Berstatus Siaga

Gunung Marapi Berbahaya untuk Didaki


Sabtu, 26 Desember 2015 - 03:28:36 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Gunung Marapi  Berbahaya untuk Didaki SEBUAH pengumuman larangan mendaki di Gunung Marapi, Kabupaten Tanah Datar sudah terpampang di salah satu pintu masuk jalur pendakian gunung tersebut.

Masyarakat dilarang un­tuk melakukan pendakian hingga puncak. Petugas keamanan setempat hanya memperbolehkan hingga jarak 3 km dari puncak atau sekitar Pa­sang­gerahan.  Na­mun, peringatan ini ternyata tak me­mbuat se­ba­gi­­an pecandu su­­­rut untuk mendaki. 

Pada masa-masa libur pan­jang ini, masih banyak masya­rakat me­la­ku­kan pendakian. Diperkirakan, ini akibat banyaknya pintu menuju puncak Gunung Merapi tersebut, sehingga sulit tera­wasi. Perlu pengawasan le­bih ketat agar peristiwa-peristiwa yang bisa me­reng­gut nyawa bisa di­mini­malisir.

Kapolsek X Koto AKP Yuhendri menjawab Haluan kemarin mengatakan,  pi­hak­nya sudah mengingatkan ma­syarakat untuk tidak melakukan pen­dakian hing­ga ke puncak kawah Gunung lantaran sesuai data Badan Meteorologi, status gu­nung Merapi sejak 3 Desember 2015  dalam status siaga.

“Sewaktu waktu bisa saja menyemburkan abu ber­campur batu. Dan sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa,”kata perwira menengah Polres Pa­dang Panjang itu.

Untuk pengamanan dan pe­nga­wasan,  kata Yuhendri, Polres Padangpanjang menurunkan 24 personil bersama aparat dari Dinas BPBD dan Satpol PP Tanahdatar dan Bekerja sama dengan pemuda Koto Baru. 

Kepolisian dari Polsek  Pol­sek Koto Baru menurunkan 3 shift petugas untuk mengawasi pen­dakian Gunung termasuk di Pa­sang­gerahan Koto Baru ber­sama sama dengan aparat Dinas BPBD dan Satpol PP Tanah Datar beserta kalangan pemuda Koto Baru.

Pihaknya, kata Yuhendri, juga telah memasang spanduk larangan di beberapa tempat agar masyarakat tidak mengalami musibah akibat status Gunung Merapi berada pada status siaga.  Bahkan beberapa bulan yang lalu sejumlah pendaki gunung sem­pat terjebak oleh abu yang men­yem­bur dari kawah Gunung Merapi bersamaan dengan gem­pa tektonik yang terjadi.

“Aktifitas masyarakat hanya diperbolehkan 3 km dari puncak Gunung “, kata Yuhendri men­jawab Haluan, Jumat kemarin.

Selain itu, ada juga masya­rakat yang melakukan pendakian ke puncak Gunung Singgalang.  Meski Singgalang bukan gunung aktif, akan tetapi tetap saja ber­bahaya karena jalan nya sulit dan menyebabkan pendaki  se­ring tersesat.  Apalagi Gunung Sing­galang juga telah banyak menelan korban, ujar Yuhendri lagi.

Sementara itu, arus lalu lintas dari Padang Panjang yang me­lin­tas di wilayah hukum Polsek X Koto menuju Bukittinggi sejak beberapa hari belakangan padat akibat tingginya arus kendaraan dimasa libur sekolah ini, ungkap Yuhendri menjelaskan.

Salah seorang aktifis pecinta alam di Padang, Welly men­ye­butkan, tempat itu, Gunung Ma­rapi memang merupakan tempat pri­ma­dona yang jadi sasaran warga umum dan pecinta alam meng­habiskan malam pergantian tahun, setiap tahun. Biasanya, jika me­ma­ng para pecinta alam yang mendaki, mereka akan mem­perhatikan kon­disi dengan penge­tahuan yang mereka miliki untuk menjajal lereng hingga ke puncak.

Ndak Mungkin mereka (pe­cinta alam) akan mengabaikan himbauan seperti itu, apalagi ini untuk keselamatan,”katanya.(*)

 

Oleh:
IWAN DN



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM