Rusia, Putin dan Kedigdayaan Uni Soviet


Senin, 28 Desember 2015 - 03:31:47 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Rusia, Putin dan Kedigdayaan Uni Soviet

Bahkan aksi provo­ka­si kedua negara ini tak ber­henti disitu, minggu (13/12) kapal Rusia melepas­kan tembakan pada Kapal Tur­ki, dengan dalih agar ka­pal Turki berpindah posi­si, un­tuk menghindari ta­bra­­kan. Beruntung tidak ada kon­tak langsung yang terja­di.

Rusia meretas jalan kejayaan

Seolah ingin mengajak pembaca yang budiman me­nyu­suri jejak-jejak kota “len­ning­rad” dan “mengenang sejarah glasnost dan pres­troika”. Penulis sengaja menyuguhkan cerita his­toris dibalik kemajuan nega­ra masha and the bear ini. Ulasan-ulasan Rusia kon­tem­porer telah banyak me­me­nuhi jagat “opini pu­blik”. Tapi, sedikit dari kita yang mengetahui bagaimana Rusia sampai pada titik ini.

Semua mafhum bah­wa­sanya, kedigdayaan Uni Soviet telah runtuh. ia larut ber­sama puing-puing tem­bok Berlin yang menan­da­kan reunifikasi Jerman. Ta­hun 1990, merubah peta politik dunia. Francis Fuku­yama dengan jumawa me­nye­but era itu sebagai “The End of History”. Bipo­la­ris­me dunia yang dicitrakan melalui persaingan Uni Soviet dan Amerika Serikat dalam “rupa” perang dingin, ti­dak lagi menemukan tem­pat di dunia. Keruntuhan Uni Soviet menandai baba­kan baru Politik Inter­na­sio­nal, Amerika Serikat pada tahun-tahun awal setelah keruntuhan Uni Soviet tam­pil menjadi aktor tunggal, negara superpower.

Namun, ada beberapa hal yang sepertinya tidak terlalu mendapat perhatian. Eksistensi Uni Soviet bisa saja dikatakan runtuh, na­mun suksesinya tidak bisa dipahami sama. “DNA” Uni Soviet masih mengalir dan tidak pernah benar benar lenyap. Ia menjelma dalam “tubuh” negara Rusia.

Sebagai pewaris trah ke­dig­dayaan Uni Soviet, Ru­sia tidak ingin bayangan kelam keruntuhan Uni So­viet menghantui hingga kini. Sudah saatnya “move on” dan berpikir kedepan. Tapi bila ditelisik lagi, penca­paian Uni Soviet pada era kejayaannya sangat sulit ditandingi oleh negara ma­na­pun di dunia waktu itu, kecuali Amerika Serikat. Dunia pun terbagi dalam dua blok karenanya, blok barat yang diasosiakan kepa­da Amerika dan Blok Timur kepada Uni Soviet. Ke­nya­taan ini menunjukkan kema­juan tiada tara yang dicapai Uni Soviet. Bahkan Rusia hari ini, sulit menandingi. Sehingga, upaya untuk me­wu­judkan kembali supre­masi Uni Soviet perlahan mulai dilakukan oleh Rusia. Karena, bagaimana pun, mereka perlu belajar dari kedigdayaan masa lalu. Un­tuk mewujudkan Uni Soviet Baru (the new USSR).

Lantas, apa saja upaya upaya politik yang kini tengah dilakukan Rusia untuk mengembalikan ke­dig­dayaan Uni Soviet ? atau setidaknya, Rusia kembali memiliki taji dihadapan negara-negara dunia, se­bagai negara induk eks Uni Soviet.

Masa-masa awal setelah runtuhnya Uni Soviet

Rusia pada masa ini (1990),  berada pada am­bang ekonomi yang sangat mengkhawatirkan. Suksesi kepemimpinan yang dijabat oleh Boris Yeltsin tidak mampu membawa rakyat Rusia keluar dari jaring kemiskinan. Jumlah pen­duduk yang hidup di bawah garis kemiskinan mencapai 50 persen lebih. Kebijakan-kebijakan strategis diambil untuk mengatasi persoalan ini, namun yang terjadi jus­tru krisis Rusia semakin parah dan akut. Kebijakan shock teraphy yang diadopsi dari Polandia serta priva­tisasi perusahaan peru­sa­haan milik negara, hanya memunculkan kaum oli­garki. Mereka menguasai aset-aset negara. Pada akhir­nya, Gap antara si kaya dan miskin ternganga lebar.

Perubahan mulai ter­jadi se­menjak suksesi Yel­t­sin di­lanjutkan oleh Vla­di­mir Pu­tin. Terpilih sebagai Pre­si­den Rusia pada tahun 2000. Banyak sekali kema­juan berarti yang dica­pai­nya.. Antara tahun 1999 sam­pai 2007 PDB Rusia naik rata-rata 6,8 persen per ta­hun. Pertumbuhan eko­no­­mi me­ningkat pesat dan sig­ni­fikan. Industri-indus­tri pe­­ning­galan Uni Soviet di­mak­­­simalkan lagi kapa­sitas pro­­duksinya, terbukti Rusia sa­­at ini merupakan negara pro­­dusen senjata yang pa­ling di segani. Va­rian-varian pro­­duk militer Rusia ba­nyak diekspor dan menjadi pi­­lihan. Tak pelak, Amerika Se­­rikat meman­dang Rusia se­­bagai kom­petitor ter­be­sar, yang me­mi­cu ter­jadinya arm race (Perlombaan Sen­ja­ta).

Pada titik ini, kesuksesan Rusia untuk membangun ke­dig­dayaan kembali te­ngah “dipasung” di lajur yang tepat. Sosok Putin tak bisa tidak disebutkan seba­gai intelectual daader kema­juan Rusia saat ini. Karak­teristiknya yang dingin, dan tidak menekankan kepe­mim­pinannya pada pers­pek­tif ideologis-seperti Ko­mu­nisme Uni Soviet-mem­buat ia lebih leluasa dalam mengambil kebijakan. Jalan pikir pragmatis ditonjol­kannya selagi itu bertujuan untuk membangkit keja­yaan Rusia. Seirama dengan pernyataan Deng Xiaoping bapak Modernisasi China, “tidak peduli kucing itu mau berwarna apa, yang penting dia bisa menangkap tikus”. Putin-sentris jelas tengah berkecamuk di Rusia. Ia dianggap sebagai manifes­tasi kemajuan Rusia era post Uni Soviet State.

Uni Eurasia (gagasan revitalisasi Uni Soviet)

Tidak banyak yang tahu, regionalisme di eropa te­ngah bersimetris. Populisme Uni Eropa memang belum ada yang menandingi dalam konteks integrasi Ekonomi dan Politik. Namun, nun jauh ke “tanah siberia” ran­cang bangun Integrasi Eko­nomi dan Politik sedang di “godok”.

Pasca disintegrasi Uni Soviet mejadi 15 negara pecahan, negara-negara ini dihadapkan pada realita sosial, ekonomi dan politik yang tengah terpuruk. Rusia seperti dijelaskan diawal, pecahan Uni Sovet yang paling dominan, pada perio­de awal setelah disintegrasi mengalami krisis ekonomi dan politik berkepanjangan. Dapat dibayangkan bagai­mana kondisi yang dihadapi oleh 14 negara pecahan uni soviet lainnya.

Ide mengenai pendirian organisasi regional menjadi jawaban atas visi Putin un­tuk mengembalikan trah Uni Soviet. Dalam artikel yang ditulisnya, di sebuah harian di Rusia, Izvestia pada 4 oktober 2011, Putin secara lantang dan terbuka menyerukan pembentukan “Uni Eurasia”.

Menurutnya, melalui Uni Eurasia negara-negara eks Uni Soviet dapat mem­bangun hubungan kerja­sama ekonomi yang intens. Aliran kuasa modal dan sumber daya manusia akan lebih massif. Imbasnya, terwujud “stabilitas per­kem­bangan ekonomi glo­bal”. Negara-negara eks Uni Soviet pun menyambut baik gagasan ini. Terutama Bela­rus dan Khazakstan.

Patut untuk digaris ba­wa­hi, pemaknaan Uni So­viet dalam alam pikir (realm of thinking) Putin, bukan lagi mewujudkan negara berbasis ideologis yang ke­tat. Tapi, Uni Soviet baru yang dipahami sebagai wu­jud dari kebangkitan eko­nomi negara-negara yang dulu tergabung didalamnya. Langkah-langkah pragmatis kapitalis tak apa-apa ditem­puh, selagi itu megun­tung­kan bagi negara negara ang­go­tanya- Beda dengan Uni Soviet dahulu yang begitu tegas untuk mewujudkan pemerintahan tanpa kelas, dan menolak segala bentuk tindak kapitalis neoliberal dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan budaya. Pada akhirnya, reinkarnasi kedigdayaan Uni Soviet Baru tinggal menunggu wak­tu saja. (*)

 

NABHAN AIQANI
(Ketua Umum UKM Pengenalan Hukum dan Politik Unand)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM