Mencuri Hati


Rabu, 30 Desember 2015 - 02:46:11 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Mencuri Hati

Kata mencuri pada da­sar­nya bermakna negatif. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Bahasa Edisi IV, mencuri berarti mengambil milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah, biasanya dengan sembunyi-sem­bu­nyi. Pelakunya disebut pen­curi. Berdasarkan definisi itu, mencuri berarti perbua­tan terlarang. Orang yang mencuri akan mendapatkan sanksi di negara mana pun dan berdosa menurut kitab suci agama apa saja. Semen­tara dalam ungkapan men­curi hati, kata mencuri berko­notasi positif. Terjadi hal yang kontradiktif antara makna mencuri secara haki­kat dan makna mencuri hati. Ada sesuatu yang salah, bukan?

Selanjutnya, mari kita lihat pemakaian kata men­curi dalam petuturan sehari-hari. Apabila seseorang sedang jatuh cinta, ia akan berusaha mencari-cari cara untuk mencuri hati orang yang disukainya. Dalam hal ini, pelakunya jelas memi­liki niat untuk mencuri. Ini sama halnya dengan orator yang berbicara dengan baha­sa sedemikian menarik di hadapan khalayak ramai, untuk mencuri hati pen­dengarnya. Akan tetapi, ada juga mencuri hati yang tidak diniatkan oleh pelakunya. Misalnya, seseorang yang sedang jatuh cinta tadi, selain berusaha mencuri hati pujaannya, ia juga mera­sa pujaannya sudah mencuri hatinya. Dalam konteks ini, si pencuri hati tidak berniat mencuri, tapi dituduh telah melakukan perbuatan yang bahkan tidak disadarinya.

Sementara itu, kita juga mengenal frasa yang me­ngan­dung kata mencuri da­lam tafsiran perbuatan yang dilarang, misalnya mencuri uang. Terlepas dari banyak­nya pencuri uang, khu­sus­nya pencuri uang negara, yang bebas berkeliaran, hukuman bagi pencuri uang adalah mendekam dalam penjara. Nah, jika pencuri uang diancam dengan huku­man penjara, lantas adakah hukuman bagi pencuri hati? Jika saya berhasil mencuri hati seseorang, apakah saya akan digebuk massa seperti pencuri sepeda motor yang tertangkap ketika beraksi? Atau adakah hukuman bagi seseorang yang telah men­curi hati saya? Saya akan menuntut pencuri hati saya, seandainya ada pengadilan bagi pencuri hati. Saya akan menuntutnya hukuman se­umur hidup: hidup dengan saya seumur hidup. Ini ter­dengar konyol karena pe­nga­dilan semacam itu tidak ada dan tidak akan pernah ada. Sampai di sini, cukup je­las perbedaan antara men­curi hati dan mencuri uang atau mencuri yang dilarang lainnya.

Mengenai mencuri yang di­larang, misalnya mencuri sa­pi (saya ganti contohnya se­lain mencuri uang), ada pro­ses dalam aksinya. Seba­gai wartawan, saya beberapa ka­li meliput berita pencu­ri­an sapi. Pencuri sapi pada za­man sekarang pada umum­­­nya menggunakan mo­­bil. Prosesnya, pertama, pen­curi mencari target sapi yang akan dicuri. Kedua, me­ngamati lingkungan di se­kitar kan­dang sapi. Keti­ga, menen­tukan waktu pen­cu­rian. Ke­empat, mela­ku­kan aksi. Pen­curi sapi ber­pe­­nga­laman akan memo­tong langsung sapi di tempat sa­pi itu dicuri, kemudian me­masukkan po­to­ngan-po­to­ngan tersebut ke dalam mo­bil. Kalau tidak dipo­tong, pencuri akan susah me­masukkan sapi ke dalam mo­bil. Sapi kemudian diba­wa kabur dan dijual kepada pe­nadah yang sudah me­nung­­gu. Aksi seperti ini se­ring berhasil, tapi tidak ja­rang pula ketahuan sehing­ga mobil pencuri dibakar mas­sa. Jika proses mencuri sa­pi tersebut kurang tepat, se­moga tidak ada yang pro­tes karena saya bukan pen­cu­­ri sapi. Nah, bila makna ka­ta mencuri pada mencuri sa­pi sama dengan mencuri ha­ti, bagaimana proses men­cu­­ri hati? Apakah pencuri ha­ti perlu mengendap-ngen­dap sebelum beraksi? Tentu ti­dak, karena mencuri hati per­lu dilakukan secara ter­bu­­ka dan diketahui oleh sa­sa­ran yang hatinya perlu di­cu­ri.

Sampai di sini, masih ada yang mau menyangkal bahwa frasa mencuri hati perlu ditinjau ulang? Frasa ini bahkan kalau perlu diha­pus­kan dalam jagat petut­uran bahasa Indonesia kare­na bertentangan dengan makna mencuri sebenarnya. Tidak ada salahnya penutur bahasa Indonesia menggan­ti mencuri hati dengan me­mi­kat hati. Kata memikat, sama sekali tidak berkono­tasi negatif. Dalam KBBI, memikat berarti menarik dan membujuk hati (penon­ton, pembeli, dan sebagai­nya). Menurut definisi itu, memikat bukan perbuatan terlarang, apalagi melanggar hukum, kecuali memikat hati bini orang. Jadi, alang­kah lebih baik frasa mencu­ri hati atau mencuri perha­tian yang mengandung dosa itu, diganti dengan memikat hati atau memikat perhatian yang tidak dilarang untuk dilakukan. Ada yang tidak setuju?

Perihal yang sama de­ngan mencuri hati, kita me­nge­nal frasa mencuri angka dalam dunia olahraga. Men­curi angka dalam sebuah pertandingan berarti me­nam­bah angka atau men­dapatkan angka, poin atau skor. Lagi-lagi frasa ini bertentangan dengan makna mencuri secara hakikatnya. Bagaimana mungkin me­nam­bah angka yang meru­pakan aksi yang dilakukan secara terbuka di depan umum, disebut mencuri—suatu perbuatan yang dila­ku­kan dengan sembunyi-sembunyi. Selain itu, upaya menambah angka adalah perbuatan yang terpuji, apa­lagi kalau angka yang dida­patkan itu menghasilkan kemenangan. Aneh sekali jika perbuatan membang­gakan seperti itu disebut mencuri. Para wartawan olahraga seringkali memilih diksi sekehendak hatinya dalam menulis berita, seper­ti istilah mencuri angka ini. Anehnya, alasan membuat istilah demikian adalah su­pa­ya berita enak dibaca. Padahal, sesuatu yang enak belum tentu benar dan baik.

Selain mencuri angka, kita juga mengenal istilah mencuri dengar. Mencuri dengar berarti menyadap. Dalam KBBI, menyadap berarti mendengarkan (me­re­kam) informasi (rahasia, pembicaraan) orang lain dengan sengaja tanpa sepe­ngetahuan orangnya. Peri­hal menyadap informasi, belum tentu perbuatan ter­la­rang, apalagi kalau dila­kukan oleh lembaga negara, misalnya Komisi Pem­be­ran­tasan Korupsi (KPK), yang memiliki dasar hukum untuk melakukan penya­da­pan. Oleh karena itu, penya­dapan yang dilakukan oleh pihak-pihak seperti KPK, tidak bisa dikategorikan sebagai perbuatan mencuri yang dilarang. Walau pro­sesnya dilakukan tanpa se­pe­ngetahuan orang yang disadap, pada akhirnya reka­man penyadapan itu dibuka untuk publik.

Dengan semua pen­jela­san dan contoh-contoh di atas, sudah saatnya kita meng­hilangkan kata men­curi pada ungkapan yang mengandung kata mencuri, seperti mencuri hati, men­curi perhatian, mencuri ang­ka, mencuri salam, mencuri dengar dan sebagainya, lalu menggantinya dengan kata yang tepat. Memang tidak larangan untuk membuat ungkapan. Akan tetapi, le­bih baik membuat ung­ka­pan yang maknanya tidak bertentangan dengan unsur kata pembentuk ungkapan itu. Sudah terlalu banyak kesalahkaprahan berbahasa yang terjadi di negeri ini. Mari kita perbaiki secara perlahan-lahan.

Omong-omong soal men­­­curi hati, saya suka lagu berjudul Pencuri Hati yang dinyanyikan oleh Tere. “Dia mencuri hatiku/akankah dia mengenalku/dia men­curi hatiku/tahukah oh diri­nya.” (***)

 

HOLY ADIB
(Wartawan Haluan dan Pemerhati Bahasa Indonesia)
 



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM