Bukittinggi Harusnya Lebih Maju!


Selasa, 22 Desember 2015 - 02:55:22 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Apa yang telah dicapai Kota Bukittinggi hingga hari ini tentu patut disyukuri. Capaian itu tentunya buah dari kerja keras dan kerja sama berbagai pihak, tentu saja termasuk orang-orang yang selama ini telah memimpin kota yang terkenal dengan Jam Gadang tersebut. Namun, secara jujur kita memberikan penilaian, seharusnya Kota Bukittinggi jauh lebih maju dari kondisi sekarang.

Tentu saja tidak perlu menyalahkan siapa-siapa mengapa kota ini mengalami perlambatan dalam pembangunan serta dalam menerjemahkan harapan warganya dan juga harapan orang-orang Kabupaten Agam dan Provinsi Sumatera Barat pada umumnya. Orang Sumatera Barat, meski bukan asal Bukittinggi atau Agam, sangat mencintai kota berudara sejuk tersebut. Mereka bangga dengan kota kelahiran Bung Hatta itu dan mereka lebih bangga lagi jika Bukittinggi yang dulu pernah menjadi Ibukota Sumatera Tengah bisa jauh lebih maju dari kondisi sekarang.

Untuk lima tahun ke depan (2016-2021) harapan itu ditumpangkan kepada Ramlan Nurmatias dan Irwandi yang terpilih sebagai Walikota dan Wakil Walikota Bukittinggi dalam Pilkada Bukitinggi 9 Desember 2015. Ramlan-Irwandi adalah harapan perubahan. Warga Kota Bukittinggi ingin perubahan mendasar, pembangunan dan kemajuan yang jauh lebih baik. Fakta yang ada, juga menyatakan bahwa warga kota wisata ingin sosok yang baru, yang bersih dan bukan politikus. Ramlan-Irwandi adalah satu-satunya  dari lima pasangan calon yang maju dari independen atau bukan dari partai politik.

Dengan kondisi itu, Ramlan-Irwandi bisa lebih lempang menjalankan roda pemerintahan tanpa tendensi partai politik tertentu. Agar harapan besar warga kota bisa terwujud dan Ramlan-Irwandi bisa menjalankan roda pemerintahan secara efektif serta dapat bergerak cepat, maka orang-orang di Pemko Bukittinggi yang terlalu lamban, lebih suka cari aman, tidak mau mengambil resiko, dan cendrung asal bapak senang  (ABS) seyogyanya diganti. Tentu saja dasar pikiran penggantian itu bukan karena like and dislike, tapi karena kebutuhan agenda perubahan.

Kembali kepada Hari Jadi Kota Bukitingggi, penetapan hari jadi pada tanggal 22 Desember 1784 itu didasarkan pada perubahan nama pasar sebagai pusat keramaian kota yang semula bernama “Bukik Kuba­ngan Kabau” (karena dahulunya tempat ini memang sering dijadikan sebagai tempat mengembalakan kerbau), menjadi ‘Bukik nan Tatinggi’, yang kemudian lebih populer disebut Bukittinggi.

Penelitian para ahli sejarah, pada 22 Desember 1784, diadakan pertemuan besar berupa rapat adat seluruh Penghulu Nagari Kurai. Pangulu nan salingka aua, saadaik-salimbago itu membuat kesepakatan untuk mencarikan nama pasar yang telah menjadi urat nadi Nagari Kurai waktu itu. Pusat keramaian Nagari Kurai terletak di sebuah bukit yang relatif lebih tinggi di antara 26 bukit lainnya yang membentuk topografi Kota Bukittinggi. Di bukit inilah terjadi kegiatan pereko­nomian penduduk Nagari Kurai maupun penduduk Nagari Agam Tuo yang tinggal di sekeliling Nagari Kurai.

Selanjutnya Bukittinggi ditetapkan sebagai wilayah pe­merintahan kota berdasarkan Ketetapan Gubernur Pro­vinsi Sumatera Nomor 391 tanggal 9 Juni 1947. Pada ma­sa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Kota Bu­kittinggi berperan sebagai kota perjuangan. Pada 19 De­sember 1948 kota ini ditunjuk sebagai Ibukota Negara In­donesia setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda atau dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik In­do­nesia (PDRI). Di kemudian hari, peristiwa ini dite­tapkan sebagai Hari Bela Negara, berdasarkan Ke­putusan Presiden Republik Indonesia tanggal 18 De­sember 2006.

Masyarakat Kota Bukittinggi kiranya patut berbang­ga, karena kota yang terdiri dari tiga kecamatan ini,; yakni Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh, Kecamatan Guguk Panjang dan Kecamatan Mandiangin Koto Selayan yang terus maju dan berkembang. Patut disyukuri Kota Bukittinggi terletak pada bagian tengah wilayah Provinsi Sumatera Barat. Hal itu menjadi modal bagi daerah ini untuk terus maju. Kota berhawa sejuk ini, telah dikenal sebagai daerah tujuan wisata, pendidikan, jasa dan perdagangan. **



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 02 November 2017 - 11:56:18 WIB

    Pasar Ateh Bukittinggi Dulunya Koto Rang Agam

    Pasar Ateh Bukittinggi Dulunya Koto Rang Agam Pasar Atas atau Pasa Ateh Bukitting kembali terbakar Senin (30/10) untuk ketiga kalinya, sekitar 800 petak toko dan kios ludes dengan kerugian mencapai triliunan rupiah..
  • Jumat, 23 Desember 2016 - 01:43:32 WIB

    Bukittinggi Kota Juang

    Bukittinggi Kota Juang Sejak pemboman Bukittinggi pada pagi hari 19 Desember 1948 sampai pendudukan tentara Belanda 22 Desember 1948 hingga pertengahan Januari 1949, terdapat kekos­ong an pemerintahan di Kota Bukit­tinggi. .
  • Kamis, 22 Desember 2016 - 01:34:53 WIB

    MELIHAT KE DALAM BUKITTINGGI

    MELIHAT KE DALAM BUKITTINGGI (Refleksi Hari Jadi Kota Bukittinggi ke 232) oleh : Muhammad Arief Malinmudo (Sutradara Film, Bagian dari Rakyat Bukittinggi) .
  • Selasa, 26 Januari 2016 - 03:32:48 WIB

    Perlukah Buaya “Buwas” di LP Bukittinggi

    Lagi-lagi Lembaga Pema­sya­ra­katan (LP) Klas IIA Bukittinggi kecolongan. Seorang narapidana (napi) menghilang pada saat perni­kahan anaknya, Senin (25/1). Belum jelas apakah napi itu kabur atau hanya pergi sesaat, namun .
  • Senin, 04 Januari 2016 - 03:22:03 WIB

    Evaluasi Total Lapas Bukittinggi

    Dalam dua bulan terakhir di penghujung tahun 2015, Lapas Kelas IIA Bukittinggi tiga kali ke­bo­bolan. Dalam kurun waktu demikian se­banyak delapan orang narapidana (napi) dan ta­ha­nan kabur. Rinciaannya, nabi yang kabu.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM