Kematianku


Sabtu, 05 Desember 2015 - 01:12:04 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Kematianku

Tak pernah kusangka bahwa malam ini adalah perjalananku menuju tem­pat terakhir. Tak pernah kutahu bahwa di ujung sana sang malaikat maut telah siap menunggu. Sesorang membunuhku malam ini.

“Bugh!!” Kepalaku ter­timpa sesuatu. Padat dan keras. Menghantam dari arah belakang. Sekali lagi. Dan lagi. Aku rubuh dalam goyah. “Jleb!!” Sesuatu me­nusuk bagian perutku. Se­suatu yang tajam. Agaknya dari tangan yang berbeda. Entah siapa.

Darah mengalir dengan lancar. Di perutku. Di hi­dungku. Aspal menjadi ba­sah. Merah. Entah apa yang terjadi. Beberapa titik di badan ini mencuatkan rasa perih. Sangat perih. Begitu intens ketika aku mencium bumi. Aku tak tahu apa yang terjadi. Hanya deretan derap langkah asing yang terdengar kemudian. Aku berusaha menoleh. Dua orang berbaju hitam. Me­reka berjalan menjauh. Tak mempedulikanku lagi. Pan­danganku mulai beriak. Dinding-dinding terasa mi­ring. Horison kacau.

Perih itu tiba-tiba me­muncak. Rasanya darahku terlalu banyak terbuang. Kuamati genangannya yang semakin melebar. Pan­da­nganku semakin aneh. Sa­raf-saraf di tubuhku tak lagi memberi ransangan. Detak jantungku melambat. Lalu perlahan hilang. Aku me­masuki dimensi lain. Alam yang berbeda.

***

Rohku telah keluar dari jasadnya. Berdiri. Aku ter­pana melihat jasad yang terbujur kaku di bawah. Jasad yang selama ini ku­banggakan. Terbaring mati. Di antara tumpahan darah segar. Aku melihatnya lang­sung dengan setengah per­caya. Aku mencoba meraih. Tapi sia-sia. Dimensiku telah berubah. Aku hanya sebuah roh yang bersiap naik ke langit.

Sebentar lagi.

Sejurus kemudian aku merajuk pada dua orang yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Mereka berhasil melarikan diri. Pecundang! Aku men­coba berlari ke arah mereka terakhir kali terlihat. Ber­gerak mengikuti naluri. Dua orang itu tidak bisa dimaafkan.

Untuk sementara kubi­arkan jasadku terbengkalai di belakang. Aku harus berusaha menemukan dua orang itu. Segera. Mereka harus menjelaskan apa mak­sud dari semua ini.

Gang demi gang kusu­suri. Jalan-jalan gelap dan berbau busuk kulaluli. Se­tiap ruang yang mencu­rigakan kuperiksa. Tapi dua orang itu tetap tak lagi terli­hat. Aku akhirnya kecewa. Mereka telah kabur. Jauh. Dengan langkah putus asa aku berjalan kembali ke tempat tadi jasadku ter­baring. Jasad itu masih be­lum terjamah siapa pun. Masih belum bergeming seinci pun.

Aku akhirnya duduk di seberang jalan dan mem­perhatikannya dengan ke­sal. Pikiranku masih di­kuasai amarah terhadap dua orang pecundang yang tadi membunuhku. Aku ingin tahu siapa mereka se­be­narnya. Apa tujuannya me­la­kukan semua ini? Aku kesal. Kesal sekali.

Seorang gembel kemu­dian menemukan jasadku di pagi buta. Dia histeris. Berteriak ke segala arah meminta bantuan. Tapi tak ada tanggapan. Jalanan ma­sih terlalu lengang. Aku hanya bisa mengamati. Tak mampu bersuara. Alam ka­mi berbeda. Dia lalu berlari ke sana kemari. Kalap. Me­ninggalkan jasadku sen­dirian seperti sebelumnya. Aku kembali termenung. Merasa aneh sendiri dengan apa yang terjadi di ha­da­panku. Bingung dan kesal melebur jadi satu.

Beberapa menit berlalu. Gembel itu akhirnya ber­hasil menarik seorang ba­pak-bapak ke tempat jasad­ku terbaring. Dari kejauhan dia menunjuk-nunjuk ke jasadku dengan panik. Mu­lutnya komat-kamit. Se­makin dekat dia dengan jasadku, semakin tak tenang dia melangkah. Bapak-ba­pak yang berjalan menyertai gembel itu benar-benar terkejut melihat keadaan jasadku yang sudah tak ber­ny­awa. Darah berserakan. Mulai mengering. Kulitku memutih. Pucat pasi.

“Kamu tunggu di sini dulu. Aku akan pergi ke kantor polisi melaporkan,” ucap bapak-bapak yang ber­badan besar itu. Suaranya agak terbata. Dan parau.

“Baik. Cepat, Pak!”

“Ya. Jangan biarkan orang lain mengusik mayat ini sampai polisi datang!”

Bapak-bapak itu ke­mu­dian berlari menuju arah jalan raya. Mencegat salah satu kendaraan dan pergi menuju kantor polisi ter­dekat.

Gembel itu sesuai pe­rintah menjaga jasadku dengan hati-hati. Dia tam­paknya tak begitu kuat melihat darah dan semua kengerian yang tersaji. Aku masih tetap tak bergeming di seberang jalan. Menga­mati dua jasad di depanku dengan lesu. Yang hidup menjaga yang mati.

Langit mulai terang. Orang-orang telah ramai mengerumuni jasadku yang masih dikawal oleh seorang gembel berpenampilan lu­suh. Ironisnya tak satu pun dari mereka yang me­nge­naliku. Aku ternyata seperti orang asing di sini.

Polisi datang dan segera kerumunan itu memecah memberi jalan. Kasak-ku­suk terjadi sebentar. Garis polisi direntangkan. Posisi mayat ditandai. Lalu ja­sadku dimasukkan ke da­lam kantong mayat. Keru­munan perlahan bubar. Jasadku digotong ke atas mobil. Mobil berjalan me­ninggalkan TKP. Selan­jutnya aku tak tahu lagi bagaimana nasib jasadku tersebut. Aku masih mem­beku di seberang jalan. Pe­nuh rasa putus asa.

Satu hal yang akhirnya membuatku kembali ber­gerak dan beranjak pergi adalah mencari dua orang pembunuh itu dalam waktu yang tersisa. Tak ada tujuan lain lagi. Hanya itu.

Setelah cukup lama me­mahami apa yang mungkin terjadi di balik semua ini, aku akhirnya menemukan satu nama. Nama yang ber­hubungan dengan perjanjian tadi malam. Vito. Aku me­langkah ke arah itu. Ber­harap dugaan tersebut be­nar. Aku lalu berlari me­ngingat amarah yang me­nguasai.

Cahaya  matahari yang merangkak naik di ufuk ti­mur tak lagi bisa kurasakan. Panas dan dingin kini tidak berguna. Aku hanya sebuah roh. Berjalan dalam dimensi yang lain dari apa yang masih bisa terlihat di dunia nyata. Aku bebas. Tak ter­usik apa pun.

Aku tak lagi mengenal jam. Di alam baruku waktu telah berhenti berputar. Udara lenyap. Aku melaju dengan kecepatan bak me­layang. Semua elemen de­ngan praktis bisa kutembusi. Aku sungguh transparan. Aku bisa melintasi barisan kereta yang melaju kencang tanpa harus terlindas. Aku bisa berkeliaran di tengah sibuknya jalan raya tanpa harus tertabrak. Aku sudah mati. Aku tak punya lagi ketakutan. Tapi aku punya dendam.

Cukup jauh berjalan, aku sampai juga di tempat tu­juan. Rumah Vito. Tanpa pikir panjang aku masuk membawa kecurigaan be­sar. Dan benar. Apa yang kubayangkan sebelumnya sesuai dengan kenyataan di depan mata. Sebuah peng­hianatan telah terjadi. Aku tertipu. Di ruang depan aku menemukan dua orang yang dari tadi kucari-cari. Dua lelaki berbaju hitam. Ber­postur sama. Aktor utama kematianku. Sialan! Pem­bunuh bayaran. Mereka sedang tertawa bersama di atas sofa. Menertawai ke­matianku. Membahas sebu­ah tema yang dianggap se­bagai kebodohan. Vito – temanku yang selalu bisa dipercaya – kemudian asyik menyulut rokoknya. Tanpa merasa bersalah. Tanpa segan-segan. Tertawa,

Aku muak. Tanpa ter­kendali, gerakanku tiba-tiba menghajar wajah Vito ber­tubi-tubi. Tapi tak ber­pe­ngaruh apa-apa. Dia kem­bali tertawa. Semakin ken­cang. Kepulan asap me­luncur dari mulutnya. Me­nga­wang-ngawang di kepa­laku. Menambah sakit hati.

Aku merasa seperti tak berdaya. Dipermalukan. Tanpa sekali pun dapat melawan.

“Betapa bodohnya dia,” terang Vito kepada dua lekaki di hadapannya.

Sekali lagi. Emosiku meledak. Kepalan tanganku mengarah ke wajah Vito. Mengayun kuat. Tapi tetap tak berpengaruh. Sia-sia. Dia kembali tertawa.

Aku tak tahan. Aku mundur dan berjalan keluar. Turun ke jalanan dengan rasa kesal yang berlipat ganda. Tapi belum jauh aku melangkah, sebuah sepeda motor menembus rohku. Dua orang lelaki berbaju hitam berada di atasnya. Pembunuh bayaran tadi. Mereka perlahan menjauh dengan sebuah tas yang disandang. Sekilas tampak mencurigakan.

Aku akhirnya me­mu­tuskan untuk berputar ba­lik. Masuk kembali ke ru­mah Vito.  Dan betapa terkejutnya aku ketika men­dapati darah mengalir di lantai keramik. Merah di atas putih. Vito ter­te­lung­kup sekarat. Nafasnya ter­tahan-tahan. Tak lama ber­selang, sebuah roh bangkit dari jasadnya. Berdiri de­ngan setengah percaya. Vito telah terbunuh. Dia mati.

Kekagetannya ber­tam­bah meningkat ketika melihat rohku berdiri tak jauh dari posisinya. Aku lalu berjalan mendekati. Eks­presi marah terpasang. Ke­dua tangan kembali me­ngepal. Semakin dekat se­makin kuat. Vito merespon kehadiranku dengan berdiri terpaku.

Sebuah pergumulan akhir­nya terjadi. Dua roh yang sedang bermasalah saling hantam. Aku me­nghajar roh Vito sejadi-jadinya. Dengan segala ama­rah. Tanpa ampun. Tapi kejadian itu hanya ber­lang­sung sebentar.  Entah apa yang berubah, tiba-tiba roh­ku tertarik ke belakang. Secepat kilat. Dan hilang.

***

Upacara di makam itu telah selesai. Orang-orang yang tadi berkumpul mulai berpisah. Termasuk ibu, ayah, dan adik-adikku. Me­reka kemudian berjalan mening­galkan makam ber­sama air mata penghabisan. Bersama segala kenangan yang tak akan ingin dilu­pakan.

Di awang-awang, aku me­ngamati semua kejadian itu dengan mental hancur. Dosa-dosa mulai meng­han­tui. Aku tak tahu apakah aku sebe­narnya sudah siap meng­hadapi hari ini. Hari kematianku.

Makam sudah sepi. Ja­sadku kini berbaur bersama jasad-jasad lainnya yang mung­kin sudah di sana se­jak berpuluh-puluh tahun lalu. Menjadi santapan ca­cing-cacing lapar hingga tinggal tulang-belulang tersisa. Ah, hidup terlalu cepat berlalu. Perlahan, rohku melayang naik. Me­nuju langit. Me­ninggalkan dunia.

 

Karya:
RIKI FERNANDO



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM