Pantulan


Sabtu, 26 Desember 2015 - 01:15:32 WIB
Reporter : Tim Redaksi

“Tak ada satu pun yang sesuai. Aku ingin tampil can­tik, menarik malam ini,” ujar­nya sambil mendengus kesal.

Aku tak lagi heran de­ngan kebiasaannya itu. Ke manapun dan di manapun selalu ingin tampil cantik dan sempurna. Ia selalu gugup setiap kali ber­pergian. Terlebih jika hari itu meru­pakan hari yang istimewa baginya. Tak terkecuali ma­lam ini. Tanpa diberitahu aku pun telah mengetahui tujuannya kali ini.  Dari tirai jendela yang terbuka aku dapat melihat, malam ini langit sepertinya sangat ra­mah. Tidak ada hujan. Langit bertabur bintang. Sangat indah untuk meng­habiskan waktu di luar sana. Sedang­kan di kamar ini gadisku juga sedang berbahagia.

“Aku akan mengenakan yang ini saja. Aku pasti kelihatan cantik dengan pakaian ini,” tiba-tiba ia berseru dan tersenyum pa­da­ku. Aku pun membalasnya.

Kami memang telah ber­te­man baik. Sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di rumah ini, aku memang langsung menyukainya. Dia berbeda. Ia tidak sama de­ngan gadis-gadis yang ku­temui sebelumnya. Tidak seperti Lupita, gadis cong­kak yang tidak pernah terse­nyum itu. Ataupun Rania gadis manja, yang akan me­lem­pariku setiap kali ke­ingi­nannya tidak terpenuhi. Sedangkan Runa lebih se­ring mengumpat, meluap­kan kekesalannya setiap kali aku jujur tentang diri­nya. Numi tidak seperti itu.

Aku masih ingat bagai­mana ia menjumpaiku de­ngan senyum malu-malu yang membuatku jatuh hati padanya. Saat itu meru­pakan pertemuan pertama kami. Numi juga memiliki sepasang mata yang indah. Matanya, ya, kedua indera penglihatannya itu memang sangat menarik. Berbinar, riang. Dari matanya aku dapat membaca dan me­ngetahui segala. Tak ada yang disembunyikan.

Numi pun tanpa basa-basi bercerita panjang lebar tentang dirinya diper­te­mu­an pertama kami. Bagai­mana ia sangat senang bera­da di sini, tidak sabar ber­jumpa dengan teman-teman baru di sekolah hingga me­rasakan suasana yang ber­beda dengan rumah yang ia tempati dulu. Rumah yang ditempati Numi dan ke­luarganya dulu selain sering kebanjiran jika hujan turun berhari juga tidak terlalu strategis.

“Kalau mau ke mana-mana harus beberapa jam sebelumnya. Jarak antara satu tempat dengan tempat lainnya terlalu jauh,” ia berujar saat itu.

Sudah hal yang biasa jika kesibukan di rumahnya di­mulai pagi-pagi sekali. Ke­dua orang tuanya harus be­rangkat lebih pagi kalau tidak ingin terlambat tiba di kantor. Begitupula halnya dengan Numi yang telah terbiasa bangun sangat pagi agar tidak dihukum sesam­painya di sekolah. Seperti Rino maupun Ubay yang langganan terlambat di seko­lahnya.

“Rumah baru ini sung­guh menyenangkan!” aku masih ingat perkataannya kepadaku.

 “Aku berangkat dulu. Sampai jumpa!” aku terke­siap dari lamunanku.

Numi telah selesai ber­dan­dan rupanya. Seperti biasa tidak ada yang tercela darinya. Gaun hitam be­renda di bagian pinggir, riasan sederhana dan tata­nan rambut yang dibiarkan tergerai menambah anggun penampilannya. Aku ber­harap ia bersenang-senang malam ini.

***

Pagi yang cerah. Aku sudah tidak sabar mende­ngar celotehan Numi ten­tang malam istimewanya yang baru berlalu beberapa jam saja. Malam yang mem­buatnya berganti pakaian acap­kali itu. Tapi ke­ingin­an­ku sepertinya harus ter­tunda. Numi masih tidur. Malam yang menyenangkan membuat ia terlelap dengan nyenyak. Hingga ia tidak dapat merasakan sinar men­tari yang jatuh di wajah ovalnya. Udara pagi me­nyibak helaian rambut yang menutupi pipinya. Tak me­nunggu waktu berapa lama, Numi terbangun. Sepertinya ia terbangun karena ulah berisik kaca jendela yang berbunyi didera udara pagi. Perlahan ia membuka ke­dua matanya, menggeliat dan beranjak dari tempat tidur. Ia sempat melihat padaku sekilas, sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi merapikan diri.

Beberapa saat kemudian Numi duduk di hadapanku sambil mengucir rambutnya yang panjang. Sebelum me­mulai ceritanya pagi ini, Numi tersenyum padaku. Senyum yang berbeda.

“Aku bahagia!”

Tebakanku memang ti­dak salah, acara semalam berjalan lancar rupanya. Numi semakin mendekat padaku. Sedikit berbisik Numi berujar, “Dia lelaki yang menarik. Dia sangat baik.” Numi beberapa kali mengedipkan matanya, meng­godaku. Numi bisa menebak pertanyaanku se­lanjutnya. “Namanya Rei, kakak kelasku waktu SMA dulu. Beda lima tahun de­nganku. Kami awalnya tan­pa sengaja bertemu di acara reuni alumni beberapa bu­lan lalu.”

Numi tampak tak sabar melanjutkan ceritanya. “Ka­mi makan malam di sebuah restoran. Ia memesan tem­pat yang spesial buat kami. Kami pun bercerita banyak hal,” Numi mengatupkan telapak tangannya di wa­jahnya, ia malu untuk me­lanjutkan ceritanya.

Selain pertemuan yang menyenangkan, Numi juga mengatakan jika lelaki yang baru saja dekat dengannya itu merupakan tipikal pria dewasa yang menjemput dan mengantarnya pulang tepat waktu. Sangat sopan. Aku pun tidak lagi banyak berta­nya. Numi telah menemu­kan apa yang ia cari. Seseo­rang yang bisa menyayangi, menjaga dan tidak menge­cewakannya. Dari raut wa­jah, binar di bola mata dan cara ia berbicara meyakin­kanku jika pria itu memang baik.

***

Hubungan Numi dan Rei semakin dekat. Numi dan Rei kerap pergi bersa­ma. Lebih tepatnya pergi kencan. Setidaknya kebera­daan Rei dapat mengusir kesepian Numi yang sejak tiga tahun terakhir tinggal sendiri di rumah yang cukup luas ini. Kedua orang tuanya memutuskan untuk mene­tap di luar negeri. Numi menolak ikut menemani sang ayah yang bekerja se­bagai seorang diplomat. Maka, dengan berat hati hanya ayah dan ibunya yang berangkat. Bukan itu saja, dengan kehadiran Rei, se­moga saja Numi bisa meng­hapus kenangan buruk de­ngan kekasih sebelumnya.

Numi masih berusia delapan belas tahun saat pertama kali merajut tali kasih. Awalnya hubungan itu berjalan lancar. Namun tidak sampai satu tahun, Seno, nama lelaki itu me­ning­galkan Numi demi ga­dis lain. Gadis yang mem­buat Seno meninggalkan Numi tak lain merupakan sahabat Numi sendiri. Numi merasa sangat sedih. Tidak hanya kehilangan cinta per­tamanya. Tetapi juga sahabat yang ia sayangi sekaligus. Setelah itu Numi sempat menjalin hubungan dengan beberapa laki-laki lainnya. Namun tidak ada yang ber­ta­han. Hingga beberapa waktu terakhir Numi ber­jum­pa dengan Rei.

Tidak hanya ekspresi wajahnya yang lebih cerah, sejak kemunculan Rei. Tapi juga sifat pemalu Numi sedikit demi sedikit ber­ubah. Dia pun lambat laun berusaha untuk bersikap lebih dewasa. Baik dari gaya bicara maupun penampilan. Jujur, akhir-akhir ini Numi memang kelihatan lebih seksi dari biasa. Layaknya penampilan wanita-wanita di film Hollywood yang sering kami tonton berdua saat Numi merasa suntuk dan kesepian. Seperti hari ini.

Jam di dinding menun­jukkan pukul tujuh lewat. Sudah lebih dari dua jam. Namun Numi masih belum menyelesaikan riasannya. Dandanan Numi terlihat lebih mencolok dari biasa­nya. Numi menambahkan eyeliner hitam di kedua matanya. Warna eyeshadow-nya pun tidak lagi warna pastel seperti biasa. Tetapi berganti dengan warna-war­na terang yang semakin menambah kesan dewasa di wajahnya. Terakhir, lipstick merah menyala ia pulaskan di bibirnya.

Numi kecil telah beru­bah menjadi gadis dewasa yang seksi. Terlebih ia me­ngenakan dress merah me­nyala dengan belahan dada rendah. Aku tak tahu apa­kah harus menyukai peru­bahan itu atau sebaliknya. Namun aku tak peduli sela­ma Numi bahagia dengan apa yang ia lakukan, aku pun akan turut serta.

Tidak hanya penam­pi­lan­nya yang tampak lebih terbuka. Dalam bersikap dan menyatakan penda­pat­nya Numi terlihat lebih berani dari biasanya. Ia menjadi lebih terbuka da­lam menyatakan apa yang ia suka dan tidak suka. Pernah, aku mendengar Numi mem­protes kebiasaan Rei yang kerap melarangnya untuk berhubungan maupun berkomunikasi dengan le­laki lain. Meskipun itu ha­nya sapaan basa-basi yang wajar dilakukan oleh seo­rang teman ataupun sahabat. Dari situ aku menyadari lelaki yang disukai Numi seseorang yang pencemburu dan posesif.

Pernah juga di lain wak­tu nada suara Numi me­ninggi mendapati Rei ter­lambat menjemputnya dan membiarkan Numi me­nung­gu dua jam lebih. Klise memang, namun yang mem­buat gadis yang beranjak dewasa itu meradang adalah Rei terlambat menjem­put­nya karena tertidur dan lupa menyalakan alarm hand­phone untuk menjemput Numi. Tapi seperti banyak kisah percintaan, perke­lahian maupun perse­teruan yang terjadi akan semakin merekatkan sepasang ke­kasih yang sedang dimabuk cinta. Sangat dekat hingga membuat segalanya di luar kendali.

***

Numi tampak tidak se­hat pagi ini. Numi bolak-balik menuju kamar mandi. Dari luar aku dapat men­dengar Numi muntah. Wa­jah­nya pucat dan ia tampak sempoyongan. Numi mere­bahkan badannya di tempat tidur. Aku ingin mem­ban­tunya atau mengurangi rasa mual yang menyerangnya. Namun aku tidak bisa, aku tidak dapat menyentuh atau­pun memeluknya untuk sekedar mengurangi kegeli­sahan yang dirasakannya. Sudah dua bulan sejak per­te­muan terakhir Numi dan Rei waktu itu. Sejak itu Rei tidak pernah lagi mem­perlihatkan batang hi­dung­nya dan Numi pun nampak putus asa mencoba meng­hubungi Rei.

“Rei jahat. Setelah apa yang ia lakukan padaku ia menghilang begitu saja!”

Numi menumpahkan kekesalannya padaku sebe­lum air mata kembali ber­urai di pipinya. Ya, Numi gadis kecilku yang cantik rupanya telah terjebak. Rei rupanya bukan pria baik yang setia dan penyayang. Dugaanku salah. Rei tak ubahnya lelaki yang hanya memanfaatkan gadis-gadis lugu untuk memperoleh apa yang ia inginkan. Dan sete­lah semuanya tercapai ia pun meninggalkan sang ga­dis. Yang membuatku marah kenapa harus Numi. Gadis baik yang periang itu.

Pagi ini Numi baru saja mengetahui apa yang terjadi padanya. Numi kembali memegang benda itu. Meli­hat tak percaya. Tanda po­sitif  ia jumpai di benda bernama testpack itu. Benda yang biasanya digunakan oleh para perempuan untuk mengetahui apakah mereka hamil atau tidak. Aku mera­sa sedih mengetahui hal tersebut. Andaikan saja aku dapat menolongnya. Dan bukan benda mati seperti ini, pastinya aku akan mem­bantu  Numi menghi­lang­kan kese­dihannya. Namun aku hanya dapat meman­dangi pantulan wajah dan tubuhnya yang telah beru­bah pada diriku. Andaikan saja, ya andaikan saja aku bukan benda mati. Semua­nya pasti akan berbeda.

***

 

Oleh :
ADE FAULINA
 



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM