Mengistimewakan Ibu di Hari Istimewa


Sabtu, 19 Desember 2015 - 01:45:09 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Mengistimewakan Ibu di Hari Istimewa

Tapi, buat kamu yang belum berpenghasilan, rasa­nya lumayan berat jika harus membelikan barang yang agak mahal. Tenang, kamu tetap bisa merayakan peri­ngatan ini bersama mamamu tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun. Karena, mengungkapkan rasa cin­tamu kepada orangtua tak selamanya terisyaratkan de­ngan barang yang mewah. Berikut ini tiga hal seder­hana yang sanggup buat ibu­mu bahagia. 

Bagi sebagian kalangan, hari ibu adalah hari peri­ngatan atau perayaan terha­dap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk sua­mi, anak-anak, maupun ling­kungan sosialnya.

Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap meru­pakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Di Indonesia hari ini dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Sementara di Amerika dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Be­lan­da, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong, Hari Ibu atau Mother’s Day (dalam bahasa Inggris) di­rayakan pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Perem­puan Internasional atau In­ter­national Women’s Day diperingati setiap tanggal 8 Maret.

Ada tiga hal sederhana yang bisa membuat ibumu bangga dan bahagia di Hari Ibu. Sebagai anak, tak perlu repot-repot membelikan per­hia­san mewah yang ge­mer­lap. Tak perlu juga mem­belikan sebuah rumah me­gah dengan beberapa pilar besar yang menyangganya. Boleh saja memuliakan ibu­mu dengan berbagai pem­berian yang dibeli dari hasil jerih payahmu sendiri. Tapi, buat kamu yang masih me­nem­puh pendidikan, prestasi yang baik sudah cukup mem­buat ibumu tersenyum dan bangga. 

Jika nanti punya peng­hasilan yang masih kecil dan hanya cukup untuk menutup kebutuhan pribadi sehari-harimu, artinya sang anak memang belum bisa mem­berikan uang kepada ibu untuk membeli beras dan kebutuhan dapur lainnya. Tapi, pada saat itu, kita tak lagi meminta uang jajan kepa­da ibu, kamu pun sudah meringankan sedikit beban­nya. Memang, akan lebih bagus jika kamu bisa mem­bantu memenuhi kebutuhan keluarga, apa lagi membantu menyekolahkan adik-adik­mu. Tapi, ketika kamu sudah mandiri secara finansial, ibumu pasti akan sangat bersyukur dan bahagia. 

Dengan saudara sendiri, tak perlulah kiranya  mem­berikan berbagai mainan mahal untuk adik-adik, atau mem­berikan kendaraan me­wah kepada saudara yang lebih tua. Dengan saling menyayangi tanpa per­teng­karan, ibumu pasti sudah akan bersyukur. Karena, hanya saudaralah yang akan selalu ada untukmu dalam keadaan susah dan senang. Dengan saling tolong meno­long dengan saudara-sau­daramu, kamu berarti mem­buat ibumu bangga dan bahagia. 

Jadi, tak selamanya cinta harus diungkapkan dengan hadiah atau pemberian. Tak perlu membelikan sebuah rumah mewah atau perhia­san yang gemerlap. Kamu hanya perlu menjadi pribadi yang baik dan harus menjadi lebih baik setiap harinya. Buat kamu yang sedang me­nyiap­kan kejutan atau pera­yaan untuk Hari Ibu nanti, semoga berhasil mem­baha­giakan perempuan terhebat dalam hidupmu, ya. 

Ketua KPU Sumbar Am­­nasmen punya pan­da­ngan sendiri. Ia mengatakan, sosok seorang ibu adalah tempat awal mula anak mem­bangun peradapan keti­ka anak lahir seluruh pera­dapan ibu tersebut tumpah pada anak. Artinya, kasih sayang, pendidikan, dan so­sok kepemimpinan, tang­gung­jawab peradaban terse­but diberikan oleh ibu kepa­da anak karena itu bagian dari proses pembelajaran ba­gi anak hingga sampai anak mulai mengetahui du­nia.

“Bagi saya ibu itu seperti, petuah minang tempat da­tang ketika pulang, dan tem­pat pemberitahu jika akan melangkah. Sampai hari ini, jika saya pulang ke kampung kalau tidak larut malam pertama kali yang saya tuju adalah ibu,” ungkapnya.

Bagi anak ke lima dari sembilan bersaudara ini, sosok ibu adalah tempat mengadu, tempat berkeluh-kesah, tempat menunggu nasihat hingga sekarang. Menurutnya, banyak hal dalam setiap tindakan, dan pekerjaannya yang dilalui dengan kemudahan-kemu­dahan karena melalui na­sihat-nasihat ibu.

“Apa yang menjadi ara­han ibu, bukan berarti saya me­ngabaikan peran ayah ka­re­na bagi saya ayah adalah so­­sok yang luar biasa. De­ngan sikap jujurnya, dan ke­ya­kinan terhadap prinsip-prin­­sipnya, karena ayah juga so­­sok yang suka membantu orang lain, keberaniannya, dan berani mengatakan tidak ji­­ka tidak ada kebenaran, ser­ta berani mengatakan ke­be­naran meskipun ia akan me­nanggung resiko,” jelas­nya.

Baginya, ibu adalah jawa­ban bagi segala persoalan-persoalan yang sampai hari ini ia hadapi, dan ibu juga seperti samudra tempat anak­nya berlabuh, tempat menenangkan hati yang gun­dah gulana. Bahkan baginya, hingga saat ini masakan pa­ling lezat adalah hasil masa­kan dari ibu.

Terkait para ibu yang juga berperan sebagai wanita ka­rir menurutnya, sesuai de­ngan tuntutan zaman. Berbe­da jika dibandingkan dengan sosok ibunya semasa dulu yang memehuhi semua kebu­tuah anak dan suaminya, mulai dari bangun tidur subuh hingga malam hari dengan memperhatikan pela­jaran anak-anaknya.

“Kalau waktu kami kecil-kecil, ibu subuh sudah me­masak dan kami semua ma­kan pagi sebelum bearngkat ke sekolah, sampai kami akan berangkat ibu melepas kami dipintu, dan itu juga tidak kalah karirnya ibu rumahtangga jaman dulu dengan sekarang yang juga sangat bagus,” ujarnya.

Zaman sekarang kaum ibu sudah sangat maju, de­ngan tingkat pendidikan yang cukup dan tinggi tentu konsep kontribusi perem­puan zaman dahulu dengan sekarang berbeda. Kalau perempuan sebelumnya, kon­tribusinya kebanyakan melalui pengawalan dan mendidik anak-anaknya di rumah untuk bisa berpribadi yang baik, berintregritas, dan berguna bagi banyak orang.

“Kalau ibu-ibu sekarang memberikan kontribusi ter­hadap negara, dengan ber­karir dan bekerja dibanyak tempat bahkan mencapai kedudukan-kedudukan ter­hormat yang tentunya juga penting. Tapi para ibu zaman sekarang, tentunya mereka sangat mengetahui hakikat sebagai seorang ibu dan juga istri bagi suaminya dengan sebaik-baiknya serta mem­besarkan anak-anaknya se­suai dengan yang diajarkan oleh agama,” tambahnya.

Artinya, bagaimana se­orang ibu yang juga wanita ka­rir menyeimbangkan tu­gas­­nya sebagai wanita karir de­ngan perannya sebagai ibu dan istri di rumah. Tentunya, hal ini tidak boleh dilupakan oleh para ibu era modern ini. (*)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM