Ir H Indra Cantri, Bupati Agam Terpilih

Keputusan Mundur dari PNS Berbuah Manis


Sabtu, 19 Desember 2015 - 03:49:46 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Keputusan Mundur dari PNS Berbuah Manis

Dari hasil rapat pleno reka­pitu­lasi suara Ko­misi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Agam, Indra Catri dan pasangannya Trin­da Farhan (Intan), keluar sebagai Bupati dan Wakil Bupati  Agam terpilih se­telah berhasil meraih 94.264 suara atau 53,40 per­sen, dengan mengungguli paslon nomor urut satu Irwan Fikri-Chairunas de­ngan perolehan 82.272 suara atau 46,60 persen. Selisihnya lebih kurang sebelas ribu.

Pasangan Intan menang di 9 dari 16 kecamatan yang ada di Agam, meliputi Ke­camatan Tilatang Kamang, Sungai Pua, Palupuah, Ma­tur, Malalak, Kamang Ma­gek, IV Koto, IV Angkek Canduang, Baso dan Banu­hampu. Pasangan Intan ha­nya kalah di Ampek Nagari, Lubuk Basung, Palem­ba­yan, Tanjung Mutiara dan Tanjung Raya. Indra Catri menang besar di kampung­nya, Kecamatan Baso  de­ngan perolehan suara lebih kurang 87 persen .

Jauh sebelum penye­leng­garaan pemilihan se­rentak pada 9 Desember 2015, mentalitas kepe­mim­pinan Indra Catri sudah diuji dengan beragam tan­tangan. Status Indra Catri ketika menjabat Bupati Agam, yang masih PNS dan bukan orang partai tidak sedikit menjadi sorotan ke­tika munculnya UU Pilka­da, terutama  di kalangan DPRD Agam.

Sebagai petahana yang bukan kader partai hal itu menjadi tantangan bagi In­dra Catri. Tidak sedikit yang menyangsikan kala itu jika ia berani maju sekiranya kepala daerah dipilih oleh anggota DPRD saja, atau tidak secara langsung. Ketika itu Indra Catri menanggapi kenyataan tersebut dengan sangat hati-hati. Ia hanya berujar lihat saja nanti.

Tetapi peta politik terus ber­ubah. DPR RI mengesahkan Perppu Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pilkada dan Perppu No­mor 2 Tahun 2014 tentang Pem­da menjadi undang-undang, 20 Januari 2015, di mana kepala daerah kembali dipilih secara langsung oleh rakyat.

Dengan adanya putusan terse­but Indra Catri kembali diun­tung­kan di mana posisinya ketika itu sebagai petahana. Tidak sam­pai di situ, komitmen dengan suami Yennovita SP Vita tersebut akan melanjutkan pembangunan Agam kembali mendapat tanta­ngan setelah keluarnya, UU Nomor  8 Tahun 2015 tentang Pilkada yang diputuskan Mahka­mah Konstitusi (MK).

Dalam putusan tersebut calon kepala daerah yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun anggota legislatif harus mundur dari status mereka jika ingin maju dalam Pilkada. Indra Catri dihadapkan pada dua pila­han, pertama melanjutkan karir­nya sebagai PNS serta tidak ikut pilkada atau berani mundur sebagai PNS dan maju pada pilka­da tanpa adanya jaminan keme­nangan.

Tetapi itu semua tidak mem­buat alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) ini goyah. Setelah bertukar pikiran dengan ke­luarga, orang-orang terdekat, dan beristikharah Indra Catri mem­bulatkan tekad untuk maju de­ngan niat ikhlas untuk berbuat lebih banyak lagi di kampung halaman, serta melepas statusnya sebagai PNS. Tidak mudah me­mang, tetapi itulah keputusannya di saat sulit.

Tetapi itu semua sudah terba­yar pascapelaksanaan Pilkada. Ketika sebagian besar petahana lain bertumbangan, Indra catri keluar sebagai bupati terpilih. Bahkan ia bupati terpilih dengan suara paling besar di Sumatera Barat dengan perolehan, hampir seratus ribu suara. Itu semua adalah modal besar bagi Indra Catri pada masa mendatang.

Lima tahun mengabdi di Kabupaten Agam Indra Catri dinilai sudah berada pada treak rekor yang bagus dalam memba­wa Agam jauh lebih baik. Perge­rakan perekonomian pembangu­nan fisik, maupun non fisik, bisa terwujud dengan sangat cepat. Keberhasilan itu tidak lepas dari sokongan masyarakat. Laju per­tum­bunhan ekonomi, dari 5,66 persen pada awal kepemimpinan Indra Catri, kemudian meningkat sampai 6,70 persen, angka terse­but jauh di atas pertumbuhan ekonomi Sumbar yang hanya tercatat 5,86 persen.

Kesejahteraan masyarakat juga meningkat dengan kenaikan IPM dari 73,28 persen pada tahun 2010 menjadi 75,03 persen di akhir kepemimpinannya. Sela­ma lebih kurang lima tahun terakhir pendapatan belanja dae­rah meningkat dua kali lipat, dari Rp594,60 miliar 2010 hingga mencapai Rp1,275 triliun pada tahun 2015. Selain itu Indra Catri saat itu juga gencar, melaksana­kan inovasi cerdas, seperti thaha­rah masjid, WC Bersih, Maghrib mengaji, festival Ramadhan, ikhlas berzakat, dan Jamkesda Mandiri serta lainnya. 

Meski dinilai cukup berhasil pada masa pemerintahan sebe­lumnya Indra Catri harus berbuat lebih besar ke depan. ‘Agam Menyemai’ mesti dialanjut­kan. Bagi warga yang bermukim dekat hutan, Agam Menyemai merupakan harapan perbaikan hutan, yang bermuara pada sema­kin kecilnya kemungkinan terja­dinya bencana akibat rusaknya lingkungan.

Bagi para petani, mem­baik­nya kondisi hutan menjanjikan ketersediaan air untuk kebu­tuhan mereka, walau di musim kemarau sekalipun. Sedangkan di musim hujan, bencana banjir semakin bisa ditekan. Di bidang perkebunan rakyat, besar harapan warga agar jalan menuju kebun mereka dibangun menjadi jalan layak tempuh. Kini masih banyak kendala pekebun dalam me­ngangkut hasil panen mereka ke tempat pemasaran.

Masalah harga jula petani perlu menjadi perhatian. Walau produksi melimpah, bila harga murah, pangaruhnya menjadi kecil bagi peningkatan kesejah­teraan masyarakat.  Di bidang perikanan, nasib petani ikan di Kecamatan Tanjung Raya, harus menjadi perhatian serius, Ma­halnya harga pakan harus bisa dicarikan jalan keluar.

Harga pakan melambung tinggi, menyebabkan pembudi­daya Keramba Jaring Apung yang bermodal kecil semakin susah. Diperlukan upaya serius agar harga pakan ikan bisa lebih murah, kemudian memutus mata rantai monopoli distribusi pakan, yang menyebabkan harga pakan tersebut menjadi mahal. **

 

Oleh:
RAHMAT HIDAYAT



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM