Maulid, Rasul Pro Damai Anti Kekerasan


Sabtu, 26 Desember 2015 - 03:18:53 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Maulid, Rasul Pro Damai Anti Kekerasan

Tin­da­kan kekerasan dan pem­bu­nuhan terhadap orang-orang sipil yang tak berdosa de­ngan alasan agama atau­pun motif lainnya adalah ba­haya yang menakutkan sia­pa saja. Kon­disi tersebut, sung­guh meng­khawatirkan pu­pusnya per­adaban manu­sia.  

Momentum peringatan ha­ri kelahiran Rasul (Mau­lid) adalah saat yang tepat un­tuk mengali nilai-nilai ke­damaian, kemuliaan, dan ke­baikan yang telah ditela­dan­kannya untuk disum­bang­kan bagi kedamaian du­nia. Rasul Muhammad SAW dikirimkan menjadi rah­­mat bagi semesta.   “Dan ti­­daklah Kami mengutus ka­­mu melainkan untuk (men­­­jadi) rahmat bagi se­mes­­ta alam.” (QS. Al-An­bi­yaa’: 107). Rasul adalah so­sok yang memberikan per­hatian terhadap nasib umat­nya. Sungguh telah da­tang kepadamu seorang Ra­sul dari kaummu sendiri, be­rat terasa olehnya pende­ri­ta­­an­­mu, sangat mengi­ngin­kan (keimanan dan ke­se­la­ma­tan) bagimu, Amat belas ka­si­han lagi Penya­yang ter­ha­dap orang-orang muk­min. (QS. al-Taubah, 128).

Semua agama di dunia menyeru kedamaian. Begitu pula dengan Islam. Islam adalah agama yang cinta damai. Islam sangat mengu­tuk segala bentuk kekerasan yang bisa mengancam kese­lamatan umat. Sesung­guh­nya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan ke­se­lamatan dan (dengan kitab itu pula) Allah menge­luarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang de­ngan seizin-Nya dan menun­juki mereka ke jalan yang lurus. (Al-Maaidah: 15-16). 

Allah SWT melalui Na­bi Muhammad saw meng­hendaki manusia untuk sela­lu menuju jalan kesela­ma­tan yakni dengan dikeluar­kan­nya mereka yang di­iba­rat­kan dalam kondisi gelap gulita yang kemudian berca­haya, sehingga dapat memi­lih jalan lurus. Sungguh Allah telah memberi kenik­matan kepada orang-orang mukmin ketika Allah me­ngu­tus di kalangan mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang mem­ba­ca­kan kepada mereka ayat-ayat Allah mem­ber­sihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mere­ka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, me­re­ka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali Imran: 164).

Wujud kedamaian yang di promosikan Islam ditun­jukan dengan adanya ayat tentang larangan untuk meng­hancurkan tempat-tem­pat ibadah umat lain. “(yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung hala­man­nya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, ’Tuhan kami ialah Allah.’ Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.”( QS. Al Hajj 40).

Sempurna sekali ajaran damai dan anti kekerasan yang dibawa Islam.  Kata­kan­lah: “Marilah kubaca­kan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mem­persekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu mem­bunuh anak-anak ka­mu karena takut kemis­ki­nan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah ka­mu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu mem­bu­nuh jiwa yang diha­ram­kan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar [Mak­sudnya yang dibenarkan oleh syara’ seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya.]”. demikian itu yang diperin­tahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya). (QS. Al-An’am, 151).

Sejarah Islam me­ngung­kapkan praktek damainya Islam dilakukan Rasul Mu­ham­mad SAW saat beliau memasuki kota Mekah pada tahun Fatuh Makkah. Nabi Muhammad SAW mem­berikan amnesti kepada seluruh penduduk. Keme­nangan kaum muslimin ter­se­but berlangsung dengan cara damai. Selama hidup­nya, Rasulullah SAW telah membebaskan sebagian be­sar jazirah Arab dari keku­furan. Selama pembebasan tersebut, korban yang tewas ada 386 jiwa. Sejumlah itu, terdiri atas mereka yang mukmin dan mereka yang belum mukmin. Jumlah korban tersebut, sangat mi­ni­mal bila dibandingkan dengan wilayah yang ber­hasil dibebaskan. Mungkin bisa dikatakan ’paling sedi­kit’ dalam sejarah umat manusia. Peristiwa seperti ini seolah-olah terulang kembali pada tahun 1187 M, saat Salahudin Al Ayubi membebaskan kota Jaru­salem. Kemenangannya saat itu, berlangsung sangat da­mai. Tanpa penghancuran tempat-tempat ibadah dan fasilitas umum lainnya.

Islam Anti Kekerasan

Islam merupakan agama kemanusiaan universal, Na­bi Muhammad Saw. diutus adalah dalam rangka mem­bawa pencerahan atau seba­gai rahmat bagi alam semes­ta. Pencerahan atau rahmat berarti anti kekacauan, anti kekerasan dan anti pen­deritaan. Karena misi suci yang dibawa rasul itu adalah menciptakan harmoni, ke­ten­traman, kedamaian, dan kebahagiaan dalam kehi­dupan manusia. Inilah yang menjadi kondisi cita ideal yang dikehendaki oleh se­tiap anak manusia.

Dalam cita ideal terse­but, harkat kemakhlukan harus dihargai dan junjung tinggi. Pengrusakan terha­dap alam dan tindak keke­rasan terhadap manusia, akan membawa nestapa bagi manusia itu sendiri. Jika pengrusakan dan tindak kekerasan itu dilakukan oleh seseorang yang memi­liki ketaatan simbolik-for­ma­listik yang tinggi sekali­pun, keimanan orang terse­but dapat dikatakan palsu. Islam sangat menghargai harkat kemanusiaan univer­sal, maka melakukan keke­rasan dan pembunuhan ter­ha­dap seorang manusia tan­pa ada alasan yang benar, sama halnya dengan telah membunuh manusia sejagat (QS.5:35).

Secara sosiologis Allah Swt. menciptakan manusia yang berbeda satu dengan yang lainnya dalam multi-etnik dan multi religius, pada sebagai suatu kesim­bangan dan untuk saling melengkapi. Kemudian sa­ling menyapa, saling ber­kom­petisi dalam kebajikan untuk kemakmuran hidup. Bukan untuk saling berban­tah-bantahan yang meng­akibatkan kekerasan dan pembunuhan antara sesama manusia (QS.49:13). Lara­ngan saling membunuh ka­re­na semua manusia pada dasa­rnya adalah umat yang satu yang diciptakan oleh Allah Swt. Diciptakan ber­be­­da merupakan kehendak Ilahi bukan kehendak kita ma­nusia. Maka jangan mem­­perselisihkan perbe­da­an, apatahlagi merusak per­be­daan itu karena perbedaan (mul­ti-etnik dan multi reli­gius) sosial-kema­syara­ka­tan, sesungguhnya menjadi tatanan kesempurnaan sis­tem kemanusiaan universal (QS.2:213). Sebab manusia merupakan bagian dari ek­sis­tensi alam, oleh karena itu membunuh manusia be­r­arti telah merusak tata­nan eksistensi kosmis yang telah diciptakan Allah Swt. Fir­man Allah Swt. (QS.10:86). “Dangan janganlah kalian membuat kerusakan di mu­ka bumi setelah Allah mem­per­baikinya…”. Ayat-ayat di atas menunjukan Islam sangat anti kekerasan. Allah swt tidak menyukai orang melakukan tindak keke­rasan yang merusak (QS.­2:205). Karena aktivitas fasad (merusak) akan meng­hancurkan kedamaian dan kebahagiaan manusia. Tin­dak kekerasan akan selalu menimbulkan rasa keben­cian, sedangkan anti keke­rasan akan melahirkan rasa cinta. Kekerasan meru­pa­kan akar dari kehancuran, sementara anti kekerasan ja­lan menunju ishlah (rekon­siliasi) dan perdamaian.

Seorang Muslim sejati memiliki kelapangan jiwa untuk menerima kema­je­muk­kan, bersahabat, egali­ter dan selalu “ber­mu­jaha­dah” dengan seluruh jiwa raganya untuk membangun kehidupan salam (damai). Karena kata “muslim” seca­ra signifikan berasal dari kata salam seperti halnya kata “Islam. Dengan sendi­rinya seorang yang menjadi muslim pasti akan cinta damai dan anti kekerasan sesuai dengan akar kata salam tersebut.

Alquran secara tegas me­nyebutkan jalan hidup da­mai yang mesti ditempuh oleh manusia agar terhindari da­ri kekacauan dan keke­ra­san, di antaranya penye­butan sa­lah satu nama Allah al-Sa­lam yang Maha Damai (QS.­59:23). Barang siapa yang ingin memperoleh keri­dhaan Allah swt, harus di­tem­puh melalui subulus sa­lam (jalan-jalan damai), (QS.­5:16). Surga sebagai tem­pat kembali orang-orang yang beriman dan ber­amal shaleh, dalam Al­quran disebut dengan Daar as-Salam, (rumah yang da­mai), (QS.6:127) dan (QS.10:25).

Pengasuhan Anak

Islam telah menetapkan bahwa ’keselamatan anak’ bu­kan hanya menjadi tang­gung jawab bagi keluar­ga­nya saja, tetapi masyarakat dan negara. Benar bahwa Islam telah memberikan kewa­jiban pengasuhan anak ke­pa­da ibu hingga tamyiz serta pendidikan anak kepada ayah ibunya akan tetapi hal ini belumlah cukup. Pem­bentukan ling­kungan yang kondusif di tengah-tengah masyarakat menjadi hal yang juga pen­ting bagi ke­ber­­langsungan kehidupan anak. Dan hal ini tidak lepas dari peran masyarakat dan ne­gara. Lingkungan ma­sya­rakat yang baik tentu­nya ikut menentukan corak anak untuk kehidupan selan­jut­nya. Budaya beramar ma’­ruf nahi mungkar di te­ngah-tengah masyarakat pun akan menentukan pula sehat ti­dak­nya sebuah masyarakat.

Karenanya upaya pence­gahan terjadinya kekerasan terhadap anak hanya akan bisa terwujud dengan tiga pilar, yaitu ketakwaan indi­vi­du dan keluarga, yang akan mendorongnya senan­tiasa terikat dengan aturan Islam secara keseluruhan. keluarga, dituntut untuk menerapkan aturan di dalam keluarga, seperti memi­sahkan tempat tidur anak sejak usia 7 tahun, mem­biasakan menutup aurat dan tidak mengumbar aurat, tidak berkhalwat, dan seba­gainya. Aturan inilah yang akan membentengi individu umat dari melakukan ke­mak­siatan dan dengan bekal ketakwaan yang dimiliki, seseorang akan mencegah dirinya dari melakukan per­buatan maksiat.

Pilar kedua, kontrol ma­sya­rakat. Ia akan me­nguat­kan apa yang telah dilaku­kan oleh individu dan ke­luar­ga, sangat di­per­lu­kan untuk mencegah men­ja­mur­nya berbagai rang­­­sangan di ling­kungan masyarakat. Jika ma­sya­rakat senantiasa bera­mar ma’ruf nahi mungkar, tidak memberikan fasilitas dan menjauhi sikap per­misif terhadap semua ben­tuk kemungkaran, tindakan asu­sila, pornoaksi dan por­no­grafi, niscaya rangsangan dapat diminimalisir

Begitu juga Islam mewa­jib­kan negara untuk menja­min kehidupan yang bersih dari berbagai kemungkinan berbuat dosa. Negara men­jaga agama, menjaga moral dan menghilangkan setiap hal yang dapat merusaknya seperti terjadinya pornoaksi atau peredaran pornografi, minuman keras, narkoba dan sebagainya. Dalam pan­da­ngan Islam, negara adalah satu-satunya institusi yang dapat melindungi anak dan mengatasi persoalan keke­rasan terhadap anak ini secara sempurna. Rasu­lullah saw. Bersab­da: ”Se­sung­guhnya imam itu laksa­na perisai, tempat orang-orang berperang di bela­kang­nya dan berlindung kepadanya.” (HR muslim). Dalam hadits lainnya, “Imam adalah pengurus dan ia akan diminta per­tanggungjawaban terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR muslim dan Ahmad.

Akhirnya dapat di­sam­paikan bahwa untuk mem­bangun kehidupan yang anti kekerasan dan cinta damai, memerlukan trans­formasi pemahaman aga­ma, dari pemahaman indi­vi­dua­lis­tik-ritualistik dan elitis-eksktologis kepada pema­ha­man integratif dan konpre­hen­sif, yaitu aspek kesa­daran eksistensi yang Ilahi (pe­­riketuhanan), akan mem­­­­beri kesadaran perike­ma­­nusiaan. Di sini agama mem­beri kesadaran untuk meng­hargai dan mem­ber­da­ya­kan manusia. Semakin tin­g­gi semangat religiusitas se­seorang, semakin tinggi pu­la penghargaannya kepa­da nilai kemanusiaan. Role mo­del, teladan telah dibe­ri­kan Rasul Allah Muham­mad SAW. Selamat Pe­ri­nga­­tan Hari Lahirnya Rasul Pi­lihan Allah, Muhammad SAW, 12 Rabiulawal 1437H­­ /24 Desember 2015. Ds. 23122015. ***

 

DUSKI SAMAD
(Ketua MUI Kota Padang)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM