Memaknai Hari Ibu


Selasa, 22 Desember 2015 - 02:56:14 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Memaknai Hari Ibu

Perayaan hari ibu di Indonesia dilatar belakangi oleh kongres pejuang pe­rem­puan di Jokjakarta pada 22-25 Desember 1928. Pada masa itu, pejuang perem­puan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera berkumpul dan terbentuklah suatu or­ga­nisasi federasi yang man­diri dengan nama Perse­rikatan Perkumpulan Pe­rem­puan Indonesia (PPPI). Kemudian organisasi ini berganti nama menjadi Peri­katan Perkumpulan Istri Indonesia (PPII) pada ta­hun 1929 di Jakarta.

Pada tanggal 22 Desem­ber 1938 bertepatan dengan kongres Pejuang Perem­puan ke III desepakatilah bahwa 22 Desember sebagai “Hari Ibu”. Kesepakatan ini dikukuhkan sebagai hari nasional oleh Presiden Soe­karno pada tanggal 22 De­sem­ber 1959 melalui Dekrit No. 316 Tahun 1959. Itulah sejarah singkat perayaan hari ibu di Indonesia.

Namun, sejatinya pera­yaan hari ibu itu harus di­mak­nai secara luas. Bukan sekedar peringatan sero­monial semata, tatapi harus memiliki makna yang ber­arti  bagi seorang ibu. Ibu merupakan sosok yang di­tem­patkan oleh Allah SWT dalam posisi kedua yang harus dimuliakan setelah manusia mengabdi kepada Allah sebagai Tuhan.

Allah mengingatkan ma­­nu­sia supaya meng­hor­mati kedua orang tua, se­perti yang disampaikan da­lam surah Luqman ayat 14. “Dan kami (Allah) ber­wa­si­at kepada manusia supaya ber­buat baik kepada kedua orang tua. Ibunya telah mengandungnya dengan men­de­rita kelemahan atas kel­emahan, yakni terus me­ne­­rus dan masa menyu­sui­nya selama dua tahun, hen­daklah engkau bersyukur kepadaku dan kepada kedua orang tuamu”.

Ayat diatas memberikan gambaran nyata kepada kita betapa mulianya seorang ibu. Berkorban dengan iklas untuk anaknya, namun ter­ka­dang pengorbanan itu ber­buah kedurhakaan se­orang anak yang lupa terha­dap jasa ibunya. Sehingga sang anak rela membiarkan seorang ibu terlantar dan terkatung-katung dihari tua.

Tak sedikit hikayat ber­ce­rita mengenai anak yang celaka bila durhaka kepada orang tuanya. Seperti hika­yat dari Sumatera Barat yang bercerita tentang Malin Kundang si Anak Durhaka. Dimana dalam kisahnya, Si Malin Kundang merupakan anak satu-satunya yang pa­tuh kepada orang tuanya, lalu ia meminta izin untuk pergi merantau dan kemu­dian setelah sukses di rantau ia menikahi seorang gadis. Namun setelah pulang ke Ranah Minang ia malu me­nga­kui ibunya yang sudah tua kepada sang istri. Dima­na dalam hikayat ini dice­ritakan akhir hidup dari Malin Kundang dikutuk menjadi batu oleh ibunya akibat ia durhaka.

Kemudian, masih ingat­kah kita mengenai cerita Al-Qa­mah sahabat Rasulullah yang rajin shalat berjamaah. Di­ceritakan dalam kisahnya bah­wa Al-Qamah menemui ke­sulitan di akhir hayatnya, ia kesulitan mengucapkan Sya­hadat ketika ia sakratul ma­ut. Meski telah diulang ber­kali-kali, tepi tetap saja ti­d­ak bisa. Hingga akhirnya Ra­sulullah bertanya kepada is­trinya perihal ibu Al-Qa­mah. Beliau berkata “ apa­kah kedua orang tuanya ma­sih ada?” sang istri men­ja­wab “Masih Ya Rasu­lu­llah, te­ta­pi beliau tinggal sangat jauh dari sini”. Men­dengar hal itu, Rasulullah bergegas me­nemui ibu Al-Qamah me­ngabarkan anak­nya yang se­dang sakit parah. Tetapi se­te­lah kabar itu disam­paikan dan Rasu­lu­llah mem­bujuk ibu Al-Qa­mah un­tuk memaafkannya, te­ta­pi ibunya menolak. Mes­­ki di­bujuk berkali-kali, na­­mun tetap saja ibu Al-Qa­mah menolak. Hingga pa­da akhir­nya, Rasulullah me­min­ta sahabat mengum­pul­­kan kayu bakar untuk mem­ba­kar Al-Qamah agar ia ti­dak terlalu lama men­de­rita. Mendengar hal itu, ibu Al-Qamah tersentak ha­tinya, dan memaafkan ke­sala­han­nya. Setelah men­da­pat maaf, barulah Al-Qa­mah meng­hembuskan na­fas terakhir dengan fasih me­ngucapkan kalimat sya­ha­­dat.

Bisa kita tarik kesim­pulan dari cerita diatas, betapa mulianya seorang ibu. Bahkan tuhan senan­tiasa menyertai setiap rido seorang ibu terhadap anak­nya. Bila ibu tidak memaaf­kan seorang anak atas kesa­lahan yang ia lakukan, maka Tuhan pun akan murka. Kemarahan tuhan terhadap anak yang tidak meng­hor­mati ibunya tersebut bukan tanpa alasan, Mengingat besarnya jasa ibu kepada anaknya.

Seorang ibu merupakan awal kehidupan umat manu­sia. Tak ada seorangpun yang bukan terlahir dari rahim seorang ibu kecuali Adam dan Hawa. Mereka mengandung, menysui, men­di­dik dan memberikan kasih sayang yang begitu besar terhadap anaknya. Terkadang demi seorang anak ibu rela mengorbankan jiwa dan raganya.

Dalam surat Al-Alaq ayat 1 -5 mencerminkan ajaran yang mengagungkan kaum ibu. Dalam surat ter­se­but, kita disuruh mem­baca, namun bukan sekedar membaca apa yang tersurat. Tetapi kita disuruh mema­hami fenomena mengenai asal mula kejadian diri yang tak lain berasal dari rahim seorang ibu.

Bagi umat muslim, Hari ibu sejatinya bukan hanya ter­jadi sekali setahun, me­lain­­kan terjadi setiap saat. Me­muliakan seorang ibu me­rupakan suatu hal wajib yang harus dilakukan. Se­bab, ibu merupakan orang yang paling dimuliakan da­lam islam. Kemulian se­orang ibu itu ditegaskan da­lam hadis Rasulullah SAW. Ke­­tika itu seorang sahabat men­­datangi beliau sembari ber­­kata, “ Ya Rasu­lullah sia­pa dari kerabatku yang pa­ling berhak aku berbuat ba­ik?”, Rasulullah men­ja­wab “Ibumu, Ibumu, Ibu­mu Ke­mudian Ayahmu, ke­mu­dian yang lebih dekat ke­pa­­damu, lebih dekat ke­pa­da­mu“ (HR. Bukhari Mus­lim).

Dalam hadis ini terdapat dorongan untuk memu­lia­kan seorang ibu dari pada yang lain. Setelah memu­liakan ibu, baru kita dimin­ta untuk memuliakan se­orang ayah, kemudian sete­lah itu ada dorongan untuk ber­buat baik kepada kera­bat. Hari ibu yang dipe­ri­ngati setiap tangga 22 De­sem­ber hanyalah sere­mo­nial untuk mengoreksi diri. Sebab seorang ibu dimu­liakan bukan hanya pada hari tersebut, melainkan setiap saat sebagaimana yang diperintahkan tuhan melalui firmannya yang dituliskan dalam kitap suci Al-Quran serta hadis Rasu­lullah SAW. Jadikan hari ibu yang diperingati sekali seta­hun sebagai momentum un­tuk mengoreksi diri, sejauh mana kita telah memu­lia­kan seorang ibu selama ini.

Tak hanya ibu, memu­lia­kan kedua orang tua sama de­ngan memelihara kema­juan peradaban umat manu­sia. Kedua orang tua telah berjasa melahirkan dan mem­besarkan anaknya yang tak lain merupakan generasi penerus bangsa. Memu­lia­kan kedua orang tua sama ni­lainya dengan berjihat di­jalan allah. Untuk itu, mu­lia­kanlah orang tuamu. (*)

 

ANTONI PUTRA
(Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas)
 



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 23 Juni 2017 - 17:50:33 WIB
    Catatan Tentang Penjaga Muruah Minang di Perantauan (Bag-1)

    Memaknai Jalan Pikir Dony Oskaria: Tentang Minang dan Perjuangan Mambangkik Batang Tarandam

    Memaknai Jalan Pikir Dony Oskaria: Tentang Minang dan Perjuangan Mambangkik Batang Tarandam Dony adalah orang pertama yang berdiri kala Minang disebut buruk oleh orang diperantauan. Telinganya panas, saat tanah yang dicintainya semati-matinya cinta dianggap sebagai tempat orang-orang yang tak mampu lagi bangkit dar.
  • Senin, 08 Agustus 2016 - 03:50:17 WIB

    Memaknai Ulang Tahun Kota Padang

    PEMERINTAH dan warga Kota Padang Ahad kemarin (7/8), memperingati HUT Kota Padang yang ke-347. Puncak peringatan ditandai dengan Rapat Paripurna Istimewa DPRD Padang..
  • Senin, 02 Mei 2016 - 04:18:09 WIB

    Memaknai Hari Pendidikan

    Memaknai Hari Pendidikan Hari Pendidikan Na­sio­nal diperingati setiap tanggal 2 Mei, bertepatan dengan hari ulang tahun Ki Hadjar Dewantara, pahlawan nasional yang dihormati se­bagai bapak pendidikan. Ki Hadjar Dewantara lahir dari keluarga kaya .
  • Senin, 14 Maret 2016 - 03:28:47 WIB

    Memaknai Kewenangan Penahanan Oleh Polri

    Memaknai Kewenangan Penahanan Oleh Polri Salah satu kewenangan Polri dalam fungsi penegakan hukum pidana yang paling menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat adalah kewenangan penahanan. Sering muncul kesalahpahaman atau dugaan bahwa penahanan yang dilakukan o.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM