Menunggu Terompet Laku Jelang Tahun Baru


Rabu, 30 Desember 2015 - 02:49:17 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Menunggu Terompet Laku Jelang Tahun Baru WERI, salah seorang pedagang terompet tahun baru di Jalan Sandang Pangan Pasar Raya Padang, tengah menunggu pembeli di lapaknya, Senin (29/12). (JULI ISHAQ PUTRA)

Ia seolah ingin me­nun­juk­kan pada para pe­ngun­jung Pasar Raya Pa­dang, bahwa terompet tahun baru yang dijualnya, me­na­warkan bunyi terbaik untuk me­nyambut tahun baru 2016. Siang itu, Senin (29/12), tahun baru masih dua hari lagi. Weri mengaku telah membuka lapak dagang te­rompet dan kembang api sejak 23 Desember di Jalan Sandang Pangan Pasar Raya Padang, sepekan sebelum tahun baru tiba. Beralih profesi dari seorang penjual teh poci menjadi penjual terompet dan kembang api, selalu dilakoninya jelang pergantian tahun selama sepuluh tahun belakangan.

“Jualan terompet ini cu­ma profesi musiman bagi saya. Sudah sepuluh tahun seperti ini. Alasannya, peng­hasilan jual terompet tahun baru memang meng­giur­kan,” aku Weri pa­da Haluan.

Selain menjual terompet dan kembang api, ternyata Weri juga sekaligus peng­rajinnya. Dikatakannya, se­ba­gian besar terompet yang ia jual adalah hasil bikinan sen­diri. Bahkan ia juga me­masok terompet tersebut ke penjual terompet lainnya. Belum lagi puluhan anak galeh (pedagang asongan), juga menjajakan terompet hasil bikinannya.

Menurut pengakuannya lagi, menjual terompet di tahun baru memang sangat menguntungkan. Ba­yang­kan, baru dua-tiga hari je­lang tahun baru saja ia sudah bisa menjual 200-300 te­rom­pet. Lalu puncaknya selalu terjadi sehari sebelum tahun baru, di mana ia akan mulai berjualan pagi-pagi sekali hingga pukul dua malam. Hasilnya, ribuan terompet berhasil pindah ke tangan pembeli.

“Malam hari saya bikin terompet, dibantu oleh be­berapa orang. Esok paginya terompet dijemput penjual yang lain. Ada yang ambil 500 sampai 700 terompet. Selain itu, ada juga anak galeh saya yang mengambil 200 hingga 300 terompet. Dulu anak galeh saya sam­pai sepuluh orang, tapi se­karang tinggal lima orang sa­j­a, mereka biasanya ber­jualan di lampu merah atau di tepi jalan,” jelas warga Gantiang tersebut.

Dibanding menjual teh poci seperti di hari-hari biasa, penghasilan yang didapat Weri saat berjualan terompet dan kembang api memang berlipat ganda. Meskipun demikian, karena jualan terompet bersifat musiman, tentu ia tak bisa selalu menikmatinya. “Ini sifatnya ‘kan musiman. Se­kali datang memang uang­nya banyak. Tapi karena tidak setiap hari, jadi tidak langsung pula kaya raya karena jualan terompet,” imbuhnya.

Harga terompet yang dijual Weri dan rekan lainnya berbeda-beda, tergantung model dan ukuran terompet itu sendiri. Untuk terompet kertas hasil tangannya sendiri, ukuran besar seharga Rp10 ribu dan yang kecil Rp5 ribu. Sedangkan untuk terompet berbahan plastik yang ia beli dari agen di Blok A Pasar Raya, harganya berbeda-beda sesuai model, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp15 ribu.

Selain terompet, Weri juga menjual berbagai jenis kembang api di lapaknya. Tak seperti terompet yang seba­gian besar ia bikin sendiri, kembang api yang dijualnya ia beli di Blok A Pasar Raya pada agen langganannya.

Kembang api yang di­jual­nya juga beraneka model serta harga, tergantung jenis dan jumlah letupan kem­bang api itu sendiri. Untuk yang paling murah, kem­bang api tahun baru dijual mulai Rp15 ribu. Tapi ada juga kembang api seharga ratusan ribu yang disediakannya.

“Kalau kembang api tergantung cuaca. Kalau cuaca tidak cerah di malam tahun baru, penjualannya tidak akan sebanyak saat cuaca cerah,” jelasnya lagi.

Meskipun menjual te­rompet dan kembang api sangat menggiurkan, tidak selalu kenangan baik yang dialami Weri saat menjajakan terompetnya. Pada malam pergantian tahun 2013, ia mengaku hanya balik modal setelah terompet yang dijual­nya tidak sampai terjual sete­ngahnya. Begitupun terompet yang dijajakan oleh anak galehnya.

“Tahun baru tiga tahun lalu itu hujan lebat dari siang hingga larut malam. Tidak ada orang yang keluar untuk merayakan tahun baru. Aki­batnya terompet saya sedikit yang laku, tidak sampai setengah terompet yang saya buat itu terjual. Untungnya tidak sampai merugi. Kare­na masih balik modal, tapi letih bekerjanya tidak ter­bayarkan,” tutupnya lagi.

Weri berharap, per­gantian tahun baru 2015-2016 ini hujan tidak turun. Soalnya, ia memang fokus mem­buat dan menjual te­rompet selama dua minggu belakangan, sehingga eko­nomi keluarganya amat ber­gantung pada hasil berjualan terompet . Ia yakin, jika tahun baru ini cuaca cerah, terompetnya akan laku se­be­lum jam lima sore pada 31 Desember ini.***

 

Laporan:
JULI ISHAQ PUTRA



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 15 Agustus 2017 - 11:29:33 WIB

    Menunggu Penanganan Medis dan Butuh Uluran Tangan, Bayi Berkelamin Ganda itu Belum Diberi Nama

    Menunggu Penanganan Medis dan Butuh Uluran Tangan, Bayi Berkelamin Ganda itu Belum Diberi Nama Umur bayi mungil itu sudah empat hari, tapi kedua orangtuanya masih harus bersabar untuk menyematkan sebuah nama untuk bayi itu. Sebab, sehari setelah dilahirkan, dokter menyampaikan bahwa bayi mereka berkelamin ganda..
  • Kamis, 24 November 2016 - 00:46:16 WIB

    Menjual Pulau, Menunggu Bom Waktu

    Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 menyebutkan: bumi, air dan kekayaan alam yang ter­kan­dung di dalamnya dikuasai oleh negara. Tapi kok bisa sejumlah pulau di Indonesia dijual ke pihak asing? Sebab, kalau baha­sa­nya DIJUAL, artin.
  • Sabtu, 01 Oktober 2016 - 03:26:23 WIB

    Menunggu Langkah Kongkret Presiden

    Menunggu Langkah Kongkret Presiden Setelah penangkapan dan penetapan tersangka Irman Gusman oleh KPK, Presiden Joko Widodo semacam memberikan instruksi kepada seluruh pejabat Negara agar berhenti melakukan korupsi. Arahan ini dapat dikatakan sebagai respons da.
  • Kamis, 22 September 2016 - 04:14:32 WIB

    Menunggu Gaung Tax Amnesty

    Menunggu Gaung Tax Amnesty Harus diakui, Undang-Undang dan peraturan pelaksanaan tax amnesty dibuat secara terburu-buru karena banyak proses politik yang menyebabkan tertundanya pembuatannya. Penyelesaian kilat menyebabkan Undang- Undang tidak sempu.
  • Kamis, 14 April 2016 - 13:55:48 WIB

    PAW Aprianto Tinggal Menunggu Hari

    PADANG, HALUAN—Proses Per­gantian Antar Waktu (PAW) Anggota DPRD Kota Padang dari Fraksi PDI Perjuangan, tinggal menunggu hari..

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM