Teori Darwin


Sabtu, 19 Desember 2015 - 01:37:26 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Teori  Darwin

Kembali Emil berdiri dari pembaringannya, guna kembali menatap sebuah poster seorang manusia yang diikuti beberapa ekor kera. Mulai dari me­rangkak, bungkuk, setengeh bungkuk, agak bungkuk, tegak mem­bawa tulang, tegak mem­bawa tombak, hingga yang paling depan tegak sem­purna seperti manusia.

­Bagaimana mungkin ma­­­­­­nusia berasal dari kera, batinnya. Tapi bukankah teori evolusi itu benar ada­nya, bantah pikirannya.

Emil meletakkan poster yang dilihatnya sebelum beranjak ke rak buku. Se­gera ia mengambil buku yang berjudul The Origin of Species karya Carles Dar­win, buku yang sudah ber­ulang-ulang kali dibacanya. Dari Homo Gautensis yang suka menghabiskan hi­dup­nya di pohon, berubah men­jadi Homo Habilis yang cukup terampil dan sesekali bisa berjalan dengan dua kaki. Homo Habilis pun menjelma menjadi Homo Ergaster dan sangat diyakini sebagai nenek moyang ma­nusia purba, tonggak ter­penting dari kera menuju manusia purba yang di­yakini telah mulai me­ngu­nakan kosa kata dalam ber­komunikasi. Hidup kira-kira 1,3 juta tahun yang lalu.

Emil menghentikan ba­caannya, ia sedikit me­ne­rawang. Ah! Dasar bodoh, manusia itu tercipta dari tanah, bukan dari evolusi kera, Batinnya. Tapi kan teori evolusi sudah terbukti, seperti salah satu jenis tikus tanah yang berhasil menge­volusi diri, sehingga darah­nya kebal terhadab bisa cobra seperti yang kemarin aku nonton di National Geografik Chanel, pikirnya.

Emil pun kembali me­natap buku karya Darwin ter­sebut. Homo Erektus di­sebut juga manusia tegak per­tama, selama proses evo­lusi telah menyebar ke Geor­gia, India, Sri Langka, Cina dan Jawa. Di Indonesia fosilnya ditemukan di Sa­ngiran serta Trinil. Didaulat sebagai manusia purba per­tama yang sukses ke luar Af­rika dan menuju berbagai belahan dunia. Dari sinilah nantinya lahir berbagai ma­cam ras manusia, ter­gan­tung faktor alamnya. Bah­kan Homo Erektus telah pan­dai mengunakan rakit. Se­telah Homo Erektus me­nyebar ke berbagai belahan dunia, maka lahir jugalah berbagai jenis manusia pur­ba. Homo Florensis di In­do­nesia, Homo Homini di Ru­sia, Homo Red Deer Cave di China, Homo An­tecessor di Eropa dan sebagainya. Rahang dan gigi mereka telah mendekati manusia zaman sekarang, mereka juga telah mampu mem­bu­nuh hewan buas lagi besar.

Selanjutnya ada manusia purba Homo Heidel­ber­gen­sis, folume otaknya sudah jauh berkembang, bahkan mereka telah mengenal ba­nyak ritual, seperti ritual pergi berburu, upacara pe­ngu­buran serta melukis din­ding-dinding goa tempat me­reka tinggal. Puncak dari evo­lusi tersebut adalah ma­nu­sia sekarang atau apa yang disebut dengan Homo Sa­piens. Semua itu me­ma­kan waktu jutaan tahun.     Ah! Dasar bohong, jika be­nar manusia itu ber­evo­lusi, me­ngapa Homo Sa­piens ti­dak lagi  berubah, bantah Emil.

Bukankah Homo Sa­piens adalah puncak dari evolusi panjang. Seperti halnya gajah dari evolusi mamooth atau harimau dari evolusi smilodons. Teori ini juga dilengkapi dengan teori seleksi alam, siapa yang lemah akan tersingkir di panggung dunia. Dan lagi, bukankah sekarang juga muncul terori neo Darwin yang menguatkat teori ter­dahulu. Tentunya orang-orang yang melakukan pene­litian ini bukanlah orang sembarangan, sudah jangan diragukan lagi jika manusia memang dari kera, pikiran Emil memberi penguatan.

Jangan menjadi kaum reaksioner keilmuan. Apa­kah ada yang melihat kera menjadi manusia? Mana bukti empirisnya? Jika ha­nya berdasarkan rasio­na­litas tanpa adanya dukungan empiris tentu semua itu tidak bisa dibuktikan, kem­bali batinnya pemuda itu menolak.

***

Sebuah kebun binatang yang tak begitu jauh dari rumahnya. Terlintas begitu saja saat Emil terbangun jam 3 sore. Pemuda penuh pe­nasaran itu berharap—se­moga dengan melihat be­berapa spesies kera di kebun binatang tersebut mam­pu menghentikan perang an­tara pikiran dengan batinnya.

Cukup lama Emil me­lihat sekawanan kera ekor panjang di kandang yang cukup luas tersebut. Kera-kera itu terlihat asyik. Ada yang saling mencari kutu, mengendong anak se­dang­kan para kera muda ter­lihat se­dang berayun-rayun. Se­ekor kera jantan besar yang bulu sangat hitam dan sangat men­colok di antara ka­wan­nya berdiri di pucuk pohon yang paling tinggi, ia terlihat b­e­nar-benar waspada men­jaga kawa­nannya. Kera jan­tan besar itu disinyalir seba­gai pemimpin kawanan tersebut.

 Lihatlah kawanan kera ekor panjang itu dan lihat jugalah pemimpinnya yang congkak, berkuasa dan pe­nuh curiga, tak jauh beda dengan pemimpin manusia, bukankah itu menunjukkan kalau mereka juga memiliki si­stem sosial yang sama dengan kita. Inilah tanda kalau sesunguhnya kera dan manusia itu saudara. Kita berasal dari kera yang sukses berevolusi, sementara me­reka dari kera yang gagal mencapai evolusi tahap sempurna. Jadi jangan ra­gukan lagi jika manusia itu benar-benar dari kera, anal­isa pikiran Emil.

Dasar goblok! Mana mung­­­kin manusia itu be­rasal dari kera. Jika hanya sistem sosial yang dinilai, bukankah setiap hewan di dunia ini punya itu. Singa, burung, ikan dan semua jenis hewan di dunia ini mempunyai sitim sosial, lagi-lagi batin Emil mem­bantah.

***

Puas mengamati kera ekor panjang. Emil beranjak ke kandang sebelah yang dihuni  dua puluh satu ekor simpase. Pemuda yang ma­sih mencari jati dirinya itu seakan tidak percaya, ketika mengetahui sang pemimpin kawanan tersebut hanyalah simpanse berbadan kecil, berbeda dengan pemimpin kawanan jenis hewan mana pun”yang mengutamakan kekuatan dan badan besar untuk menjadi pimpinan. Para simpanse jantan yang memiliki tubuh jauh  lebih besar memberi hormat ke­pada simpanse pimpinannya yang badannya lebih kecil.

 Emil semakin kagum saat mengerti kalau sim­panse menunjuk pemimpin bukan berdasarkan ke­ku­a­tan, tetapi berdasarkan m­a­ni­pulatif dan politis. Siapa yang mampu memberikan pe­ngaruh terbesar pada sua­tu kejadian dalam sebuah kawanan, maka ia akan naik menjadi pemimpin. Emil terus mem­per­ha­tikan sim­pan­se jantan pe­mimpin itu. Si pemimpin itu berjalan begitu sombong dan cong­kak diantara ka­wanan­nya, para simpase jantan bawa­hannya terlihat memberi hormat dengan menge­luar­kan dengkuran atau berte­puk-tepuk tangan, semen­tara simpase betina mem­beri hormat dengan me­nungingkan bokongnya.

 Emil pun teringat akan buku evolusinya. Simpanse adalah kerabat manusia yang masih hidup dan ter­pisah dari ranting evolusi kira-kira enam juta tahun yang lalu. Sistem pemilihan pemimpinya sama dengan demokrasi manusia; siapa yang paling politis maka ia akan jadi pemimpin. Tidak mungkin simpase yang me­niru manusia, juga tidak mungkin manusia yang me­ni­ru simpase. Sebab sis­tem demokrasi sudah ada sejak era Khalifah Rasyidin dan juga melalui piagam magna carta yang dike­luar­kan di Inggris pada tahun 1215. Jauh sebelum ma­nusia me­ngerti kalau sim­pase juga berpolitik dalam menunjuk pemimpinnya.

Itulah bukti jika manusia dan kera berasal dari satu keturunan, kita sama-sama mewarisi ilmu dari leluhur, kesimpulan pikirannya.  Jangan menyamakan ma­nusia dengan kera. Ma­nusia itu makhluk sem­purna, se­men­tara kera itu binatang, tolak batinnya.

***

Tidak puas dengan kera ekor panjang dan simpanse. Emil pun pindah ke kan­dang yang diisi sepasang orang utan. Orang utan jan­tan terlihat tertidur, se­men­tara yang betina meyambut kehadiran Emil dengan berdiri dibalik jeruji, hingga mereka saling bertatapan. Coba lihat, sama-sama pu­nya dua tangan, dua kaki, dua mata, dua lubang hi­dung, dua telinga, dan se­pu­luh jari. Jika aku punya pa­kian maka dia punya bulu, apa lagi yang per­be­daan­nya? tanya pikirannya.

Kera itu binatang se­dangkan kita manusia! Jawab batinnya.

Emil tersentak dan meng­­hentikan perang antara pi­kiran dan batinnya—ketika orang utan betina itu men­julurkan tangannya guna me­minta kacang. Emil me­rogoh tas bekalnya, roti tawar dan selai kacang yang masih tersisa membuat orang utan betina tersebut beranjak dari balik jeruji besi dan menjauh ke dalam.

Emil juga pun beranjak ke bangku taman yang tak jauh dari kandang orang utan tersebut. Kali ini pi­kiran dan batinnya tampak kompak tentang kasus be­berapa tahun silam. Dimana seekor orang utan betina dijadikan PSK dan ma­sya­rakat sekitar kompak men­dukung dan menutupi ka­sus­nya, hingga TNI harus tu­run tangan guna mem­bebas­kan seekor orang utan beti­na tersebut. Si orang utan tampak pandai merayu dan bergaya erotis, pertanda ia sering disetubuhi. Bentuk sama, perangai sama, ting­kah laku apa lagi. Jika kera kawin sedarah, manusia juga ada begitu, bahkan sudah sering ada kasus bapak kandung yang menghamili anaknya sen­diri, pikirnya.

 Ah, jangan begitu, itu hanya sebagian manusia, sanggah batinnya.

Jangan membantah, se­kejam-kejamnya kera tidak ada yang membunuh anak­nya, tapi semulia-mulianya manusia, banyak juga yang membuang jabang bayinya di bak sampah. Bapak kera jika buat anak tidak ber­tangung jawab, namun ibu kera tetap merawat anaknya. Bapak manusia juga banyak yang buat anak dengan tidak bertangung jawab dan ke­banyak anak itu dibunuh sebelum lahir. Ah, kera lebih baik, pikirnya.

Hanya sebagian ma­nu­sia yang lebih buruk dari kera, tolak batinnya.

***

Perang antara batin dan pikiran Emil seketika bu­yar, lantaran kehadiran se­orang kakek tua yang sedikit mem­bungkuk dan ditopang de­ngan tongkat kayu—ber­jalan pelan di hadapannya. Ada rasa ragu dan sungkan di hati Emil untuk bertanya, namun ketika melihat wajah si kakek yang budiman, dermawan serta berpadu dengan raut ilmuan, tidak Cuma itu, si kakek juga terlihat penuh wibawa. Apa lagi rambutnya telah uba­nan, pertanda orang ini telah puas mengarungi lautan asam garam kehi­dupan. Emil pun mem­bera­nikan diri. Ia yakin, kakek tua bangka itu punya banyak pengetahuan.

“Maaf kek, boleh ber­tanya?” Emil sedikit mem­bung­kukkan diri.

“Soal apa?” Si kekek sedikit heran.

“Tentang kehidupan kek?”

“Oh! Silakan, kamu ber­tanya kepada orang yang tepat, dalam 99 tahun usia kakek, kakek akan bagi segudang ilmu kehidupan ke­padamu, tidak perlu sung­kan,” si kakek menepuk-nepuk pundak Emil, “kamu anak muda yang hebat, sila­kan mau menanya apa?” tambah lelaki tua yang ber­penampilan rapi itu.     “Ka­kek kan sudah lama hidup, menurut kakek apa yang membedakan kera de­ngan manusia?” Tanya Emil.

Kakek yang mendapat pertanyaan tak lazim itu mencoba berpikir sejenak, “sifat munafik,” jawab ka­kek tua itu penuh wibawa. “Sifat munafik?” Emil me­ngeritkan kening men­de­ngar jawaban tersebut.

“Ya sifat munafik, se­karang coba kamu sebutkan binatang apa yang paling mirip dengan manusia?”

“Ya pastilah kera kek,”

Si kakek tersenyum sam­­bil mengangguk-ang­guk­kan kepalanya, “benar, kera adalah binatang yang paling mirip dengan kita, tapi justru kita me­mung­kirinya dan menolak keras jika disebut mirip kera.”

Si kakek menghirup na­fas panjang dan me­lan­jutkan kalimatnya,  “orang yang kuat dan jantan di­katakan seperti singa,  juga ada istilah jangan mem­bangunkan ma­can tidur. Seorang wanita lebih senang jika disebut merak ka­ya­ngan, bahkan dalam dunia olahraga ada istilah kuda hitam. Orang-orang yang mendapat per­samaan de­ngan binatang tersebut bang­ga bukan kepa­lang. Ti­dak sampai disitu, manusia se­olah ingin men­jadi binatang. Tentunya ka­mu pernah me­nonton film Ma­nusia Ha­rimau, Gan­teng-Ganteng Srigala, Dewi Ular dan lain sebagainya. Tapi yang aneh­nya, manusia akan lang­sung teringgung jika dapat per­samaan dengan kera. Mu­nafik bukan, pada hal jelas-jelas kita memang mirip dengan kera.”

Emil berpikir sejenak mendengar penjelasan ter­sebut, ia teringat akan pah­lawan masa kecilnya, ada Spiderman, Cat Wo­man, Batman dan Satria Baja Hitam yang juga jelmaan belalang. Bagi Emil kecil, pahlawan adalah manusia yang menjelma menjadi binatang. Namun yang aneh­­­nya, tidak satu pun pah­lawan yang mau mema­kai kera sebagai perubahan wujud­nya, memang masih ada Hanoman dan Sun Go Kong,  tapi keduanya bukan manusia yang berubah wu­jud, melainkan benar-benar dari bangsa kera. Satu-sat­u­nya kera dari perubahan wujud manusia hanyalah Lutung Kasarung, namun dia bukan pahlawan, akan tetapi pemuda yang dikutuk karena hendak me­nye­tu­bu­hi ibu kandungnya sendiri. 

 “Benar juga yang kakek bilang, secara lahir memang fisik kita mirip dengan kera, tapi  yang saya maksud adalah  perbedaan secara batin maun pun pola pikir antara manusia dengan kera kek,” tanya Emil lagi.

“Lahir maupun batin, manusia dan kera itu sama saja, kecuali satu hal.”

“Satu hal?” Emil se­makin heran

“Sekarang abad be­rapa?” Kali ini si kakek balik bertanya.

“Abad 21 kek,” jawab Emil Mantap.

“Coba keluarkan isi dom­petmu,” perintah si kakek.

Emil pun mengeluarkan empat lembar uang seratus ribu. Si kakek mengambil uang tersebut dan me­ngang­katnya tepat di wajah Emil. “Di abad 21. Ketika ma­nusia telah mengukur segala se­suatu berdasarkan uang, maka inilah satu hal per­bedaannya. Jadi, satu-sa­tunya perbedaan kita de­ngan kera hanya soal pe­ngunaan uang. Jika di­kan­tongmu tidak ada uang, maka kau adalah kera dan jika kera pandai me­ngu­nakan uang, maka manusia dan kera itu sama. Se­an­dainya Darwin masih hidup, mungkin dia akan me­nga­jari kera meng­gunakan uang. Apa kau su­dah pa­ham?”

“Bisa diberikan con­tohnya kek,” pinta Emil yang mulai sedikit mengerti.

“Coba kau bayangkan se­ekor gorila bergaya par­lente sambil mengendarai mobil sport dan berhenti di depan sebuah restoran, di­saat bersamaan seorang lelaki pemulung yang be­lum makan selama hampir sembilan hari juga datang ke restoran tersebut mencoba meminta sedikit makanan. Maka percayalah kau, pe­yalan restoran dengan se­gera melayani si gorila yang punya banyak uang, ketim­bang melanyani ma­nusia miskin yang hampir mati kelaparan,”

Emil pun terpaku me­n­de­ngar penjelasan ter­se­but, pemuda itu pun tersa­dar arti penting uang di zaman se­karang. Mulai dari uru­san cin­ta hingga pe­milu, uang­lah yang me­nen­­tu­kannya. Kini ia me­nger­ti, di abad 21 uang ada­lah raja di atas segala raja. An­dai kera be­nar-benar bi­sa me­ngu­nakan uang, ten­tu­nya status ma­nusia dan ke­ra sama. Se­andainya Car­les Darwin ma­sih hidup di za­­man se­karang, tentu ia akan te­r­tawa puas dengan teo­rinya.

Melihat Emil masih ter­p­aku dengan penjelasanya, si kakek segera me­ma­suk­kan uang empat ratus ribu itu ke kantong celananya dan pergi bergegas me­ning­galkan pe­muda ter­sebut. ‘Semoga kau mengerti bo­doh, zaman se­karang yang diutamakan keranisasi, bu­kan ma­nusia­wi,’ guman si kakek dalam hati sambil mem­percepat langka ka­kihnya. ***

 

Oleh:
YANSEN WAPITA ANWAR
 



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM