Meninggalkan Tahun 2015


Sabtu, 19 Desember 2015 - 03:36:41 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Pesta kembang api, mercon, api unggun dan pesta spesial di diskotek serta di berbagai tempat hiburan lainnya. Begitulah rutinitas setiap tahun.

Di Sumatera Barat, pesta-pesta tahun baru seperti di atas, juga ramai digelar. Meskipun Majelis Ulama Indonesia (MUI), para ustadz dan sebagian pemerintah daerah dari jauh-jauh hari, memberikan peringatan dan larangan agar jangan memperingati tahun baru masehi dengan hura-hura, tapi tetap saja mayoritas masyarakat mengabaikan imbauan tersebut.

Kita tidak akan membahas soal pro-kontra cara memperingati Tahun Baru 2016. Yang ingin sedikit disentuh adalah pentingnya bagi masing-masing pribadi untuk melakukan refleksi dan evaluasi atas apa-apa yang telah dilaksanakan di tahun 2015. Sejauh mana capaian-capaian atas target atau rencana di tahun 2015. Tentulah ada yang berhasil dan ada pula yang gagal atau yang masih tertunggak.

Perlu tentunya mengetahui dan memahami di mana letak masalah dan apa penyebab kegagalan yang dihadapi di 2015. Jika telah diketahui dan dipahami penye­babnya, tentu hal itu akan menjadi pengalaman berharga. Sehingga bisa menjadi pelajaran dan petunjuk untuk  tidak gagal lagi di tahun 2016.

Tanpa kecuali, orang-orang pribadi perlu membuat perencanaan yang baik untuk dilak­sanakan satu tahun mendatang. Tanpa target dan rencana yang baik dan terukur, sama saja halnya dengan kapal yang berlayar di lautan tanpa tujuan yang jelas. Kapal itu akan diombang-ambing gelombang dan akhirnya bisa pecah dan tenggelam ditelan ombak.

Bagi para pemimpin atau pejabat negara juga perlu mengevaluasi sejauh mana pengabdian yang diberikan terhadap negara. Para pemimpin dan pejabat itu, tak cukup hanya mengevaluasi capaian dari target dan rencana individunya saja. Tapi juga harus mengukur sejauh mana dia berbuat untuk kesejahteraan rakyat. Catatan buruk para pejabat dan pemimpin tahun 2014 mesti dijadikan pelajaran yang berharga.

Mayoritas bangsa ini tentulah sepakat untuk meninggalkan segala perilaku yang bersifat korup dan tidak terpuji yang dapat menyebabkan negara ini bangkrut. Tentu saja di 2016, mayoritas rakyat Indonesia memiliki keinginan agar negara ini bisa lebih baik lagi kondisinya.

Salah satu ciri pejabat ataupun politisi ber­mental korup adalah yang suka memberikan money politics, melalui berbagai bantuan dan sumbangan yang tidak jelas asal muasal bantuan atau sum­bangan tersebut. Untuk politisi yang demikian, jangan terima uangnya dan jangan pula pilih orangnya. Agar dapat mem­perjuangkan aspirasi masyarakat dan dapat melakukan berbagai terobosan, maka yang akan dipilih adalah calon yang berkualitas, yang memiliki latar belakang pendidikan yang memadai tentunya. Semoga di 2016, masing-masing pribadi dan juga bangsa ini bisa lebih baik lagi. Bagi Indonesia, tahun 2016 juga merupakan tahun dengan tantangan yang berat. Karena tahun ini dimulai pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Jika tidak ingin kalah bersaing  dengan tenaga dan produk dari Negara-negara ASEAN lainnya, maka pastikan  masing-masing kita sudah memiliki kompetensi yang baik pada profesi masing-masing. **



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM