Diary Nara


Sabtu, 12 Desember 2015 - 01:12:58 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Diary Nara

Jalan terlihat begitu suram bagai lorong tak bercahaya, pelan ku tarik gas motor dalam laju 20 km per jam, berbekal keberanian, aku dan kakakku pulang ke ru­mah Bunda, seperti isyarat kesedihan, hujan meng­guyur lebih kejam, jarak pandangku mulai me­men­dek terdesak air hujan yang menembus kaca helm, sese­kali tangan kiriku mengusap wajah basah ini.

Laju mo­torku bagai kura-kura da­lam pertandingan, pelan dan terpojokkan oleh jalan suram, terlihat dari ke­jauhan mobil jeep menyom­bongkan sinarnya membuat jalan didepanku lebih te­rang, namun bumi kian ge­lap dalam pandanganku, suara benda bertabrakkan menemani jeritan seseorang “Pyarrrrr .. !!! Aaaaa.. !!!”, aku tersungkur dalam re­rum­putan, merasakan gelap yang tiada ku inginkan, bibirku bergerak-gerak me­ngucap sesuatu “Astag­fi­rullah astagfirullah”, kura­sakan pasir memenuhi mu­lutku, perutku terasa mual, kepalaku pening, pan­dang­ku tak jelas dalam serpihan-serpihan yang tak ku ke­tahui, aku meneteskan air mata, namun air mataku terasa mengucur lebih de­ras, kurasakan benda aneh memenuhi indera peng­liha­tan ini, aku ketakutan dalam ketidakpastian suasana, da­lam diamnya aku tersung­kur, telingaku mendengar langkah beberapa orang berhambur mendekatiku “Nara .. nara ?!!” teriak seseorang memanggil nama­ku, ku dengar suara itu lebih dekat dan tangannya meraih tubuhku, aku larut dalam hangat pelukannya, tetesan hangat air matanya menetes dikulit ariku, ia mengusap lembut wajahku dan me­ngajakku menepi. 

Dalam langkahku yang tertatih aku mengikutinya menepi disebuah teras ru­mah, beberapa orang terasa hangat mengerumi keda­tanganku “Astagfirullah itu darahnya astagfirullah” “AM­BULANCE AM­BU­LANCE!!!” teriakan demi teriakan memekikkan te­lingaku, aku mencoba me­natap orang-orang itu, na­mun mataku “Ahh .. perih sekali,apa ini ?!! aaahhhh” teriak batinku ketika aku memaksa melihat, aku tak mengerti kenapa aku tidak membuka mata ini, yang aku rasa aku tidak memejam­kannya, namun semua tera­sa gelap bagai terpejam.    Hingga akhirnya kurasakan kerumunan orang-orang tadi hilang, aku bagai berada dalam ruang kesunyian, bau yang sangat khas menyengat hidungku, bau obat-obatan dan bau alkohol ini semakin jelas menyengat hidungku, ini pasti rumah sakit, tanpa ada suara apapun seseorang menusukan benda runcing di aliran darahku, kesakitan demi kesakitanku terasa menghambur keluar tubuh­ku karena bius membalut kesadaranku, aku ingin me­ngucapkan terimakasih kepa­da penusuk runcing itu, namun aku tidak dapat me­ne­mukannya, bayangannya pun tak dapat aku lihat, semua gelap tanpa bentuk.

Dalam hitungan jam aku tersadar, tanpa aku ren­canakan tangisku memecah keheningan, aku menangis sejadi-jadinya, “Apa ini yang namanya kematian ? sendiri dalam kegelapan? apa aku telah mati Tuhan ?” hatiku mendebarkan kalimat-kali­mat penuh tanya. Ingatanku mulai berkerja, aku mengi­ngat suatu benda meng­hantam tubuhku dengan keras, aku menjerit kesa­kitan, tubuhku terlempar dan lepas dari motor yang aku kendarai, aku terdam­par pada rerumputan penuh pasir, serpihan-serpihan kaca menusuk indera peng­lihatanku, merobek kornea ma­ta­ku dan mengucurkan darah yang menikamkan kesakitan, barangkali darah itu yang aku kira tangis, aku tetap tidak mengerti hingga akhirnya pikiranku mela­yang tak terarah. Aku mera­sakan seseorang memegang tanganku, ia mengusap lem­but pipiku, dengan lembut ia membisikan sesuatu “Na­ra yang sabar ya, bunda selalu ada disamping Nara, Nara jangan sedih, jangan merasa ketakutan” lirih kudengar suara bundaku menenangkan.

Baru kusadari bahwa aku buta, aku menangis tiada henti “Kenapa Tuhan ? ke­na­pa harus aku ? kenapa harus buta ? huhuhu ,, aku benci gelap aku takut gelap !!” aku meraung seperti anak kecil yang tersayat jarinya “Nara,,” pelan ia menghapus airmata dipipiku.

“Jangan menangis, mari kita hadapi gelap ini ber­sama-sama, Ayah ada untuk Nara, ayah akan menjadi mata terindah untuk Nara” lanjut­nya, aku sangat sedih, aku belum siap menerima kenya­taan bahwa aku buta, namun aku juga bahagia karena ayah dan bunda ku dapat bertemu kembali sete­lah 5 tahun pe­rceraian mereka.

Hari demi hari aku le­wati, semua waktuku penuh dengan kegelapan, namun ayahku yang telah berjanji menjadi mata terindahku selalu menceritakan segala­nya kepadaku, dengan pe­nuh perhatian ia menga­jakku berkhayal dalam sur­ga dunia yang tak lagi mam­pu aku lihat. Juga teman-teman sekolahku yang se­tiap hari silih berganti ber­tandang kerumah, mereka mengajarkan pelajaran yang mereka dapatkan hari itu, aku sangat senang menda­patkan perhatian yang isti­me­wa dari mereka. Namun diantara teman-teman yang datang, aku sangat me­nan­tikan Renata untuk me­ngunjungiku, dia adalah teman karibku sejak SD.

Kokokan ayam me­nyam­but pagi yang cerah, pagi itu kurasakan oksigen penuh kesegaran memenuhi paru-paru ku, aku terse­nyum menyambut indahnya pagi yang hanya dapat kura­sakan tanpa ku pandang, aroma masakan yang lezat membangunkan nafsu ma­kan­ku, langkahku tertuntun aroma lezat itu,”Naraa..” panggil bundaku, aku ter­senyum “Iya bun ? bun,, Nara sekarang sudah hafal dengan jalan-jalan dirumah ini, “ jawabku dengan se­nyum bulan sabit di bibirku, “Wahh,, pandai sekali anak bunda ini, kalau begitu Nara sekarang sarapan dulu, bun­da sudah memasak masakan favorit Nara” ujarnya me­nun­tunku ke meja makan. Tak berapa lama kemudian, aroma makanan favoritku lebih tajam menusuk hi­dung, nampaknya bunda telah menyajikannya dide­panku “Ini buat Nara, spe­sial, Nara harus makan yang banyak ya, sini bunda sua­pin” ujarnya penuh ke­lembutan.

Nara bisa makan sendiri kok bunda, Nara akan habis­kan semua masakan bunda biar Nara kenyang dan tidur­nya nyenyak, dimana ayah dan kakak bun? Nara ingin kita sarapan bersama-sa­ma”, tanpa harus menunggu lama, ayah dan kakakku datang. Pagi itu aku sangat bahagia menikmati kein­dahan sara­pan dalam satu bang­ku de­ngan ayah dan bundaku.

Di sore harinya, aku merasakan aliran darahku meledak,tubuhku kembali terlempar, kepalaku seakan-akan tertindas sebuah roda, lenganku kembali retak, aku tak berdaya, aku mera­sa­kan sesak sesaat sebelum akhirnya aku benar-benar tak berdaya.

Ilusi tentang kesakitan-kesakitan Nara kembali terbayang ketika aku mem­buka kembali catatan Nara di buku hariannya, buku harian yang ia berikan di­hari terakhirnya sebelum ia tertabrak truk.

Hari itu senja begitu indah, aku menyambut ke­da­tangan Nara, ia dengan satu tongkat mencoba ber­jalan dan mengetuk rumah­ku, sungguh aku sangat se­dih melihat sahabatku se­perti itu, ia tidak banyak berbicara “Re, aku sangat senang ber­sahabat de­ngan­mu, aku tidak ingin persa­habatan kita ber­akhir kare­na ada kesalah­pahaman” ketika itu aku tidak paham dengan apa yang Nara kata­kan “Re,,aku menya­yangi­mu, tentang Tya­na, dia ada­lah sahabat baru kita, aku tidak pernah me­lu­pakan­mu, aku juga tidak pernah memilih bahkan mem­ban­ding-bandingkan sahabat­ku, kalian berdua adalah sahabat ku hingga akhir hayat, aku harap kamu da­pat menerima Tyana seba­gai sahabatmu juga”. kali­mat Nara masih segar da­lam ingatanku, juga buku ha­riannya yang ia berikan sebelum berpamitan de­ngan­ku, hatiku benar-benar menyesal pernah menuduh Nara sebagai sahabat semu­sim, aku baru menyadari segalanya setelah membaca lembar demi lembar diary Nara. (***)

 

Karya :
SEPTIE MIRANDA AYURI



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM