Trauma pada Anak Korban Eksploitasi Seksual Sulit Hilang


Rabu, 16 Desember 2015 - 03:29:27 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Trauma pada Anak Korban Eksploitasi Seksual Sulit Hilang Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak HE Yohana Susana Yembise didampingi Ketua LPSK Abdul Haris Semendawai pada pembukaan Konferensi Regional Asia Tenggara: Perlindungan dan Rehabilitasi bagi Anak Korban Eksploitasi Seksual Komersial di Jakarta

Usia anak-anak memang rentan menjadi korban keja­hatan. Hal itu dikarenakan anak-anak lebih mudah dia­rahkan dan mereka belum memiliki argumen atau ke­kuatan untuk menolak aja­kan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Director General, Inter­national Affairs Depart­ment, The Office of The Attorney General of Thai­land Wanchai Roujanavong mengungkapkan, pelaku eksploitasi seksual anak saat ini bukan hanya pedofilia saja. “Harus dibedakan anta­ra pedofilia dan oportunis,” kata Wanchai dalam Kon­ferensi Regional Asia Teng­gara: Perlindungan dan Rehabilitasi bagi Anak Kor­ban Eksploitasi Seksual Komersial di Jakarta, Senin (14/12). Kegiatan ini terse­lenggara berkat kerja sama ECPAT Indonesia dan Lem­baga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Menurut Wanchai, pe­dofilia tidak mampu me­lakukan hubungan seks de­ngan orang dewasa. Tetapi, oportunis di sini maksudnya orang dewasa yang tetap melakukan hubungan sek­sual dengan orang dewasa lainnya, menikah dan me­miliki anak, namun me­milih mengeksploitasi seks anak ketika ada kesempatan sebagai perilaku seksual. “Oportunis inilah yang sa­ngat perlu diwaspadai ka­rena (oportunis) ada di mana saja,” tutur Wanchai.

Ketua LPSK Abdul Ha­ris Semendawai berpen­dapat, agar tindak kejahatan seksual terhadap anak tidak terus berkembang, pene­gakan hukum harus tegas. Apalagi, kasus eksploitasi seksual anak sudah menjadi perhatian masyarakat inter­nasional. Data yang ada menyebutkan, di kawasan Asia Tenggara saja, korban eksploitasi seksual anak sudah mencapai 2 juta orang. Sedangkan di In­donesia, dari laporan yang diterima, anak korban eks­ploitasi seksual mencapai 70.000 orang.

Hadirnya Undang-Un­dang (UU) No 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, seba­gaimana telah disem­purna­kan melalui UU No 31 Tahun 2014, kata Semen­dawai, menegaskan keha­diran negara bagi korban kejahatan dengan mem­beri­kan layanan perlindungan dan bantuan berupa re­ha­bilitasi bagi korban keja­hatan, termasuk anak kor­ban eksploitasi seksual. La­yanan dimaksud berupa bantuan medis, psikologis dan psikososial.

Selain itu, masih me­nurut Semendawai, UU Perlin­dungan Saksi dan Korban juga memung­kin­kan korban kejahatan, untuk mengajukan ganti kerugian kepada pelaku atau yang lebih dikenal dengan se­butan restitusi melalui pro­ses peradilan. Dan, yang lebih penting lagi, LPSK juga mendapatkan amanah dari UU Perlindungan Saksi dan Korban, untuk mem­fasilitasi korban kejahatan mendapatkan rehabilitasi psikososial. 

Presiden ECPAT Indo­nesia Achman Marzuki me­nuturkan, tingginya kasus kejahatan eksploitasi sek­sual terhadap anak di Asia Tenggara, yang mencapai 2 juta orang per tahunnya, menuntut semua pihak un­tuk memberikan perhatian lebih dalam hal penanga­nannya. Pola penanganan yang diharapkan harus mam­pu dituangkan dalam sebuah struktur kerja yang sistemik. “Selain  SDM dan fasilitas lainnya, pena­nga­nan­nya harus mampu men­jangkau semua korban di mana pun mereka berada,” ujar Marzuki. (h/rel)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM