Filosofi Ukiran Rumah Gadang


Sabtu, 19 Desember 2015 - 01:34:19 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Filosofi Ukiran Rumah Gadang

Setelah diteliti ornamen ula­ran Rumah Gadang mempunyai hubungan yang erat dengan adat di Mi­nangkabau. Situs pribadi area­rumah.com me­nye­but­kan Adat Minangkabau ber­pengaruh terhadap ornamen ukiran Rumah Gadang, sehingga ornamen mem­pakan simbol dari per­wu­judan adat. Pengadaan orna­men ukiran selalu ber­hu­bungan dengan prinsip adat basandi syarak (adat ber­sendikan syarak) Yang mem­punyai filosofi alun lakambang jadi guru (alam ter­kambang jadi guru) dengan kousep alue jo patuik (alur dan patut), ukue jo jangka (ukur dengan jangka) dan raso jo pariso (rasa dan periksa) dengan dasar pola geometris.

Adat Minangkabau ada­lah satu dari sebagian kecil warisan budaya lokal yang masih bertahan hingga hari ini. Sebagai kekhasan yang paling menonjol adalah seni ukir. Kekayaan aset berupa seni ukir masih terus di­pertahankan hingga hari ini. Bukan hanya secara lahiriah, namun juga secara le­bih mendalam, makna- mak­na filosofis yang ter­kandung pada ukiran ter­sebut masih tetap di­upa­yakan untuk dipegang teguh sebagai falsafah hidup masyarakat Minangkabau.

Bentuk- bentuk ukiran dikembangkan dengan mengambil inspirasi dari tiga hal yaitu nama tumbuh-tumbuhan, nama hewan dan nama benda-benda yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Dalam masyarakat Mi­­nang­ka­bau dikenal tiga macam jenis ukiran. Ketiga uki­ran tersebut terinspirasi dari alam.

Perbe­­daan­nya di­dasarkan ke­pada ins­pirasi dari mo­tif ukiran. Per­tama, ukiran yang terinspirasi dari nama tumbuh-tumbuhan seperti Aka Duo Gagang, Aka Ba­ra­yun dan Ka­luak Paku jo Kacang Ba­limbiang. Kedua, uki­ran yang terinspirasi oleh nama he­­­wan se­per­ti Itiak Pu­lang Patang, Ruso Balari dalam Ran­sang dan Tu­pai Ma­na­gun.

Ketiga, ukiran yang terinspirasi dari nama benda dalam kehi­dupan sehari-hari seperti Ampiang Taserak, Lim­pa­peh dan Ambun Dewi. Pe­nulisan ini bertujuan untuk membahas dan me­ngin­ter­pretasikan makna fi­losofis yang terkandung dalam uki­ran “Itiak Pulang Patang” yang men­ce­rminkan pola kehidupan masyarakat Mi­nangkabau.

Ukiran ini pada umum­nya banyak terdapat di din­ding Rumah Adat Minang­kabau yang terkenal dengan nama “Rumah Ga­dang”. Pada ukiran ini terkandung makna filosofis yaitu meng­gambarkan kese­laras­an dan ke­serasian kehidupan ma­sya­rakat Mi­nangkabau de­ngan alam­nya, tata per­gaulan dalam kehidupan sehari-hari antar individu dalam ma­syarakat, tatanan sis­tem pemerintahan, hu­bungan sinergis pada hu­bungan sistem kekerabatan antara mamak dan ke­menakan, kete­guhan dalam men­­jalankan prinsip-prin­sip hidup serta ke­ber­samaan dan kekompakan dalam ma­sya­rakat Mi­nangkabau.(*)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM