Bos Media Akui Terima Rp2 M


Senin, 23 November 2015 - 20:11:46 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Setelah melakukan nego­siasi, disepakati biaya pen­citraan dipatok sebesar Rp3 miliar. Namun pembayaran baru dilakukan Rp2 miliar. “Kami diminta Pak War­­yono Karno untuk mem­bantu pecintraan atau me­ngemas berita positif untuk Pak Jero Wacik,” ujar Don yang dilansir cnni­ndo­nesia.

Berkali-kali Don me­nga­ta­kan, dana pencitraan itu bu­kan diambil dari AP­BN. Dia memastikan hal itu dari per­nyataan Waryono yang me­nyebut hal itu secara lang­sung. “Ini bukan dana dari negara, tapi nonbujeter. Ini business to business,” jelas Don. Rencananya dana sebe­sar itu akan didis­tri­busikan untuk pemberitaan di tiga media, yaitu 50 per­sen un­tuk Indopos, dan sisa­nya masing-masing un­tuk Ja­wa Pos dan Rakyat Mer­de­ka. “Itu grup kami,” kata­nya.

Don meneken kontrak ter­sebut pada 19 Januari 2012. Kontrak berlaku sela­ma­ setahun. Namun baru ti­ga bulan berlalu, proyek itu di­putus. Don mengatakan, pi­hak kementerian tidak bi­sa dikonfirmasi setelah itu. “Ka­mi tidak tahu harus ba­gaimana, dilanjutkan atau ti­dak, menggantung sampai se­ka­rang,” katanya.

Selama transaksi pem­bayaran Rp2 miliar, Don mengaku baru menerima bukti kuitansi dua kali. Masing-masing Rp250 juta. Sementara sisanya dise­rah­kan tanpa kuitansi. Sisa transaksi itu dilakukan seca­ra langsung dan melalui rekening Indopos. “Karena itu dana non­bujeter, kami tidak terlalu memikirkan hal itu (kui­tansi),” katanya.

Pencitraan Disebut Smart Reporting

Don menyebut proyek pencitraan itu dengan istilah smart reporting. Istilah itu dimaknai Don sebagai re­por­tase yang memberi nuan­sa positif terhadap pihak yang memberi order, dalam hal ini kementerian ESDM. “Saya membuat draf smart reporting, tujuannya sama untuk pencitraan,” katanya.

Proyek pencitraan itu bertepatan dengan adanya rencana kenaikan harga bahan bakar minyak. Saat momen ini, berita tentang reaksi penolakan masya­ra­kat menjadi sorotan media.

Don mengambil sudut pandang lain. Dia menyoroti sisi positif dari kenaikan harga BBM. Salah satunya, beban negara semakin mem­beng­kak jika harga BBM tidak dinaikkan. Da­lam seminggu, Don menga­tak­an, mener­bitkan antara dua hingga tiga berita. “Goal kami, publik men­jadi tenang, nyaman, dan me­mahami dengan de­tail, kare­na itu kami na­ma­kan smart reporting,” jelas Don.

Dia menilai media saat ini­ sebagai sebuah industri, bu­kan pers perjuangan se­per­ti era 1945. Karena itu agar media tetap hidup, lan­jut­nya, pemberitaan ti­dak mel­ulu menyuarakan kritik. Pem­beritaan bisa dilakukan de­ngan cara yang lebih kre­a­tif,­ katanya. “Kita mem­be­ri­kan in­put yang positif, itu ada­lah salah satu mazhab ka­mi. Bahwa tidak semua me­dia harus menye­rang,” kata Don. (h/net)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 28 Agustus 2015 - 20:40:56 WIB

    Bos Pelindo II Ancam Presiden

    DIGELEDAH BARESKRIM

    JAKARTA, HALUAN  — Direktur Utama PT Pelindo II Richa.

  • Kamis, 26 Maret 2015 - 19:37:12 WIB

    Bos Twitter Temui JK

    BUKA PELUANG BISNIS

    JAKARTA, HALUAN — Direktur Twitter Dick Costolo menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kamis (26/3), guna membahas peluang bisnis di Tanah Air. “Kami mendis­k.

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM