Perekonomian 2016, Tantangan Makin Berat


Senin, 28 Desember 2015 - 02:39:20 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Untuk itu, pe­r­­lu dilakukan pembenahan dan perkuat struk­tur­ ekonomi baik disektor ril, maupun disektor ke­­uangan. Karena ke depan tantangan akan se­ma­kin berat dan menuntut kerja keras semua pi­hak.

Demikian disampaikan Kepala Bank Indo­ne­sia Kantor Perwakilan Riau, Ismet Inono, ke­pada Haluan Riau, akhir pekan lalu. Menu­rutnya, pem­benahan dan penguatan struktur ekonomi di­tujukan untuk mening­katkan kembali kemam­puan berproduksi (supply side) pereko­nomian na­sional. Hal ini perlu dilakukan baik untuk me­menuhi peningkatan konsumsi, seiring dengan mem­besarnya jumlah penduduk kelas menengah, mau­pun untuk memperkuat peran ekspor. Se­hingga bisa masuk ke mata rantai nilai global.

”Pada sektor riil, pembenahan perlu diprio­ritaskan guna memperbaiki komposisi produk ekspor yang mayoritas berupa Sumber Daya Alam. Jadi perlu dilakukan restrukturisasi agar beralih menjadi produk olahan yang bernilai tinggi,”ujar Ismet.

Dijelaskannya, selain rekomposisi produk eks­por dan penguatan sektor industri, upaya ini ju­ga mendorong persaingan pasar dan tata niaga yang lebih sehat dibeberapa komoditas, termasuk ko­mditas makanan pokok. Sementara di sektor ke­uangan, pembenahan perlu dilaukan terkait de­ngan penguatan struktur pembiayaan domes­tik. Di­mana upaya ini nantinya dapat memo­bilisasi da­na domestik sebagai sumber utama pem­biayaan eko­nomi, terutama untuk pembia­yaan jangka me­nengah-panjang yang dapat meningkatkan pro­duksi dan daya saing secara nasional,”paparnya.

Sejauh ini, lanjut Ismet, peran dari sumber pem­biayaan korporasi sesuai dengan data yang dikelola oleh BI, menunjukkan utang luar negeri korporasi berada dalam tren meningkat sejak 2010. Kondisi ini didorong karena murahnya dana global paska kebijakan pelong­garan moneter negara maju. Jika dibandingkan negara lain, ketergantungan korporasi terhadap hutang luar negeri masih cukup besar.

Kondisi ini berkaitan dengan komposisi pembiayaan dipasar keuangan domestik yang belum seimbang. Karena banyak yang tergantung pada kredit perbankan yang lebih mahal diban­dingkan dengan sumber pembiayaan lain, seperti pasar saham dan obligasi.

Apalagi pasar keuangan juga belum cukup da­lam antara lain masih terbatas keragaman jenis ins­­trumen pasar dan sempitnya basis investor do­mes­tik. Sehingga beresiko meningkatkan ke­ren­tanan pasar keuangan yang disebabkan fluktuasi har­ga di pasar keuangan sering me­nga­la­mi lon­jakan yang berlebihan, hanya dengan se­dikit peru­bahan volume transaksi,”pungkasnya. (h/nie)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 21 Mei 2016 - 04:05:57 WIB

    Jadikan Desa Jantung Perekonomian

    TAMBANG, HALUAN — Pemerintah Ka­bu­paten (Pemkab) Kampar berharap desa bisa menjadi jantung perekonomian dan sentral komoditi pangan, sehingga mampu memenuhi kebutuhan desanya sendiri. Untuk itu, perlu peran BPD untuk mem.
  • Ahad, 09 Agustus 2015 - 19:33:13 WIB

    Jadikan Riau Lokomotif Perekonomian

    PERINGATAN HUT KE-58 PROVINSI RIAU

    PEKANBARU, HALUAN — Te­pat pada hari Minggu (9/8) ke­marin, Provinsi Riau genap ber­usia 58 tahun. Sebuah usia yang tentu saja tidak lagi mu.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM