Kepala UPT Alsintan Sumbar:

Indonesia Butuh Industri Alat Pertanian yang Kuat


Selasa, 22 Desember 2015 - 02:35:03 WIB
Reporter : Tim Redaksi

‘’Kalau industri Al­sin­tan dalam negeri kuat, In­donesia tidak perlu ber­gantung pada produk impor dan sektor pertanian In­donesia akan jauh lebih berkembang,’’ kata Kepala Unit Pelayanan Teknis (UP­T) Alsintan Center Sumatera Barat, Syafrizal , Senin (21/12).

Menurut Syafrizal, Indo­nesia sudah punya industri alat pertanian, tapi masih belum bisa berkembang dengan baik, karena selama ini Indonesia masih banyak impor. Kondisi itu ke­liha­tan dari rendahnya utilisasi pabrik alsintan di dalam negeri sehingga dari segi ekonomi tidak begitu me­nguntungkan.

“Selain itu, industri al­sintan yang ada, baik yang berskala besar, menengah maupun kecil masih ter­konsentrasi di Pulau Jawa,” kata Syafrizal.  Padahal, prospek bisnis alsintan ini cukup bagus. Syafrizal me­nyebut, ada bantuan pem­berian alsintan dari pe­merintah pusat melalui Anggaran Pendapatan Be­lanja Negara (APBN) ke­pada petani di daerah-da­erah.

Namun alsintan tersebut tidak dapat digunakan se­luruhnya, karena ada yang tidak sesuai dengan ke­bu­tuhan di daerah. Untuk mengatasi itu,  Syafrizal menekankan perlunya pe­ngembangan Alsintan Cen­tre di luar Pulau Jawa agar kebutuhan alsintan di luar Pulau Jawa dapat dengan mudah terpenuhi. Dia men­contohkan Provinsi Su­matera Barat (Sumbar) yang memiliki potensi besar bagi pengembangan alsintan.

“Sumbar memiliki po­tensi pengembangan al­sintan yang mampu me­layani kebutuhan alsintan  wilayah Sumatera,” kata dia. Alsintan di Sumbar dapat berjalan dengan baik karena didukung oleh per­guruan tinggi, seperti Uni­versitas Andalas, ATI­AMI, UPTD Pere­ka­yasaan dan IKM di sektor alsintan.

“IKM di Sumbar sudah mampu memproduksi be­berapa jenis alsintan, namun mereka mengalami ke­su­litan dalam pemasaran pro­duknya. Untuk itu diper­lukan pemberdayaan, ter­masuk soal teknis supaya alsintan yang diproduksi bisa sesuai dengan ke­bu­tuhan local.

Menurut Syafrizal, un­tuk menjadikan struktur industri alsintan yang ko­koh, mandiri, modern dan berdaya saing tinggi diper­lukan penataan infras­truk­tur industri, data industri alsintan, kelembagaan yang terkait termasuk antar klas­ter, serta hubungan antara industri hulu dan hilir. Ter­masuk juga perlu me­ning­katkan kemampuan SDM dalam ilmu dan teknologi yang mendukung industri alsintan yang mandiri dan modern.

Zainal Abidin salah satu produsen alsintan di di Pa­yakumbuh menyambut baik pengembangan alsintan da­lam negeri. 

‘’Keberadaan Alsintan Centre perlu lebih dikembangkan agar para petani dan kelompok tani serta gabungan kelompok tani (gapoktan) lebih m­erasakan manfaat dari lem­baga tersebut,’’ kata pemilik CV Cherry Sarana Agro itu.

 Zainal menyambut baik kehadiran Alsintan Centre Sumatera Barat yang di­bangun bersama atas pra­karsa sejumlah lembaga seperti Kementerian Per­tanian, Kementerian Pe­rindustrian, Badan Pe­ren­canaan Pembangunan Da­erah (Bappeda), serta ka­langan akademisi seperti Universitas Andalas. 

“Kami mengharapkan agar lembaga ini di­ting­katkan kualitasnya, teru­tama dalam segi pengem­bangan teknologi dan te­naga yang menanganinya melalui kerjasama dengan penyuluh pertanian, sesuai tingkat keahlian yang me­reka miliki,” kata dia.

Zainal sendiri melalui Cherry Sarana Agro sudah memproduksi lebih dari 100 jenis mesin dan pera­latan antara lain alat bajak sawah (Hydrotiller), mesin perontok padi (Tresher), perontok jagung (Corn Se­ller), mesin penyabit padi (Reapper), mesin pe­ng­giling jagung (Hammer Mill), serta mesin peng­giling padi (Rice Milling) ini.

Menurut dia, Alsintan Centre bukan sebagai pe­dagang yang menjual alat-alat mesin pertanian, me­lainkan menjadi lembaga penyedia informasi me­ngenai alat mesin pertanian dan pengembangan tekno­logi.

“Alsintan Center itu bu­kan toko, tapi membantu petani dalam hal informasi, membantu me­ngem­bang­kan teknologi, termasuk membantu peralatan. Di Kalimantan Barat, para petani dan gabungan ke­lompok pertanian (Ga­pok­tan), dapat meminjam atau menyewa alsintan yang ada di sana, sesuai kebutuhan mereka,” kata  Zainal me­n­contohkan.

Para petani, kata dia, butuh akses dan informasi teknologi yang dapat me­reka aplikasikan. Selain itu, para penyuluh pertanian, diharapkan terbiasa atau mengetahui kondisi fisik lapangan.

Cherry Sarana Agro yang didirikan pada 1985, awalnya hanya bergerak di bidang jasa las dan bubut. Namun berkat bimbingan teknis dari Assistance To Indonesia Agriculture Ma­nufacturing Industri (AT­IAMI) Project pada tahun 1993 (Kerjasama Depar­temen Perindustrian, De­par­temen Pertanian dan Pemerintah Jerman), pe­rusahaan itu sejak 1995 mampu memproduksi alat mesin pertanian sebanyak ± 208 unit.

Setahun kemu­dian, produksinya mencapai ± 250 unit, dan kini mampu memproduksi ± 431 unit alat mesin pertanian.

Sampai saat ini ada be­berapa mesin produksinya yang telah mendapatkan test report dari lembaga Uji Mutu Alsintan Kementerian Pertanian.

Selain mem­peroleh se­jumlah pelatihan, peru­sahaan juga mendapat pe­ngakuan dari De­par­te­men Perindustrian (se­ka­rang Kementerian Perin­dus­trian), Direktorat Jen­dral Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka tentang kemampuan pe­rusahaan untuk mem­pro­duksi dan melakukan fab­rikasi alat dan mesin per­tanian. (h/ds)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM