Menjadi Pribadi Tangguh


Selasa, 29 Desember 2015 - 02:32:02 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Menjadi Pribadi Tangguh

Ketika kita melihat pa­car atau pasangan kita ber­jalan di depan kita, pikiran kita mungkin akan me­me­rintahkan mulut kita untuk menegurnya, menyuruh ka­ki kita mempercepat lang­kah, atau meminta kita un­tuk tidak melakukan apa-apa.

Demikian pula halnya dengan perasaan kita, de­ngan informasi yang ter­kumpul di otak, pikiran memberikan perintah-pe­rintah khusus kepada “hati” untuk menentukan suasana yang diinginkan. Um­pa­manya, suatu hari kita di­tinggal kekasih, pikiran kita akan memilih informasi-informasi yang ber­hu­bu­ngan dengan kehidupan cin­ta kita dengannya, yang terekam oleh otak. Ka­ta­kanlah pikiran kita memilih informasi yang berhu­bu­ngan dengan hal-hal indah, yang pernah kita alami ber­samanya. Pikiran kita akan mengolahnya dan meng­hasilkan instruksi, umpa­manya, kita menyesal dan sedih karena semua kein­dahan itu harus berakhir.

Demikian pula halnya dengan perasaan kita, de­ngan informasi yang ter­kumpul di otak, pikiran memberikan perintah-pe­rintah khusus kepada “hati” untuk menentukan suasana yang diinginkan. Um­pama­nya, suatu hari kita ditinggal kekasih, pikiran kita akan memilih informasi-infor­masi yang berhubungan dengan kehidupan cinta kita dengannya, yang terekam oleh otak. Katakanlah piki­ran kita memilih informasi yang berhubungan dengan hal-hal indah, yang pernah kita alami bersamanya. Piki­ran kita akan mengolahnya dan menghasilkan instruk­si, umpamanya, kita me­nyesal dan sedih karena semua keindahan itu harus berakhir.

Faktual dan sensitif

Bila pengaruh pikiran sangat kuat terhadap pe­rasaan kita, berarti kita orang faktual, orang yang selalu bertindak atau ber­sikap berdasarkan fakta. Tetapi bila pengaruh pikiran sangat lemah terhadap pe­rasaan kita, maka kita ter­masuk orang sensitif.

Orang faktual biasanya lebih mampu menge­n­dali­kan perasaan. Soalnya, piki­rannya mampu mengolah fakta-fakta yang terekam di otak secara lebih mendetil sebelum dimasukkan ke “hati”.

Sebaliknya, orang sen­sitif akan cenderung emo­sional, karena biasanya pa­da saat merespons realitas yang

tengah dihadapi, piki­rannya tidak mengolah kem­­bali fakta-fakta yang terekam di otak, akan tetapi langsung memasukkannya ke dalam “hati” apa adanya. Ia mengolah informasi de­ngan perasaannya.

Untuk memperjelas, am­bilah contoh seseorang tanpa sengaja melihat ke­kasihnya tengah duduk ber­dua dengan orang lain yang berlainan jenis kelamin dan tidak ia kenal. Bila dia orang sensitif, otaknya merekam semua kejadian yang dili­hatnya. Pikirannya tidak mengolah melainkan lang­sung meneruskannya ke dalam “hati” untuk diolah. Karena “hati”-nya yang mengolah, ia mungkin se­gera mendatangi mereka dan tanpa babibu langsung melayangkan bogem men­tah.

Sebaliknya, bila ia seorang faktual, kejadian-kejadian tadi direkam di otaknya, diolah terlebih dahulu oleh pikiran se­be­lum diteruskan ke “hati”. Pikirannya akan membuat pertimbangan-pertim­ba­ngan yang diperlukan. Bila kekurangan data, maka ia akan menghasilkan kemung­kinan-kemungkinan lain. Misalnya, kemungkinan orang lain itu adalah saudara atau sahabat kekasihnya. Atau mungkin pula teman selingkuh kekasihnya. Ke­mungkinan-kemungkinan itu kemudian diteruskan ke “hati” sebagai perasaan ingin tahu. Karena per­tim­bangan pikiran inilah ia mungkin akan men­de­kati­nya untuk mencari tahu hal sebenarnya, ketimbang lang­sung menghakimi.

Proses itulah yang me­nyebabkan orang faktual cenderung tenang, penuh perhitungan, dan mampu mengendalikan diri. Se­baliknya, orang sensitif cen­derung cepat gelisah, ter­gesa-gesa dalam mengambil kesimpulan, tidak sabar, dan sukar mengendalikan diri.

Persepsikan kenyataan secara positif

Dengan pengoptimalan pikiran, kita dapat me­ngen­dalikan perasaan dan juga kehidupan ke arah yang kita inginkan. Dengan pikiran kita dapat mengubah pe­rasaan sedih menjadi pe­rasaan senang, takut men­jadi berani, minder menjadi percaya diri, pesimis men­jadi optimis, atau bosan menjadi penuh gairah. Maka tidak salah bila seorang filsuf, Marcus Aurelius, memiliki pandangan bahwa “Hidup kita ditentukan oleh pikiran”.

Kalau berpikir tentang hal-hal menyenangkan, maka kita akan menjadi senang.

Begitu pula bila berpikir soal hal-hal menakutkan kita akan menjadi takut.

Rasanya memang sulit dipercaya. Namun, itulah adanya. Stanley R. Welty, Presiden Wooster Brush Company, berpendapat, “Pa­da saat keluar rumah di pagi hari, kita sendirilah yang menentukan apakah hari itu akan jadi baik atau buruk, karena tergantung bagai­mana kita menja­lan­kan pikiran kita. Dapat tid­aknya kita menikmati hari itu sa­ngat tergantung pada cara kita berpikir.”

Kalau merasa kantung kita menipis, lalu mengeluh seakan-akan kita orang pa­ling sial, bisa jadi hari itu menjadi hari paling mem­bosankan. Tapi bila kita bangun pagi, memandang keluar jendela dan melihat bagaimana burung-burung bersiul

menyambut pagi sambil merasakan kesejukan em­bun, tanpa mempedulikan kantung yang semakin kem­pis, mungkin kita akan men­dapati hari itu sebagai hari baik. Bagaimana pun cuaca hari itu, bagaimana pun beratnya masalah yang dipi­kul hari itu, pikiranlah yang menentukan kehidupan ki­ta. Yang kita pikirkan ketika itu, itulah hidup kita.

Yang bisa dilakukan ada­lah mengendalikan pi­kiran. Jangan biarkan piki­ran kita membuat perasaan menjadi tidak enak. Senantiasa persepsikan kenyataan secara positif.

“Bila perlu berusahalah tersenyum dalam meng­hadapi situasi sesulit apa pun. Ada saat-saat di mana kita harus pasrah dan ter­tawa. Humor dalam hidup ini sangat penting. Jangan lupa bahwa hal-hal se­der­hana ini dapat membantu Anda mempertahankan pers­pektif,” kata Dale Car­negie, pendiri Dale Car­negie & Associates.

Bila dalam kesedihan kita mencoba tersenyum, sebenarnya kita tengah men­coba melepaskan diri dari perasaan sedih itu. Saat itu kita tengah

menetralkan perasaan negatif di dalam diri. Hal ini sangat baik dan bisa mem­bantu agar kita tidak terlalu larut dalam duka.

Demikian pula ketika tengah dihadapkan pada masalah-masalah berat, se­nyum kita sedikit banyak akan membantu melepas­kan ketegangan. Selanjut­nya, biarkan diri relaks, pandang kenyataan di ha­dapan kita secara positif, karena dengan begitu kita bisa mengambil hikmah dari apa yang tengah diha­dapi. Lalu pikirkan hal-hal yang dapat mengembalikan kegembiraan kita.

“Kalau ada masalah, relakslah. Santai saja. Pi­kirkan saja apa yang akan Anda lakukan selanjutnya, dan apa tindakan Anda untuk itu,” kata Welty.

Memang, ada banyak hal yang menyakitkan, yang membuat kita cemas atau kesal. Namun jangan larutkan diri di dalamnya. Jangan biarkan masalah apa pun membuat kita patah semangat. Berpikirlah pada hal-hal positif yang bisa dilakukan. Biarkan semua masalah berlalu tanpa me­ninggalkan luka fatal.

Dengan begitu kita akan menjadi orang tangguh yang tak mudah jatuh. Pikiran kita menjadi terbiasa untuk selalu positif, dan kita akan lebih mudah mencapai cita-cita. Bukan cuma itu, piki­ran positif serta keper­cayaan diri kita akan menarik orang lain bergabung dengan kita. Mereka tidak akan mem­biarkan kita berjalan sendiri menghadapi semua ma­salah. Malah dengan senang hati akan menemani dan membantu kita melewati semua kesulitan. Dan yang lebih penting, hidup kita akan menjadi lebih me­nyenangkan.  (h/unk)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 28 Desember 2015 - 02:37:33 WIB

    Mempersiapkan Si Kecil Menjadi Anak Sulung

    Mempersiapkan Si Kecil Menjadi Anak Sulung Seringkali anak sulung sulit menerima kehadiran adik barunya. Ia merasa perhatian orang tuanya ber­alih pada adik bayi yang baru lahir. Bagaimana cara mempersiapkan anak su­lung agar dapat beradaptasi dengan kondisi yang ba.

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM