Gas 3 Kg Diburu


Senin, 05 Januari 2015 - 18:37:24 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Zal (40), salah seorang pedagang gas elpiji di kawasan Lapai, Padang, mengaku, permintaan gas elpiji 3 kg naik mencapai 25-30 tabung per harinya. Sebelum harga gas elpiji 12 kg naik, permintaan hanya 15-20 tabung per hari.

“Karena kenaikan ini, terkadang gas tiga kilogram yang kami minta sering telat bahkan hanya sedikit yang kami dapat,” ujarnya.

Meningkatnya permintaan gas 3 kg ini sangat beralasan. Konsumen bisa hemat separuhnya. Jika membeli gas elpiji 12 kg bisa mencapai Rp165 per tabung, maka dengan menggunakan gas 3 kg untuk takaran yang sama hanya Rp80 ribu. Hitungannya, harga gas 3 kg per tabung Rp20 ribu dikalikan empat.

Pertamina Sumbar sendiri tampaknya khawatir akan terjadi kelangkaan dan penyelewengan gas elpiji 3 kg sebagai dampak kenaikan harga elpiji 12 kg.

Karena itu, Pertamina Sumbar melakukan pemeriksaan kesejum­lah agen gas elpiji serta serta peda­gang eceran di sejumlah titik di Kota Padang, Senin (5/1).

Hal itu terkait dengan kenaikan gas elpiji 12 kg yang resmi naik pada tanggal 2 Januari 2015. Kenaikan tersebut dapat memicu peralihan pemakaian gas elpiji 12 kg ke gas 3 kg.

Dari Pantauan Haluan, di bebe­rapa penjual eceran, permintaan gas elpiji 12 kilogram menurun, namun permintaan untuk gas elpiji 3 kilo­gram meningkat.

Sales Eksekutif bidang LPG Perta­mina Sumbar, Sulistya Adi saat melakukan pemeriksaan di salah satu agen di kawasan Lapai, menga­takan, pihaknya berusaha mela­kukan norma­lisasi pasca kenaikan harga gas 12 kg dengan cara meme­riksa penjualan di tingkat agen dan pengecer.

“Kami memantau pasca kenai­kan harga gas 12 kilogram. Apakah di tingkat bawah gas elpiji yang tiga kilogram sudah tepat sasaran atau belum. Bahkan ini bertujuan untuk mengantisipasi adanya penye­lewe­ngan atau pengoplosan yang dila­kukan oleh pihak-pihak yang me­ngambil keuntungan di balik kenai­kan harga ini,” pungkasnya.

Dia menmbahkan, Pertamina akan mengambil tindakan tegas, jika terdapat agen yang melakukan pelanggaran dan kecurangan. Sanksi keras pun akan diterapkan mulai dari teguran hingga penutupan pangkalan atau agen gas elpiji.

PT Pertamina (Persero) memu­tuskan menaikkan harga elpiji 12 kilogram sebesar Rp 1.500 per kg sejak tanggal 2 Januari 2015. De­ngan demikian, harga elpiji non­subsidi ini naik Rp 18 ribu per tabung. Di Kota Padang,  harga gas elpiji di tingkat agen saat ini Rp140 ribu. Sementara di tingkat pengecer mencapai Rp165 ribu per tabung.

Marketing PT Teten yang ada di Jalan Diponegoro nomor 17 B4 Padang Gazali Cristine yang diwa­wancarai Haluan, Senin (5/1) kema­rin mengatakan,  jika diantar lang­sung ke konsumen harga per tabung gas elpiji ini menjadi Rp145 ribu.

Sebelumnya harga elpiji dijem­put langsung ke agen Rp120 ribu dan menjadi Rp125 ribu jika agen yang mengantarkan langsung ke depotnya.

“Untuk kenaikan harga di tingkat depot kita kurang tau ya berapa seharusnya atau maksimalnya, na­mun setau saya depot hanya boleh menaik­kan harga berkisar Rp5.000 dari harga yang ditetapkan oleh agen,” ujarnya, Senin (5/1) di ruangannya.

Kenaikan harga ini berlaku mulai 2 Januari 2015 pukul 00.00 waktu setempat. Hal ini merupakan pelaksanaan Roadmap Penyesuaian Harga Elpiji 12 kg secara berkala untuk menuju harga keekonomian sesuai kaidah bisnis korporasi.

Di tingkat pengecer di Pasar Raya Padang, rata-rata pedagang gas 12 kg ini menjual di atas harga yang ditetapkan Pertamina. Mereka me­netap­kan harga mulai dari Rp150 ribu per tabung hingga Rp165 ribu per tabung.

Pengakuan dari salah seorang pedagang gas elpiji 12 kg di Pasar Raya Blok A Padang Malin (43 tahun) bahwa ia membeli gas 12 kg bukan dari depot atau agen langsung, melainkan sudah melalui pengecer. Alasannya menjual dengan harga Rp155 ribu per tabung karena ia membeli pada temannya dengan harga Rp150 ribu per tabung.

“Kalau kita jual lagi dengan harga Rp150 ribu per tabung mana untungnya untuk kita lagi, saya menyediakan gas yang 12 kg ini hanya sampingan saja jika ada yang memesan baru saya tambah pasokan saya,” jelasnya.

Sementara itu, salah seorang pengguna elpiji 12 kg Daffa (30 tahun) warga kelurahan Parupuak Tabing Padang mengaku kecewa dengan kenaikan harga elpiji 12 kg ini karena sebelumnya ia hanya membeli dengan harga Rp115 ribu jika dijemput langsung ke kedai atau ke tingkat pengecer dan jika diantar langsung ke rumah harganya menjadi Rp118 ribu.

“Sekarang saya membeli gas elpiji 12 kg harganya menjadi Rp130 ribu itupun dijemput lang­sung ke kedai, jika diantar langsung ke rumah harnganya bertambah menjadi Rp133 ribu. Awalnya kita sudah senang BBM harganya ditu­runkan oleh pemerintah tapi ber­selang itu harga gas yang dinaikkan. Sama saja jadinya,” ulasnya.

Dijerat Hukum

Sementara itu, terkait dengan dugaan pungutan liar (pungli) yang terjadi di beberapa kabupaten/kota saat pendistribusian bantuan kom­por elpiji 3 kg, Tim Pembina Penga­was Konversi Migas Tertutup (TPPMT) mengancam akan mem­bawa masalah ini ke ranah hukum.

Kepala TPPMT yang juga Sekre­taris Daerah (Sekda) Ali Asmar melalui Sekretaris TPPMT sekali­gus Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Sumatera Barat Syafrizal Senin (5/1) siang menu­turkan, apabila pungli ini terbukti pihaknya akan melaporkan kepada pihak yang berwajib.

Dugaan pungli pendistribusian kompor dan tabung gas 3 kg ini terjadi di Kenagarian Surian, Ke­camatan Pantai Cermin, Kabupaten Solok dan Kenagarian Sungai Be­tung, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung. Biaya dis­tribusi rata-rata diminta Rp 10 ribu per unit kompor dan tabung.

“Ini sudah melanggar aturan yang ada. Kita akan segera membuat edaran kepada bupati/walikota terkait hal ini,” papar Syafrizal.

TPPMT  akan segera mem­bentuk tim dan akan langsung melakukan tinjauan di lapangan. Senin kemarin tim ke lapangan meninjau hal ini.

“Untuk pembagian kompor gas 3 kilogram ini gratis tidak ada satu pun yang dipungut biaya. Apalagi seperti upah angkut yang dikambing hitamkan, upah angkut sudah di­tang­­gung Pertamina,” tegasnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Kelistrikan dan Migas, Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar Herri Martinus  mengatakan, untuk pendi­stribusian kompor gas 3 kilogram ini masih terus dilakukan. Sebanyak 500.000 ribu tabung LPG 3 kilo­gramg dibagikan di seluruh kabu­paten/kota di Sumbar.

“Kita belum bisa memberikan jumlah distribusi sampai saat ini, disebabkan konsultan di lapangan masih terus bekerja men­distri­busi­kan kompor LPG 3 kilogram ini,” paparnya.

Terkait dengan pungli dalam pembagian kompor LPG 3 kilo­gram ini, ia mengatakan sangat menentang hal ini. Karena bantuan kompor LPG 3 kilogram tanpa pungutan apa pun.

“Tidak ada pungutan apa pun dalam pendistribusian ini, semua gratis,” tutupnya.

Padang Tak Ada Pungli

Dinas Perdagangan Perin­dus­trian Pertambangan dan Energi (Disperindagtamben) Kota Padang menyangkal adanya pungutan liar di pembagian  elpiji kg di Kota Pa­dang. Pasalnya, pendistribusian elpiji tersebut diawasi dari berbagai pihak, termasuk masyarakat.

Sekretaris Disperindagtamben Kota Padang, Nasril menuturkan pungutan elpiji di Kota Padang akan cepat terdeteksi, karena media juga ikut mengawasi. Tidak hanya itu saja, masyarakat Kota Padang cepat menyerap informasi. Sehingga kalau ada pungutan pasti cepat diadukan.

“Saya yakin di Kota Padang tidak bakalan ada pungutan terkait pem­bagian elpiji 3 kg,” tuturnya. (h/rvo/mg-rin/mg-isr/mg-ows)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 09 Agustus 2018 - 15:27:07 WIB

    Tindakan Tegas Perparkiran Menunggu Perda

    Tindakan Tegas Perparkiran Menunggu Perda PADANG, HARIANHALUAN.COM—Penindakan pengembosan ban tak menciutkan nyali para pelaku parkir sembarangan di Kota Padang. Dinas Perhubungan Kota Padang mengaku tengah menunggu Peraturan Daerah (Perda) baru yang akan mengatur .
  • Rabu, 06 September 2017 - 22:26:19 WIB

    Pemko Agar Tegas Soal Tanah

    Pemko Agar Tegas Soal Tanah PADANG, HARIANHALUAN.COM------ Komisi I DPRD Kota Padang bersama pihak terkait, lakukan peninjauan kelapangan terkait permasalahan pemagaran di mulut jalan keluar masuk kerumah Nanda Telambanua di Jl.Kali Kecil II Nomor 1A RT.
  • Senin, 04 September 2017 - 16:20:46 WIB

    Weno: Mitigasi Bencana Masih Perlu Disempurnakan

    Weno: Mitigasi Bencana Masih Perlu Disempurnakan PADANG, HARIANHALUAN.COM - Merujuk gempa pada Jumat (1/9) dinihari di Padang, diperlukan mitigasi bencana lebih sempurna lagi. "Alhamdullah Aman, namun kalau harus mengungsi ke ketinggian maka di sanalah muncul masalah," ka.
  • Senin, 04 September 2017 - 02:28:08 WIB
    SERING MENGELABUI POLISI

    Petugas Ringkus Pengedar Sabu di Rumahnya

    PADANG, HALUAN – Pengedar dan pemakai narkoba jenis sabu dicokok tim Resnarkoba Polresta Padang di rumahnya di Jalan Purus III, Kelurahan Purus, Kecamatan Padang Barat, Padang, Sabtu (2/9) sekitar pukul 18.00 WIB..
  • Senin, 14 Agustus 2017 - 17:42:10 WIB

    Baliho dan Poster Bacalon Kepala Daerah Tak Sesuai Perda, Walikota Padang: Sat Pol PP Sudah Tahu Tugasnya

    Baliho dan Poster Bacalon Kepala Daerah Tak Sesuai Perda, Walikota Padang: Sat Pol PP Sudah Tahu Tugasnya PADANG, HARIANHALUAN.COM—Wali Kota Padang, Mahyeldi, akhirnya angkat bicara tentang baliho dan poster bakal calon kepala daerah Kota Bengkuang ini yang mulai muncuil sejak beberapa waktu belakangan. Menurutnya, hal seperti .

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM