Bukittinggi Banjir

Bukan Aneh Tapi Nyata


Sabtu, 12 Desember 2015 - 01:18:39 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Bukan Aneh Tapi Nyata

Tapi itu fakta yang terjadi sekarang. Disaat Kota Bu­kittinggi diguyur hujan lebat dengan durasi lebih satu jam, hampir dipastikan ada daerah yang digenangi ban­jir. Bahkan genangan air itu bisa setinggi dada orang dewasa, seperti yang be­berapa kali pernah terjadi di kawasan RT 02 RW 01 Anak Aia Kelurahan Pulai Anak Aia Kecamatan Man­diangin Koto Selayan (M­KS) Kota Bukittinggi.

Padahal di kawasan ter­sebut ada sekitar 85 Kepala Keluarga (KK) yang ber­mukim disana. Saat hujan lebat dengan durasi lama, warga setempat mulai me­ngevakuasi barang-barang berharga mereka ke tempat ketinggian. Tak heran, di sebagian besar rumah warga ada gudang khusus tempat barang pada bagian loteng.

Ketua Komisi I DPRD Bukittinggi, Nur Idris me­ngatakan, penyempitan ban­dar akibat pem­ba­ngu­nan rumah di atas bandar membuat kedatangan debit air yang tinggi jadi tak ter­bendung, sehingga meluap ke pemukiman warga.

Menurutnya, kondisi se­perti ini akan terjadi secara terus menerus jika terjadi hujan lebat dengan durasi lama, jika pemerintah tidak mengantisipasinya dengan cepat.

“Bukittinggi bisa banjir, itu aneh. Tapi itu fakta yang terjadi. Ini faktor pen­dang­kalan bandar dan penyem­pitan saluran air di Kota Bukittinggi. Kami akan evaluasi masalah drainase ini dengan melibatkan dae­rah tetangga, karena air tersebut juga berasal dari Kabupaten Agam. Tapi yang terpenting, harus ada eksen dari PU, minimal untuk tiga bulan ke depan, karena di­prediksi curah hujan akan masih terus tinggi,” ujar Nur Idris.

Nur Idris mengakui, ban­jir yang dialami di Kota Bukittinggi terjadi setiap tahunnya. Namun ia me­ngatakan, permasalahan banjir yang mengemuka dan menjadi pembicaraan ma­syarakat banyak, baru se­kitar dua bulan lalu.

Oleh karena itu, Pada tahun 2016 mendatang me­nurut Nur Idris, DPRD Bukittinggi meminta ke­pada Dinas PU untuk me­ngajukan revitalisasi selu­ruh drainase dan saluran air di Kota Bukittinggi. Untuk saat ini, yang bisa dilakukan adalah membangun infras­truktur dengan menggu­nakan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp53 mili­ar.

“Hingga saat ini Kota Bukittinggi belum memiliki master plan drainase. Jika punya master plan drainase dan PU bisa membangun infrastruktur sesuai dengan master plan itu, persoalan banjir di Bukittinggi akan selesai,” jelas Nur Idris.

Nur Idris juga berharap kepada masyarakat Anak Aia untuk taat pada aturan dan tidak mendirikan ba­ngu­nan di atas bandar, serta tidak membuang sampah di sembarang tempat, agar persoalan banjir bisa di­minimalisir.

Terkait permasalahan ini, Ahli Tata Kota Zul Ifkar Rahim, yang juga ahli tata ruang menilai, dari hasil pemantauan lapangan di tujuh titik banjir di Kota Bukittinggi disimpulkannya bahwa penanganan drainase dibuat asal jadi, baik di­mensi maupun titik ke­tinggian atau elevasi.

Zul Ifkar juga menilai, banjir di Bukittinggi me­rupakan akibat pembiaran pemanfaatan ruang se­pan­jang aliran, sehingga mem­perkecil dan menutup salu­ran yang ada, tanpa ada pengawasan. Menurutnya, ini diakibatkan pengam­bilan keputusan yang tidak tegas dan tidak didukung sumber daya manusia yang handal.

“Permasalahan banjir di Kota Bukittinggi tidak bisa di lihat dari sisi Kota Bu­kittinggi saja, tapi harus dilihat secara ke­selu­ru­han­nya, darimana asal airnya, berapa debit airnya, berapa lebar dan kedalaman drai­nase tiap jengkalnya, itu harus dikaji semua,” ujar Zul Ifkar.

Ia mengatakan, untuk membangun drainase yang baik, Pemerintah Kota Bu­kittinggi harus melakukan survey ke lapangan, dengan melibatkan daerah tetangga, seperti Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanahdatar.

“Kalau memang hulu airnya di kawasan kaki Gu­nung Marapi, maka pem­bangunan drainasenya harus dimulai dari sana. Tak hanya itu, perlu juga dibangun banyak cabang drainase, agar air yang mengalir itu bisa dipecah dan tidak ter­pusat pada satu drainase. Jadi, dalam hal pembuatan drainase ini, Pemko Bu­kittinggi harus bisa beker­jasama dengan daerah te­tangga,” jelasnya.**

 

Laporan:
HASWANDI



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 28 Mei 2016 - 02:14:46 WIB

    Yang Berkeliaran, Bukan Warga Setempat

    Yang Berkeliaran, Bukan Warga Setempat PADANG, HALUAN — Secara psikologis, kehadiran orang gila tentu mengganggu. Apalagi jika sampai berkeliaran bebas dan mengejar-ngejar orang serta mengamuk dengan melempar batu..
  • Sabtu, 07 Mei 2016 - 02:44:16 WIB
    Sekretaris Satpol PP Kota Padang, Firman Daus

    Miskin Bukan Penghalang untuk Sukses

    Miskin Bukan Penghalang untuk Sukses Lahir dan dibesarkan di keluarga miskin yang buta huruf, membentuk karakter Firman Daus, Sekretaris Satpol PP Kota Padang, menjadi sosok pekerja keras dan pantang menyerah..
  • Sabtu, 19 Maret 2016 - 00:53:27 WIB
    Kepala Dinas Kesehatan Padang Eka Lusti

    Fogging Bukan Solusi, PSN Jitu Atasi DBD

    Fogging Bukan Solusi, PSN Jitu Atasi DBD Kasus demam berdarah dengue (DBD) belakangan marak terjadi di berbagai daerah di Sumatera Barat (Sumbar). Sejumlah nyawa bahkan melayang akibat penyakit yang disebabkan disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gig.
  • Sabtu, 09 Januari 2016 - 00:51:16 WIB

    Softlens Bukan Pengganti Kacamata

    Softlens Bukan Pengganti Kacamata Masih banyak orang salah paham dengan keberadaan softlens atau lensa kontak. Mereka menganggap bahwa softlens atau lensa kontak adalah alat untuk mengganti kacamata, padahal bukan..

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM