Lautan Manusia di Jam Gadang


Kamis, 01 Januari 2015 - 21:19:59 WIB
Reporter : Tim Redaksi

Tak hanya berasal dari Kota Bukittinggi, tapi puluhan ribu pengunjung yang tumpang ruah itu juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti dari daerah Riau, Ja­kar­ta, Sumut, Jambi, Palem­bang dan yang lainnya.

Meski pada saat menginjak malam telah ada beberapa kem­bang api yang disuguhkan kepa­da pengunjung, namun puncak pesta kembang api itu sendiri mulai menerangi langit Jam Gadang sekitar pukul 23.45 WIB hingga pukul 00.15 WIB.

Hingga pukul 02.00 WIB, ribuan pengunjung masih ba­nyak yang bertahan di Jam Gadang, seolah-olah enggan untuk meninggalkan kawasan Jam Gadang.

Meski saat malam tahun baru lautan manusia memadati Kota Bukittinggi-Sumbar, na­mun Polres Bukittinggi me­mas­tikan tidak adanya keja­dian kecelakaan lalu lintas (la­k­a lantas) yang terjadi di Bu­kit­tinggi saat malam tahun baru.

“Alhamdulillah, untuk laka lantas pada malam tahun baru kali ini nihil,” ujar Kasat Lantas Polres Bukittinggi AKP Suyono, Kamis (1/1).

Suyono mengatakan, sepanjang malam tahun baru, pihaknya menge­rahkan semua kekuatan personil lalu lintas (Lantas) di seluruh titik keramaian. Bahkan hampir di setiap persimpangan yang padat ditempati personil Lantas.

Selain di kawasan Jam Gadang, pesta tahun baru di kawasan Gu­nung Marapi juga tak kalah me­riahnya. Dari kaki gunung, kawasan cadas gunung tampak terang ben­derang akibat banyaknya pendaki yang me­laku­kan pesta kembang api di kawasan cadas.

Sebelumnya, menjelang malam pergantian tahun baru, cadas Gu­nung Marapi juga mendadak ber­warna-warni pada sore hari. Namun warna-warni itu bukan berasal dari lampu atau cahaya lainnya, tapi berasal dari tenda para pendaki.

Meski Gunung Marapi Sumbar masih berstatus waspada dan para pendaki dilarang mendekati puncak radius tiga kilometer, namun dari kaki gunung tampak tenda-tenda para pendaki di kawasan cadas. Padahal kawasan cadas itu masih dalam radius berbahaya.

“Kami hanya bisa mengimbau agar pendaki tidak mendekati kawah radius tiga kilometer. Namun nya­tanya masih banyak pendaki yang bandel. Kami tidak bisa mela­rang­nya, karena kewenangan itu ada di tangan pemerintah,” ujar Ketua Tim SAR Marapi Adventure Camp (MAC), Jofri Andres.

Dari data Tim SAR Marapi Adventure Camp (MAC), total jumlah pendaki Gunung Marapi dari tanggal 28 Desember 2014 hingga 31 Desember 2014 berjumlah seki­tar 3.000 orang. Hingga Kamis (1/1) pukul 15.00 WIB, baru sebagian pendaki yang telah turun gunung, sisanya masih bertahan di cadas dan ber­siap untuk turun gunung.

Sementara itu di Agam, seba­nyak empat pasangan ilegal berhasil terjaring dalam operasi gabungan yang dilakukan Satpol PP Agam, pada malam pergantian tahun pada sejumlah home stay,  kawasan Maninjau Kecamatan Tanjung Raya, Kamis (1/12) dini hari.

Sebagian mereka mengaku ada­lah pasangan suami istri namun tidak bisa menunjukkan surat nikah, dan kartu tanda identitas. Pasangan tersebut diamankan pada dua tem­pat yang berbeda yaitu di home stay “Ab” dan “Tro”. Tidak seperti ope­rasi yang dilakukan sebelumnya, kali ini razia tersebut berhasil menjaring warga Agam dan Kota Bukittinggi.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Agam, Danil Devo, mengatakan, empat pasangan itu tidak bisa menunjukan surat nikahnya,  Ar (50) dan Na (40) adalah warga Agam dan Bukitinggi.

Sementara tiga pasangan lain­nya, berasal dari Pasaman Barat, yaitu,  DY (21) dengan pa­sa­ngan­nya, DR (19), kemudian IS (37) dengan pasangan ST (37), dan HD (23) berpasangan dengan IC (20). Operasi dilakukan oleh tiga tim, yang me­libatkan antara lain kepoli­sian, TNI Kebangpol, Dinas Pari­wisa­ta, pada Agam Timur dan Agam Barat.

“ Operasi gabungan pada malam pergantian tahun berjalan dengan baik dan lancar. Namun ada yang sempat menolak dibawa karena mengaku adalah pasangan suami istri. Dalam kesempatan ini kita berhasil mengamankan empat pasa­ngan ilegal,” katanya.

Menurutnya, Tim gabungan ti­dak begitu saja menerima pengakuan pasangan tersebut.  Karena tidak bisa menunjukan bukti yang kuat adalah pasangan suami istri mereka semua digelandang ke kantor Satpol PP untuk diminta keterangan lebih lanjut.

Terbakar

Lain lagi cerita di Painan. Warga sekitar yang tengah bersiap mera­yakan pergantian tahun, dibuat terpana menyusul kebakaran yang melanda mess atlet dan Paskibra di GOR H.Ilyas Yakub, Painan, Rabu (31/12) pukul 23.50 WIB.

Setidaknya, ada ribuan orang terpana menyaksikan kobaran api dari puncak Bukit Langkisau. Pan­ta­uan Haluan Kamis (1/1), bangu­nan yang biasa digunakan sebagai mess bagi pemain sepakbola dan anggota Paskibra untuk menginap itu, tidak lagi bisa digunakan. Selain dinding beton, semuanya hangus dilalap api, termasuk juga semua perabotan yang ada di dalam rua­ngan seperti lemari dan tempat tidur.

Budi Pernana (43) warga Kota Painan yang menyaksikan kobaran api menyebutkan, kobaran api terli­hat begitu cepat melalap bahan-bahan yang mudah terbakar dalam bangunan itu.

“Kebakaran terjadi bersamaan dengan detik-detik menjelang per­gantian tahun baru. Api yang terlihat mulai membesar itu diiringi suara dentuman kembang api dari ber­bagai penjuru juga terlihat di Kota Painan,” katanya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pessel, melalui Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik, Medi Suharman menjelaskan, kebakaran yang terjadi pada detik-detik men­jelang pergantian tahun itu, telah membuat warga Rawang Painan Timur panik.

“ Beruntung kebakaran itu cepat dilaporkan warga, sehingga dalam waktu singkat dua unit mobil pema­dam kebakaran dengan di bantu satu unit mobil tanki air, bisa sampai ke lokasi. (h/wan/yat/har)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM