Ambisi, Perlu untuk Meraih Sukses


Rabu, 30 Desember 2015 - 01:57:12 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Ambisi, Perlu untuk Meraih Sukses

Jangan takut jika Anda disebut ambisius. Bahkan, Mahatma Gandhi, seorang pemimpin besar India yang terkenal dengan kepemim­pinannya yang arif dan bi­jak­sana pun mengakui, ia berambisi. Hal ini di­nya­takannya, saat ia ditanya, mengapa berani mening­galkan karier gemilang di bidang hukum, yang ten­tunya memberi penghasilan mapan, lalu memilih men­jadi pemimpin politik yang penuh pengorbanan? Gan­dhi tegas menjawab, “Ini karena ambisi.”

Ambisi berasal dari kata bahasa Inggris, ambition, yang berarti disired to achie­ve something atau will to success. Jadi, dalam bahasa Indonesia ambisi adalah keinginan untuk mencapai sesuatu atau kemauan untuk mencapai sukses. Di sini, arti ambisi jelas-jelas ber­konotasi positif. Begitu pula dengan ambisius, yang me­nunjuk pada orang yang berambisi. Ambisi ternyata penting dimiliki, karena ambisilah yang mengge­rakkkan seseorang untuk mencapai tujuan-tujuan ber­karier. Tanpa ambisi, se­seorang seolah-olah tidak melakukan apa pun.

Napoleon Hills, penulis buku Think and Grow Rich, menyebutkan kurang am­bisi adalah satu faktor uta­ma yang menyebabkan ke­gagalan seseorang. Lan­ta­ran, tanpa atau kurangnya ambisi, jalan Anda men­capai tujuan tersendat-sen­dat, akibat tidak memiliki motivasi. Akhirnya, karena terlalu lamban, Anda pun menemui kegagalan.

Gandhi menguraikan, ia berambisi menjadi pe­mim­pin politik bukanlah tanpa sebab. Nurani Gandhi teru­sik demi melihat ketergan­tungan India terhadap kolo­nial Inggris dalam berbagai segi kehidupan. Dia merasa gemetar, kalau mem­ba­yang­kan ketika dirinya sekarat, ia mengucapkan kata-kata: “Seharusnya saya mampu melakukan jauh lebih ba­nyak hal dalam hidup saya.” Uniknya, Gandhi melawan dengan tanpa kekerasan.

Jangan Anda mengira ambisi tidak terlihat. Bos atau pemilik perusahaan tetap dapat melihat ambisi Anda. Melalui hasil kerja Anda, mereka akan menilai apakah Anda seseorang yang berambisi atau tidak. Biasanya, orang yang ber­ambisi akan berusaha mem­buat hasil pekerjaannya sesuai standar tertentu, bukan asal jadi, asal cepat, atau asal memenuhi tenggat.

Bisa Menjadi ’Racun’

Ambisi bernilai positif, lalu mengapa timbul tu­duhan miring tentang orang yang berambisi? Jawa­ban­nya, karena untuk mewu­judkan ambisi, seseorang jadi terobsesi, sehingga am­bisinya berlebihan dan tak jarang ‘menghalalkan’ se­gala cara. Karena itu, Anda perlu memiliki batasan dalam mengejar ambisi. Dengan memper­timbang­kan lingkungan, nilai-nilai moral dan norma-norma di sekitar Anda, etika, serta kondisi Anda sendiri.

Misalnya, tahun ini An­da berambisi dipromosikan menjadi senior manajer marketing. Ambisi seha­rusnya mendorong Anda untuk lebih rajin melakukan riset pasar, atau mencari terobosan-terobosan baru dalam pemasaran. Bukan secara diam-diam, Anda justru mencuri ide teman. Itu adalah ambisi yang me­langgar nilai-nilai persa­habatan, sekaligus etika. Contoh lain, demi ambisi terlihat menjadi manajer iklan andal, Anda mema­sang kenaikan target 100 persen. Anda tak peduli, padahal kondisi ekonomi nasional yang juga me­meng­aruhi dunia iklan sedang lesu. Gara-gara am­bisi Anda yang berlebihan dan tidak realistis, anak buah Anda tertekan, bahkan mengundurkan diri.

Sebagai orang yang berambisi, kadang-kadang Anda tak menyadari se­berapa jauh ambisi Anda itu membuat orang lain tidak nyaman atau tertekan. Be­rikut ini beberapa ciri yang menunjukkan ambisi Anda sudah berlebihan:

· Jika rekan satu tim atau satu level dengan Anda yang biasanya sering ber­diskusi bersama, mulai menjauhi Anda.

· Anak buah tertekan bekerja di bawah Anda. Hal ini terlihat dengan raut wa­jah mereka yang tak senang, atau malah takut melihat Anda. Dilihat dari hasil kerja, mereka sering me­lakukan kesalahan-kesa­lahan sepele yang sebetulnya bisa dihindari. Mereka tak lagi berdiskusi dengan An­da, bahkan kini membuat jarak. Kreativitas anak buah Anda pun tak berkembang.

· Pekerjaan anak buah sering kali tak selesai atau sulit rampung gara-gara ‘protes’ Anda yang tiada henti

· Orang-orang malas ber­a­da dalam satu tim dengan Anda

· Dalam lingkungan so­sial, Anda tidak begitu dite­rima. Begitu Anda datang, pembicaraan yang tadinya seru, langsung ‘dingin’.

Selain dari reaksi orang lain, tubuh Anda juga ‘pin­tar’ memberikan reaksi un­tuk menunjukkan ambisi Anda sudah berlebihan. Antara lain, karena terus- menerus dibebani tugas untuk mewujudkan ambisi, Anda jadi melupakan is­tirahat. Pada satu titik, Anda biasanya kerap menderita sakit kepala, mudah lelah, susah tidur, dan merasa tertekan. Jeleknya, ketika kelelahan fisik ini mendera, Anda menjadi mudah ma­rah, kurang menoleransi kesalahan, dan solusi yang diambil sering salah atau sulit berkonsentrasi. Kalau ini sudah terjadi, maka am­bisi itu menjadi ‘lampu kuning’ bagi karier Anda.

Pemimpin Berambisi

Agar ambisi Anda ter­wujud, Anda harus me­nyiap­kan ‘amunisi’ dari diri sen­diri dulu. Buatlah juga am­bisi yang realistis, dengan menengok kemampuan diri dan  kondisi di sekitar An­da. Anda juga perlu mem­persiapkan diri bekerja le­bih keras. Buatlah peren­canaan kerja, agar hasil pekerjaan lebih terarah. Buat pula tenggat untuk pekerjaan Anda, sekaligus membuat skala prioritas pekerjaan. Lalu, berusa­halah fokus dalam bekerja, misalnya dengan me­mini­malkan ‘interupsi’, seperti menunda menjawab SMS atau membaca e-mail yang tidak penting, dan mem­batasi waktu bergosip. Sa­ngat tidak lucu, jika Anda mengharapkan anak buah Anda terus bekerja, se­men­tara mereka mendengar An­da ngobrol di telepon, mi­salnya. Miliki ketekunan menggapai ambisi, disertai kesediaan ‘membuka mata’.

Bekal untuk menjadi pribadi penuh ambisi sudah di tangan. Tapi, belum tentu ambisi yang sama besar dimiliki anak buah Anda. Ini pekerjaan yang sulit. Karena, tak jarang ambisi macet di tengah jalan, kare­na hambatan-hambatan da­lam tim Anda. Bukannya menyambut ide Anda, di­am-diam mereka mengang­gap ide Anda tidak realistis, sehingga mereka bersikap setengah hati dalam me­ngerjakannya.   (h/net)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM