. Namun tentu saja berpengaruh karena sebagian besar mas­yara­kat kita memiliki batangnya dan bisa memanfaatkannya menjadi ladang pencarian,” ujarnya.

Menurut beberapa penjual yang ditemui Haluan di Pasar Raya Padang, menjual buah seperti rambutan saat ini cukup menambah penghasilannya. De­ngan modal Rp300 ribu perba­tang, Sabri (40) bisa menda­patkan keuntungan lumayan.

“Rambutan manis ini lang­sung saya beli satu pohon seharga Rp300.000. Habis tidak habis itu resiko saya. Tapi jarang yang tidak habis dan alhamdulillah sampai beberapa hari semua laku terjual dengan untung 50 persen,” aku bapak empat orang anak ini yang mengaku membeli rambutan di kawasan Banuaran, Padang.

Ia sendiri sempat merasakan manisnya hasil penjualan ram­butan saat buah yang tergolong ke dalam suku lerak-lerakan atau Sapindaceae itu belum booming di pasaran. Saat itu, katanya, ia pernah menjual rambutan de­ngan harga Rp12 ribu per kil­o­gram. Namun, saat ini buah rambutan sudah datang dari berbagai daerah penghasil ram­butan. Otomatis harganya juga ikut langsung turun sekitar Rp2.000 per harinya.

“Saat ini saya menjual ram­butan sekitar Rp4.000 per kg. Itupun sudah disorak-sorakkan di pasar ini,” lanjutnya.

Lain lagi dengan Yanti (35), penjual durian. Pedagang yang cenderung nomaden saat men­jajakan durian tak punya tempat khusus untuk berjualan. Si pen­jual durian dadakan yang memi­liki batang durian di kampungnya di Pesisir Selatan mengaku mengambil kesempatan dengan menjual di beberapa tempat, mulai di pinggir jalan Pantai Padang dan kadang di pinggir jalan lainnya.

Dengan pola seperti ini, ia mampu menjual durian asal kampungnya itu hingga berpuluh-puluh jumlahnya dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp50 ribu perbuahnya.

Sementara, Irma (55) pedagang duku tak jauh dari pusat Kota Padang harus berjuang keras menjual buah yang populer ber­asal dari Palembang ini karena pasokannya makin melimpah di pasaran. “Tiga hari yang lalu harganya masih Rp15.000 per kg. Saat ini sudah mulai banjir dan harganya berangsur turun men­jadi Rp10.000 per kg. Bisa saja paling bawah harganya mencapai Rp8.000 per kg nanti jika makin banjir,” paparnya.

Hanya saja, untuk meng­on­sumsi buah yang semakin me­limpah di pasaran ini juga perlu diperhatikan cara menikmatinya. Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Eka Lusti pada Haluan, mengatakan harus berhati-hati dalam mengkonsumsi buah ter­sebut. 

“Sebenarnya bukan buahnya yang berbahaya namun cara memakannya. Sebagian kita ba­nyak yang memakan dengan cara yang salah seperti membuka kulitnya dengan mulut seperti rambutan dan lansek. Karena buah tersebut banyak mengandung kuman yang mendatangkan pe­nyakit,” terangnya.

Sayang, pesta sesaat ini tak dinikmati penjual bengkuang, buah yang notabene diklaim sebagai buahnya Kota Padang itu. Jika pedagang buah seperti di atas dengan mudahnya kita temukan di berbagai sudut kota, tak demikian dengan bengkuang. Hanya ada beberapa titik di Padang terlihat kumpulan orang yang berdagang buah ini, mulai dari Air Tawar depan kampus UNP, batas Kota Padang jelang dan selepas Fly Over bandara serta perempatan By Pass Lubeg.

Pamor buah yang katanya made in Padang itu tampak mulai redup sejak Terminal Lintas An­dalas “tergusur” dari pusat kota ke TRB Aiepacah yang kini sudah disulap pula jadi pusat pemerintahan Kota Padang. Pasar yang semakin “sempit” sejalan dengan semakin me­ngecilnya luas lahan yang mena­nam buah yang memiliki efek pendingin karena mengandung kadar air 86-90%.

Namun, pejabat Pemko Pa­dang beberapa waktu lalu pernah mengklaim bahwa luas lahan produksi bengkuang masih stabil dan mencapai 23 hektar, tanpa merinci dimana lokasinya. Dari penelusuran di “sentra” baru penjualan Bengkuang di depan Kampus UNP, para penjual masih bisa mendapatkan hasil buah tersebut dari ladang di Padang.

“Pelanggan saya lebih suka bengkuang Padang daripada dari daerah lain. Bengkuang padang lebih manis dan lezat diban­dingkan bengkuang luar Padang. Kecil tapi manis. Bengkuang dari daerah lain ukurannya besar, tapi hambar dan terlalu banyak air,” tutur Zakaria.

Berbeda dengan Udin, penjual bengkuang di Jalan Bypass KM 8. Pria berusia 56 tahun yang mengaku sudah 15 tahun ber­jualan bengkuang ini  mengaku mendapatkan bengkuang dari toke karena sulit menemukan petani bengkuang di Padang. Ia mem­perkirakan bengkuang yang ia beli dari touke itu berasal dari Lubuk Aluang.

Dikutip dari wikipedia, Beng­kuang atau bengkoang (Pachyr­hizus erosus) dikenal dari umbi (cormus) putihnya yang bisa dimakan sebagai komponen rujak dan asinan atau dijadikan masker untuk menyegarkan wajah dan memutihkan kulit. Tumbuhan yang berasal dari Amerika tropis ini termasuk dalam suku polong-polongan atau Fabaceae. Di tem­pat asalnya, tumbuhan ini dike­nal sebagai xicama atau jícama.

Pemko Padang sendiri tak kehabisan akal untuk coba mem­pertahankan trade mark kotanya, Padang sebagai Kota Bengkuang. April 2015 lalu, digelar lomba membuat jus bengkuang. Tapi, tetap saja upaya itu belum mam­pu mendongkrak dan mengem­balikan bengkuang ke masa jaya­nya. Semoga, slogan Padang Kota Bengkuang yang selama ini coba dipertahankan eksistensinya tak berubah menjadi Padang Kota Durian, atau Rambutan, atau Duku. (*)

 

Laporan :
WINDA & RAKHMATUL



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 21 Juni 2016 - 06:05:07 WIB

    Menakar Antisipasi Banjir di Kota Bengkuang

    Menakar Antisipasi Banjir di Kota Bengkuang Kamis sore, (16/6) ribuan warga Padang mulai resah, hujan lebat yang mengguyur Kota Bengkuang belum berhenti. Azhan Magrib pun mulai menggema di menara masjid, pertanda sore mulai berganti malam. Hampir tiga jam hujan membasa.

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM